Advertisement - Scroll ke atas
Otomotif

Mengapa Mobil Jepang Kuasai Pasar Indonesia, Sedangkan Eropa dan Amerika Tertinggal

1227
×

Mengapa Mobil Jepang Kuasai Pasar Indonesia, Sedangkan Eropa dan Amerika Tertinggal

Sebarkan artikel ini
Mengapa Mobil Jepang Kuasai Pasar Indonesia, Sedangkan Eropa dan Amerika Tertinggal
Persaingan industri otomotif di Indonesia sudah lama dikuasai mobil-mobil asal Jepang. Nama besar seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki begitu melekat di hati konsumen, sementara mobil-mobil Eropa maupun Amerika relatif sulit menembus pasar secara luas.

MAKASSAR—Persaingan industri otomotif di Indonesia sudah lama dikuasai mobil-mobil asal Jepang. Nama besar seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki begitu melekat di hati konsumen, sementara mobil-mobil Eropa maupun Amerika relatif sulit menembus pasar secara luas.

Ada beberapa alasan utama kenapa mobil Jepang lebih diterima masyarakat. Pertama, harga yang lebih terjangkau. Konsumen Indonesia cenderung mencari mobil dengan banderol yang ramah kantong namun tetap handal. Contohnya, Toyota Avanza atau Honda Brio jauh lebih murah dibandingkan mobil Eropa sekelas Volkswagen Polo atau Mercedes-Benz A-Class.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kedua, biaya perawatan. Suku cadang mobil Jepang mudah ditemui hingga ke pelosok daerah, dengan harga yang relatif murah. Sebaliknya, onderdil mobil Eropa dan Amerika cenderung lebih mahal serta sulit didapat. Hal ini membuat pemilik mobil sering mengeluh saat perbaikan.

Ketiga, ketahanan dan konsumsi bahan bakar. Mobil Jepang dikenal irit dan tahan banting, cocok dengan kondisi jalan di Indonesia. Sebagai contoh, Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner lebih dipercaya konsumen ketimbang Ford Everest atau Chevrolet Trailblazer yang akhirnya tak lagi dipasarkan secara resmi di Indonesia.

Selain itu, jaringan bengkel resmi dan layanan purna jual yang luas membuat mobil Jepang semakin unggul. Toyota dan Honda memiliki jaringan servis hingga ke kota kecil, sementara brand Eropa dan Amerika biasanya hanya tersedia di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya.

Meski begitu, mobil Eropa tetap punya daya tarik tersendiri di kelas premium. Merek seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Audi masih diminati kalangan atas karena citra mewah dan teknologi canggih yang ditawarkan. Namun, secara pasar massal, dominasi mobil Jepang masih belum tergoyahkan.

Dengan kombinasi harga, ketersediaan spare part, layanan purna jual, serta efisiensi bahan bakar, mobil Jepang terus menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Tidak heran jika hingga kini, mobil Jepang masih menguasai jalanan dari kota hingga desa.

Menurut data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang tahun 2024, Toyota (termasuk Lexus) menguasai 33,7 % pasar nasional, dengan penjualan mencapai 291.566 unit. Di posisi kedua, Daihatsu turut menyumbang 18–19 % pangsa pasar melalui 163.032 unit penjualan.

Dominasi ini berlanjut hingga semester pertama 2025, saat Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki bersama-sama mengantongi lebih dari 75 % pangsa pasar, menjadikan kehadiran mereka nyaris mutlak di pasar otomotif Indonesia. Faktanya, dalam periode Januari–Juni 2025 saja, Toyota mencapai 32,5 %, Daihatsu 17,1 %, dan Honda 10 %.

Namun, dominasi pasar ini tidak kebal terhadap gelombang baru yang datang dari merek mobil listrik asal China. BYD, khususnya, mendulang pangsa pasar 4,5 % pada Maret 2025—lebih tinggi dari banyak merek Eropa dan sedang mengejar empat besar.

Selama kuartal I 2025, pertumbuhan penjualan mobil China melonjak tajam, mencapai 10 % pangsa pasar, naik dari hanya 3,8 % di tahun sebelumnya. Data Reuters mengonfirmasi, peningkatan ini didorong oleh kendaraan listrik yang lebih murah dan didukung insentif pemerintah, sehingga mendorong penjualan mobil nasional naik 2,2 % pada Februari 2025—pertumbuhan pertama sejak pertengahan 2023.

Dari sisi praktik, tren ini menandai pergeseran selera konsumen menuju teknologi baru yang efisien dan terjangkau—sesuatu yang mulai mengikis dominasi mobil konvensional Jepang di pasar massal. Meskipun kualitas dan jaringan purna jual mobil Jepang masih sulit disaingi, konsumen kini punya pilihan lain yang mulai ramah harga dan futuristik. (Ag4ys)

error: Content is protected !!
⚠ Cuaca Ekstrem Sulsel