MAKASSAR—Kementerian Kehutanan melalui Pusat Penyuluhan Kehutanan menggelar Foresta Showbiz 2025 di Makassar, Senin (10/11/2025).
Kegiatan ini menjadi ajang mempertemukan Kelompok Tani Hutan (KTH) dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan dengan para offtaker dan pelaku usaha kehutanan, guna memperkuat jejaring bisnis dan membuka akses pasar hasil hutan.
Sebanyak 100 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini, terdiri dari 50 anggota KTH, 30 offtaker, serta 20 perwakilan instansi pemerintah dan lembaga keuangan. Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., yang juga Koordinator Wilayah UPT Kementerian Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan.
Dalam sambutannya, Hasnawir menyebut kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam membangun kolaborasi antara petani hutan dan dunia usaha.
“Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai langkah awal menuju kemitraan nyata antara petani hutan dan offtaker,” tegasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulsel, Kasman, S.Hut., M.M., turut mengapresiasi penyelenggaraan Foresta Showbiz di Makassar. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi penguatan peran penyuluhan kehutanan sekaligus ajang memperluas jaringan usaha.
“Forum ini menjadi ajang bertukar pengalaman dan memperluas jejaring bisnis yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat hutan,” ujarnya.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan, Drh. Indra Exploitasia Semiawan, M.Si., menegaskan bahwa KTH merupakan ujung tombak pengelolaan hutan lestari. Ia menilai, potensi besar hasil hutan kayu dan nonkayu seperti madu, kopi, aren, porang, dan kerajinan bambu masih sering terhambat karena akses pasar yang terbatas.
“Foresta Showbiz hadir sebagai solusi atas keterbatasan jejaring bisnis yang dihadapi kelompok tani hutan,” jelasnya.
Melalui pameran produk dan sesi business matching, petani hutan berkesempatan menjalin interaksi langsung dengan pedagang, distributor, dan lembaga pendanaan.
Dalam sesi temu usaha, KTH mempresentasikan potensi dan kapasitas produksi mereka, sementara para offtaker memaparkan kebutuhan bahan baku serta peluang kemitraan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Dinas LHK Sulsel, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Balai DAS Jeneberang Saddang, serta bank nasional seperti Bank Mandiri, BSI, dan BRI.
Hasilnya, sebanyak 15 kerja sama bisnis berhasil dijalin antara KTH dan offtaker untuk berbagai komoditas, seperti kunyit, gula aren, kemiri, porang, kopi, furnitur, pupuk, dan cuka kayu. Total nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp42.099.000.
Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa Foresta Showbiz bukan hanya sekadar pameran, tetapi wadah membangun kepercayaan dan kemitraan konkret.
“Kegiatan ini menjadi ruang strategis mempertemukan petani hutan, pelaku usaha, dan lembaga pembiayaan menuju bisnis kehutanan yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui Foresta Showbiz 2025, Kementerian Kehutanan berharap KTH semakin mandiri, berdaya saing, dan memiliki jejaring bisnis kuat sebagai fondasi pengelolaan hutan yang lestari dan bernilai ekonomi tinggi. (70n/Ag4ys)











