Advertisement - Scroll ke atas
Makassar

Kisah Pilu Pedagang Bendera Musiman yang Terhempas Penjualan online

795
×

Kisah Pilu Pedagang Bendera Musiman yang Terhempas Penjualan online

Sebarkan artikel ini
Kisah Pilu Pedagang Bendera Musiman yang Terhempas Penjualan online
Semarak Peringatan HUT RI senantiasa dihiasi dengan maraknya pedagang musiman yang menjajakan bendera merah putih di sejumlah ruas jalan-jalan protokol.

MAKASSAR—Semarak Peringatan HUT RI senantiasa dihiasi dengan maraknya pedagang musiman yang menjajakan bendera merah putih di sejumlah ruas jalan-jalan protokol.

Namun kemeriahan tersebut, tak berbanding lurus dengan kesejahteraan para pedagang musiman yang tersebar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, terlebih saat ini era dimana belanja online menjadi favorit kebanyakan konsumen.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Hal itu sebagaimana dikeluhkan seorang pedagang bendera asal Garut Jawa Barat, bernama Cecep, yang sejak 15 Juli hingga 14 Agustus berjualan bendera merah putih dengan berbagai ukuran di Tanete, Bulukumba Sulsel.

Saat ditemui Mediasulsel.com di atas KM Dharma Feri V, ketika hendak pulang kampung ke Desa Sukaraja, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Rabu (16/8/2023), Cecep mengaku omsetnya turun drastis hingga hanya sisa sekira 25% dibanding tahun sebelumnya terhempas oleh online.

“Harga online yang di bawah harga modal kami membuat omset kami turun jauh, bahkan kami harus menjual dengan harga murah hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” tutur Cecep mengawali ceritanya.

Dari total bendera yang dia bawa senilai sekitar 45:juta, Cecep bersama 2 rekannya yang berjualan terpisah di Tanete hanya mampu meraup omset 10 juta bertiga.

“Hasil penjualan hanya bisa kami pakai untuk kebutuhan hidup selama di Tanete dan ongkos pulang ke Garut bertiga saja,” keluh Cecep yang dengan terpaksa menitipkan 3 karung benderanya ke warga Tanete untuk mengurangi biaya.

Itupun lanjut Cecep, bendera ukuran 90 x 40 cm yang biasa dijual 20 hingga 25 ribu, harus dijual dengan harga 12.500 perlembar demi memperoleh uang untuk makan sehari-hari.

“Kalo panjang umur tahun depan insha’allah saya jual kembali di situ (Tanete; red),” terang Cecep yang mengaku telah berjualan bendera di Tanete dari tahun 2014.

Cecep yang sehari- hari bekerja sebagai petani itu terpaksa pulang 1 bulan merantau tanpa hasil untuk keluarga yang ditinggalkan di kampung halamannya.

Nasib lebih baik dialami Dadang, warga Desa Cinta, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut yang sehari-hari selama 1 bulan terakhir berjualan bendera merah putih di Jl. Andalas Makassar.

Meski omsetnya tidak sampai setengah dari pencapaiannya tahun lalu, Dandang yang tahun ini membawa barang hampir senilai 30 juta mampu meraup penjualan hingga 12 juta lebih.

“Masih ada lebih setengah barang saya yang harus saya bawa pulang ke Garut,” ucap Dadang.

Namun meski omsetnya 13 Juta, komisi penjualan yang dia terima sama halnya dengan Cecep yang hanya habis untuk biaya-biaya.

“Ongkos transport Makassar Garut PP sebesar 2 juta, ditambah sewa rumah di Makassar 500 ribu sebulan, biaya hidup sehari-hari antara 50 sampai 100 ribu. Kurang lebih untuk biaya sekitar 5 juta,” rinci Dadang yang mengaku menjual dengan harga normal, tidak sampai harus banting harga seperti Cecep.

Tahun-tahun sebelumnya Dadang mengaku kalaupun ada sisa barang dagangannya yang dibawa pulang ke Garut tidak lebih dari 1 kantong.

Kondisi ini menurut Cecep maupun Dadang bukan hanya dia sendiri, namun hampir seluruh pedagang yang berasal dari kampungnya yang dikenal dengan Kampung Bendera yang saat ini menyebar ke seluruh pelosok Indonesia mengalami penurunan omset serupa

Terkait situasi itu, baik Cecep maupun Dadang berharap pedagang-pedagang kecil seperti dirinya dapat dilindungi dari ganasnya penjualan online.

“Mungkin pemerintah atau Bandar (sebutannya untuk pemilik barang) bisa membuat keseimbangan antara online dengan penjualan di lapangan langsung,” pinta Cecep yang diamini Dadang.

Meski begitu Cecep maupun Dadang mengaku bersyukur karena pemilik rumah yang dia kontrak selama ini sangat baik dan bahkan dirinya sering dikasi makan dan setiap hari diberi kopi gratis.

“Syukur saya orang sini baik-baik, bahkan saya sering dikasi makan dan kopi gratis setiap hari oleh pemilik rumah yang saya tempati. Kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan, semoga tahun depan masih ada umur untuk kembali jualan di Tanete,” pungkas Cecep. (Ag4ys)

error: Content is protected !!