MAKASSAR—Motor trail, yang dulu identik dengan medan berat dan hutan rimba, kini menjelma menjadi simbol gaya hidup dan adrenalin. Di balik popularitasnya yang makin menggeliat, ada sejarah panjang dan jejak pionir yang tak bisa dilewatkan.
Motor trail mulai dikenal di Indonesia pada era 1970-an, saat pabrikan motor seperti Yamaha dan Honda mulai memperkenalkan varian offroad untuk pasar domestik. Salah satu pionir yang paling diingat adalah Honda XL125, motor trail klasik yang tangguh di segala medan dan menjadi buruan para penghobi adventure pada masanya. Disusul kemudian oleh Yamaha DT100 dan DT125, yang dikenal lincah dan cocok untuk pemula.
Kawasaki pun tak tinggal diam. Di era 1980-an, pabrikan hijau ini menghadirkan Kawasaki KE125 dan KMX125, motor trail 2-tak yang cukup populer di kalangan pecinta offroad. Ringan, bertenaga, dan mudah dimodifikasi, membuat motor-motor ini menjadi favorit hingga ke pelosok daerah. Bahkan, beberapa varian seperti KMX hingga kini masih dicari oleh para kolektor dan penggemar trail klasik.
Memasuki dekade 1990-an, motor trail mulai mendapat tempat di kalangan pecinta otomotif, terutama di daerah-daerah yang kaya akan medan alam seperti Jawa Barat, Sumatera, dan Sulawesi. Komunitas-komunitas trail pun bermunculan, menyatukan para petualang dengan semangat “menaklukkan alam tanpa merusaknya.”
Titik balik sebenarnya terjadi pada awal 2000-an ketika Kawasaki meluncurkan KLX series—dimulai dari KLX150, KLX250 hingga KLX230—yang diproduksi secara massal dan dipasarkan luas. Harga yang kompetitif, perawatan mudah, dan desain yang makin modern membuat motor trail menjangkau pasar yang lebih luas. Dari anak muda kota hingga petani di desa pegunungan, semua melihat KLX sebagai kendaraan multifungsi.
Tak hanya Kawasaki, Honda pun kembali menggebrak dengan meluncurkan seri CRF yang menjadi primadona baru. Dimulai dari CRF150L untuk pemula dan pengguna harian, hingga CRF250Rally dan CRF450RL untuk pengendara profesional dan penjelajah alam serius. Seri CRF dikenal dengan performa stabil, suspensi mantap, dan desain yang mengadopsi DNA motor balap dunia.
Di sisi lain, muncul pula brand-brand Eropa dan Jepang seperti KTM, Husqvarna, dan Suzuki DR yang mengisi segmen premium. Event-event balap trail seperti grasstrack, motocross, hingga adventure trail lintas alam mulai digelar rutin di berbagai daerah, menjadi wadah uji nyali sekaligus ajang silaturahmi sesama rider.
Perjalanan motor trail di Indonesia tak lepas dari peran komunitas. Forum seperti Trail Adventure Community (TAC), Jelajah Alam Bebas (JAB), hingga klub lokal seperti Makassar Trail Community menjadi motor penggerak yang menjaga nyala semangat trail hingga kini.
Kini, motor trail bukan sekadar kendaraan offroad. Ia telah menjadi simbol kebebasan, gaya hidup, bahkan alat eksplorasi wisata lokal. Banyak daerah wisata di Indonesia—dari pegunungan Toraja, lereng Bromo, hingga belantara Kalimantan—yang kini jadi rute favorit para rider.
Dari hobi pinggiran hingga budaya pop, motor trail menunjukkan bahwa keberanian, persaudaraan, dan cinta alam bisa hidup dalam deru mesin dua roda. (Ag4ys)


















