Advertisement - Scroll ke atas
Otomotif

Suzuki GP 125, Motor Legendaris yang Masih Dicari Penggemar di Tanah Air

2074
×

Suzuki GP 125, Motor Legendaris yang Masih Dicari Penggemar di Tanah Air

Sebarkan artikel ini
Suzuki GP 125, Motor Legendaris yang Masih Dicari Penggemar di Tanah Air
Suzuki GP 125 masih punya tempat tersendiri di hati para pecinta motor klasik Indonesia. Motor ini bukan sekadar kendaraan, tapi saksi perjalanan zaman yang membawa cerita dari era 1980-an.

MAKASSAR—Di tengah gempuran motor-motor modern dengan teknologi injeksi dan desain futuristik, nama Suzuki GP 125 masih punya tempat tersendiri di hati para pecinta motor klasik Indonesia. Motor ini bukan sekadar kendaraan, tapi saksi perjalanan zaman yang membawa cerita dari era 1980-an.

Suzuki GP 125 pertama kali masuk pasar Indonesia pada awal 1980-an melalui PT Suzuki Indomobil Sales. Motor ini dirancang sebagai motor sport entry level dengan gaya ramping, tangki yang tegas, dan suara knalpot dua tak yang khas. Di masa itu, motor ini jadi pilihan favorit anak muda karena tampilannya yang sporty dan tenaga mesinnya yang tangguh di kelasnya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Dengan mesin 2-tak berkapasitas 123 cc, Suzuki GP 125 mampu menghasilkan tenaga sekitar 14 PS pada 8.000 rpm dan torsi maksimum 12,7 Nm pada 7.500 rpm. Sistem pendingin masih menggunakan udara (air-cooled), dan pengapian menggunakan sistem CDI.

Motor ini dibekali transmisi manual 5 percepatan, dengan pola perpindahan 1-N-2-3-4-5, yang memberikan pengalaman berkendara lebih agresif dan presisi, sangat disukai pengendara yang senang merasakan “feel” sport di jalan raya. Sistem bahan bakar masih mengandalkan karburator, yang umum digunakan pada motor-motor era 80-an.

Di masa jayanya, Suzuki GP 125 menjadi pesaing kuat Yamaha RX-King dan Honda GL Series. Bagi kalangan pelajar dan pegawai muda, motor ini merupakan simbol kebanggaan. Desain klasik dengan striping khas, serta suara knalpotnya yang meraung, membuat siapa pun yang mengendarainya tampil lebih percaya diri.

Tak hanya di kota, motor ini juga merambah ke pelosok desa. Mesinnya dikenal bandel, mudah diservis, dan suku cadangnya saat itu cukup melimpah.

Memasuki era 90-an, motor 2-tak mulai ditinggalkan karena regulasi emisi yang makin ketat dan kehadiran motor 4-tak yang lebih irit bahan bakar. Suzuki pun menghentikan produksi GP 125. Namun, bukan berarti motor ini hilang begitu saja.

Hingga kini, Suzuki GP 125 masih banyak ditemukan di komunitas pecinta motor klasik. Beberapa penggemar bahkan rela merestorasi total motor ini, berburu suku cadang langka, dan mempertahankan orisinalitasnya. Di sejumlah kota seperti Makassar, Bandung, dan Yogyakarta, komunitas GP 125 tetap aktif dan rutin menggelar touring maupun kopi darat.

“GP 125 ini punya nilai sejarah dan kenangan. Bagi kami, bukan cuma motor, tapi bagian dari gaya hidup,” ujar Arif, salah satu pecinta motor klasik.

Seiring waktu, populasi GP 125 makin menyusut. Banyak yang sudah berkarat, dibengkalai, atau bahkan dijual kiloan. Namun di pasar motor bekas, harga unit yang masih mulus bisa tembus belasan hingga puluhan juta rupiah, tergantung orisinalitas dan kondisi.

Restorasi motor ini kini jadi tren di kalangan kolektor. Permintaan suku cadang seperti blok mesin, CDI, atau tangki asli pun meningkat, meski harganya tidak murah. Beberapa bengkel spesialis 2-tak bahkan mulai memproduksi ulang parts untuk memenuhi permintaan pasar.

Suzuki GP 125 bukan sekadar motor lawas. Ia adalah representasi romantisme otomotif masa lalu, saat suara raungan mesin dua tak masih mendominasi jalanan. Di tengah modernisasi industri roda dua, motor ini membuktikan bahwa legenda tak pernah benar-benar mati.

Suzuki GP 125 tetap hidup — di hati para penggemarnya, di bengkel-bengkel restorasi, dan di jalan-jalan nostalgia yang masih mereka lintasi hingga hari ini. (Ag4ys)

error: Content is protected !!
⚠ Cuaca Ekstrem Sulsel