Advertisement - Scroll ke atas
Otomotif

Binter: Merek Motor Asli Indonesia yang Pernah Menguasai Jalanan

1746
×

Binter: Merek Motor Asli Indonesia yang Pernah Menguasai Jalanan

Sebarkan artikel ini
Binter
Namanya Binter. Di era ketika kendaraan bermotor masih menjadi barang mewah dan simbol kemajuan, Binter hadir sebagai jawaban kebutuhan mobilitas bangsa yang baru tumbuh. Bukan sekadar rakitan, Binter adalah representasi keberanian industri dalam negeri melalui perusahaan Bintang Terang, sebuah nama yang kini mungkin terlupakan, namun pernah bersinar di jalanan Indonesia.

MAKASSAR—Jauh sebelum motor Jepang mendominasi pasar nasional, Indonesia pernah memiliki merek sepeda motor sendiri yang disegani. Namanya Binter. Di era ketika kendaraan bermotor masih menjadi barang mewah dan simbol kemajuan, Binter hadir sebagai jawaban kebutuhan mobilitas bangsa yang baru tumbuh.

Bukan sekadar rakitan, Binter adalah representasi keberanian industri dalam negeri melalui perusahaan Bintang Terang, sebuah nama yang kini mungkin terlupakan, namun pernah bersinar di jalanan Indonesia.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Binter merupakan singkatan dari Bintang Terang, perusahaan nasional yang berdiri pada awal dekade 1950-an. Di tengah keterbatasan teknologi dan infrastruktur pascakemerdekaan, Bintang Terang mengambil langkah besar dengan memproduksi sepeda motor untuk kebutuhan dalam negeri. Binter pun tercatat sebagai salah satu merek motor asli Indonesia pertama yang diproduksi dan dipasarkan secara luas.

Dalam pengembangannya, Binter memang bekerja sama dengan produsen Eropa, terutama Zündapp dari Jerman, untuk urusan teknologi mesin. Namun identitas Binter tetap berdiri sebagai merek Indonesia—diproduksi oleh perusahaan nasional, dirakit di dalam negeri, dan dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Di masanya, kolaborasi semacam ini merupakan strategi cerdas untuk mempercepat alih teknologi.

Nama Binter dengan cepat dikenal luas. Motor ini tak hanya digunakan masyarakat sipil, tetapi juga dipercaya oleh institusi negara. Aparat keamanan, pegawai pemerintah, hingga pekerja di wilayah perkebunan dan pertambangan menjadikan Binter sebagai kendaraan andalan. Ketangguhan mesin, rangka kokoh, dan kemudahan perawatan membuat Binter lekat dengan citra “motor pekerja keras”.

Salah satu tipe legendaris adalah Binter Merzy, motor berkapasitas besar yang dikenal tangguh di medan berat. Motor ini banyak digunakan oleh TNI dan Polri pada era 1960–1970-an.

Selain itu, terdapat Binter 201 yang populer di kalangan pengguna jarak jauh, serta Binter 100 dan Binter 125 yang lebih ramping dan praktis untuk kebutuhan harian. Ragam tipe tersebut menunjukkan keseriusan Bintang Terang dalam membangun lini produk yang lengkap.

Namun, kejayaan Binter tidak berlangsung selamanya. Memasuki akhir 1970-an, peta industri sepeda motor nasional berubah drastis. Gelombang motor Jepang mulai membanjiri pasar Indonesia dengan teknologi yang lebih modern, desain lebih segar, dan harga yang semakin terjangkau. Pabrikan Jepang juga unggul dalam hal produksi massal, efisiensi biaya, serta jaringan distribusi dan bengkel yang luas.

Di sisi lain, Binter menghadapi keterbatasan modal dan teknologi. Ketergantungan pada komponen impor, khususnya mesin dan suku cadang, membuat biaya produksi semakin tinggi.

Ketika nilai tukar dan kebijakan impor berubah, beban industri dalam negeri kian berat. Bintang Terang pun kesulitan bersaing dengan pabrikan asing yang memiliki skala produksi jauh lebih besar.

Faktor lain yang turut mempercepat meredupnya Binter adalah perubahan selera pasar. Konsumen mulai menginginkan motor yang lebih ringan, irit bahan bakar, dan minim perawatan.

Mesin dua tak berkapasitas besar yang menjadi ciri khas Binter perlahan dianggap kurang efisien. Tanpa dukungan inovasi berkelanjutan dan investasi besar, Binter akhirnya tersingkir dari etalase penjualan.

Produksi pun berhenti. Nama Binter perlahan menghilang dari jalanan, tergeser oleh merek-merek baru yang kini mendominasi pasar. Namun, hilangnya Binter dari pasaran tidak berarti lenyap dari sejarah.

Hingga kini, Binter tetap hidup di tangan para pecinta motor klasik. Komunitas-komunitas Binter di berbagai daerah masih merawat dan menghidupkan mesin-mesin tua tersebut.

Bagi mereka, Binter adalah simbol kebanggaan—penanda bahwa Indonesia pernah memiliki merek motor sendiri yang berdiri sejajar dengan produk luar negeri.

Binter adalah pengingat bahwa industri otomotif nasional pernah berani bermimpi besar. Meski tak mampu bertahan dalam kerasnya persaingan global, Binter tetap tercatat sebagai jejak awal kemandirian otomotif Indonesia. Sebuah cerita tentang Bintang Terang yang pernah menyala terang, sebelum akhirnya meredup oleh zaman. (Ag4ys)

error: Content is protected !!