Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Opini

Partisipasi Politik Pemuda: Sekadar Pemilih atau Agen Perubahan?

649
×

Partisipasi Politik Pemuda: Sekadar Pemilih atau Agen Perubahan?

Sebarkan artikel ini
Partisipasi Politik Pemuda: Sekadar Pemilih atau Agen Perubahan?
ILUSTRASI

OPINI—Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar menjalankan program “KPU Mengajar” di sejumlah sekolah sebagai upaya membekali pemilih pemula dengan pemahaman demokrasi. Program ini diklaim bertujuan membangun kesadaran politik generasi muda agar mampu berpartisipasi secara kritis dan rasional dalam pemilu.

Sekilas, langkah ini tampak sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan demokrasi. Pendidikan politik sejak dini memang penting untuk mencegah apatisme dan membentuk generasi yang peduli terhadap urusan publik.

Namun, pertanyaan mendasar perlu diajukan: kesadaran politik seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun? Apakah pemuda sedang dipersiapkan menjadi agen perubahan, atau sekadar diposisikan sebagai pemilih rutin yang mengulang siklus lima tahunan?

Reduksi Makna Partisipasi Politik

Dalam praktik demokrasi modern, partisipasi politik pemuda kerap direduksi menjadi aktivitas prosedural: datang ke TPS, mencoblos, lalu selesai. Seolah-olah tanggung jawab politik berakhir saat surat suara masuk ke kotak pemilu. Politik dipersempit menjadi ritual elektoral, bukan ruang perjuangan gagasan dan arah peradaban.

Demokrasi dipromosikan sebagai mekanisme perubahan. Namun realitas sering menunjukkan ironi. Pemuda didorong aktif saat pemilu, tetapi ruang kritik justru menyempit setelah kekuasaan terbentuk. Suara kritis dianggap ancaman stabilitas. Sikap independen dicurigai sebagai gangguan. Akibatnya, partisipasi berubah menjadi formalitas, kehilangan substansi sebagai alat kontrol terhadap kekuasaan.

Lebih jauh, energi dan idealisme pemuda kerap dimanfaatkan sebagai komoditas politik. Mereka dirangkul saat dibutuhkan, tetapi diabaikan ketika kepentingan telah tercapai. Pemuda menjadi objek mobilisasi, bukan subjek perubahan. Demokrasi berjalan secara prosedural, namun gagal menjawab persoalan mendasar seperti ketimpangan, korupsi, dan kebijakan yang jauh dari kepentingan rakyat.

Situasi ini menimbulkan kegelisahan yang tak bisa diabaikan: apakah pendidikan politik benar-benar membentuk kesadaran kritis, atau justru menormalisasi kepatuhan terhadap sistem tanpa ruang koreksi?

Politik dalam Perspektif Islam: Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Kontestasi

Islam memandang politik secara fundamental berbeda. Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan atau kompetisi suara mayoritas, melainkan tanggung jawab mengurus urusan umat berdasarkan syariat. Politik adalah instrumen untuk menegakkan keadilan, menjamin kesejahteraan, dan menjaga kemaslahatan manusia sesuai tuntunan wahyu.

Dalam kerangka ini, pemuda memegang posisi strategis. Mereka bukan sekadar generasi penerus, tetapi penggerak perubahan. Sejarah Islam mencatat bagaimana pemuda menjadi pelopor dakwah, penjaga kebenaran, dan pengoreksi kekuasaan yang menyimpang.

Pemuda Islam tidak boleh terjebak dalam politik pragmatis yang transaksional. Mereka dituntut memiliki fondasi pemikiran yang kokoh agar mampu membedakan antara perjuangan ideologis dan sekadar perebutan jabatan. Tanpa landasan ini, politik akan kehilangan arah dan terjebak dalam logika menang-kalah, bukan benar-salah.

Kesadaran politik Islam menempatkan pemuda sebagai subjek aktif. Mereka mengkaji, mengkritisi, dan menawarkan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam. Mereka menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, bukan sekadar mengikuti arus. Politik, dalam makna ini, adalah perjuangan intelektual dan moral, bukan sekadar aktivitas elektoral.

Dari Pemilih Menjadi Pengubah Sejarah

Perubahan tidak lahir dari kepatuhan, tetapi dari kesadaran. Tidak lahir dari rutinitas, tetapi dari keberanian berpikir. Sejarah peradaban menunjukkan bahwa kebangkitan selalu dimulai dari generasi muda yang memahami perannya.

Pemuda tidak diciptakan untuk menjadi penonton, apalagi sekadar angka statistik dalam pemilu. Mereka adalah kekuatan moral dan intelektual yang menentukan arah masa depan. Ketika pemuda memahami hakikat politik sebagai bagian dari tanggung jawab peradaban, mereka tidak lagi mudah dimanipulasi oleh janji, propaganda, atau euforia sesaat.

Partisipasi politik sejati bukan sekadar mencoblos, tetapi memastikan keadilan ditegakkan. Bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi memastikan kepemimpinan berjalan di atas kebenaran. Bukan sekadar hadir dalam sistem, tetapi berani mengoreksi ketika sistem menyimpang.

Di titik inilah pemuda menemukan peran historisnya: bukan sebagai pengikut arus, tetapi sebagai penentu arah. Bukan sebagai objek politik, tetapi sebagai agen perubahan. (*)

Wallahu’alam bis shawab.


Penulis:
Ria Mufira Hamzah
(Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com