Advertisement - Scroll ke atas
Wisata

Menemukan Kedamaian di Pulau Samalona, Surga Kecil di Depan Kota Makassar

1069
×

Menemukan Kedamaian di Pulau Samalona, Surga Kecil di Depan Kota Makassar

Sebarkan artikel ini
Pulau Samalona
Pulau Samalona

MAKASSAR—Hanya 30 menit berlayar dari Kota Makassar, Pulau Samalona menyambut dengan pasir putih selembut tepung dan air laut sejernih kaca. Di sinilah waktu terasa berjalan lambat, dan semua kebisingan kota seolah hilang bersama angin laut yang berhembus pelan.

Perjalanan menuju Samalona dimulai dari dermaga kecil di Pantai Losari atau Pelabuhan Paotere. Kapal kayu bermesin kecil menunggu di tepi, dikendalikan para nelayan yang kini juga menjadi pemandu wisata.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Suara mesin kapal berpadu dengan riak ombak menjadi irama pembuka menuju ketenangan. Di kejauhan, pulau kecil itu tampak seperti titik hijau di tengah birunya laut Selat Makassar.

Butuh waktu sekitar 25 hingga 30 menit untuk mencapai Samalona. Sepanjang perjalanan, pandangan dimanjakan laut yang bergradasi dari biru tua hingga toska.

Sesekali tampak kapal nelayan melintas, burung camar menukik di atas air, dan angin asin yang menepuk lembut wajah. Begitu kapal merapat, pasir putih Samalona yang halus seolah mengundang setiap langkah untuk menjejak.

Pulau ini mungil, luasnya tak lebih dari tujuh hektare. Dalam hitungan menit, pengunjung bisa mengitari seluruh daratannya. Namun meski kecil, Samalona menawarkan keindahan yang besar.

Pohon kelapa tumbuh berjajar, memberi teduh di antara pondok-pondok sederhana yang disewakan warga setempat. Di sisi lain, air laut yang jernih memantulkan bayangan langit biru yang seakan tanpa batas.

Aktivitas paling digemari di Samalona tentu saja snorkeling. Tak jauh dari bibir pantai, terumbu karang yang berwarna-warni menanti untuk dijelajahi. Ikan-ikan kecil berenang bebas di sela karang, menari di bawah sinar matahari yang menembus air laut sebening kaca.

“Di sini karangnya masih bagus. Banyak wisatawan datang hanya untuk snorkeling atau diving,” kata Daeng Baso, salah satu pemilik perahu yang juga menyewakan alat selam sederhana kepada pengunjung.

Menurutnya, Samalona menjadi tujuan favorit wisatawan lokal dan mancanegara karena keindahan bawah lautnya yang mudah dijangkau dari kota.

“Dari Losari tidak jauh, tapi suasananya beda sekali. Di sini tenang, tidak ada bising kendaraan. Orang datang untuk lepas penat,” tambahnya.

Selain menyelam, banyak wisatawan memilih duduk santai di tepi pantai, menikmati kelapa muda sambil menunggu senja. Saat matahari mulai turun, langit Samalona berubah menjadi kanvas jingga keemasan.

Pantulan cahaya di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menenangkan, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi kedamaian.

Seorang pedagang kelapa muda yang telah sepuluh tahun menetap di pulau ini, mengaku Samalona kini menjadi tempat mencari rezeki sekaligus rumah bagi banyak kenangan.

“Setiap hari ada orang datang, ada yang cuma ingin berfoto, ada juga yang memang ingin tenang. Kalau sore begini, banyak yang diam saja lihat matahari tenggelam,” ujarnya dengan senyum hangat.

Suasana sore di Samalona memang memiliki pesona tersendiri. Suara tawa anak-anak yang bermain di pantai, aroma ikan bakar dari warung sederhana, serta desir angin laut yang menembus pohon kelapa menciptakan harmoni yang sulit ditemukan di tengah kota.

Bagi banyak orang, Samalona bukan sekadar destinasi wisata, tapi juga tempat untuk menemukan kembali keseimbangan batin. Di pulau kecil ini, tak ada jaringan internet yang stabil, tak ada kebisingan kendaraan, hanya deburan ombak dan kicauan burung yang menemani.

Setiap hembusan angin seperti membawa pesan bahwa ketenangan sejati kadang berada tak jauh dari keramaian, hanya perlu keberanian untuk menepi sejenak.

Menjelang malam, saat kapal terakhir bersiap kembali ke Makassar, pulau kecil itu mulai diselimuti temaram. Dari kejauhan, cahaya lampu kota terlihat redup di garis cakrawala.

Di balik kesederhanaannya, Samalona mengajarkan satu hal: bahwa keindahan sejati tidak selalu ditemukan di tempat jauh, kadang ia berada begitu dekat, hanya 30 menit dari hiruk pikuk kehidupan, menunggu untuk ditemukan. (Ag4ys)

Menemukan Kedamaian di Pulau Samalona, Surga Kecil di Depan Kota Makassar
Pulau Samalona
error: Content is protected !!