Advertisement - Scroll ke atas
Maros

Drainase Tak Maksimal, MA JII Bantimurung Langganan Banjir Tahunan

10431
×

Drainase Tak Maksimal, MA JII Bantimurung Langganan Banjir Tahunan

Sebarkan artikel ini
MA JII Bantimurung Langganan Banjir Tahunan
Madrasah Aliyah (MA) JII Bantimurung langganan banjir tahunan.

MAROS—Hujan deras yang melanda Kabupaten Maros dalam dua hari terakhir telah menyebabkan sejumlah wilayah di daerah tersebut mengalami banjir.

Salah satu wilayah yang terdampak banjir adalah Madrasah Aliyah Jam’iyatul Ittihad wal Irsyad (MA JII) Bantimurung yang berlokasi di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Pada Jumat 27 Januari 2017, kawasan sekolah ini kembali digenangi air hingga setinggi pinggang orang dewasa, mengakibatkan terganggunya kegiatan proses belajar-mengajar.

Sekolah yang pernah meraih juara kedua dalam ajang lomba film pendek ini, telah lama menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba. Bukan hanya kawasan sekolah yang terendam, tetapi sejumlah rumah warga di sekitar Jenetaesa juga mengalami genangan air yang cukup tinggi.

MA JII Bantimurung terletak di Jalan Poros Makassar-Bone Km 42, tepatnya di belakang kantor Desa Jenetaesa. Letaknya yang berada di dataran rendah serta dikelilingi pegunungan menjadi faktor penyebab utama terjadinya banjir.

Kepala MA JII Bantimurung, Siti Hadija SP menjelaskan, banjir tahunan ini sebagian besar disebabkan oleh tidak maksimalnya sistem drainase di sekitar kawasan sekolah, terutama saluran induk di tepi Jalan Poros Jenetaesa.

“Jadi masalah utamanya adalah saluran drainase yang kurang memadai di sekitar sekolah, terutama saluran induk di tepi jalan Poros Desa Jenetaesa. Kami berharap agar pemerintah Kabupaten Maros segera memperbaiki saluran induk ini agar air bisa langsung mengalir ke sungai,” ujar Siti Hadija SP kepada Mediasulsel.com.

Meskipun diterpa banjir tahunan, semangat siswa dan guru MA JII Bantimurung dalam proses belajar mengajar tidak surut. Selama air tidak memasuki ruang kelas, kegiatan pembelajaran tetap dilanjutkan.

Namun, ketika banjir mulai surut, para siswa harus membersihkan ruang kelas yang kotor akibat sisa-sisa lumpur akibat genangan air, sehingga proses belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan maksimal.

“Selama genangan tidak masuk ke ruang kelas, pembelajaran tetap berlangsung. Jika banjir datang, kami tetap berusaha melanjutkan kegiatan belajar agar tidak terganggu, meskipun sering harus melakukan pembersihan setelah air surut,” tambah Siti Hadija SP.

Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya peningkatan infrastruktur drainase di wilayah Jenetaesa, terutama saluran induk yang dapat mengarahkan air ke sungai agar banjir tahunan dapat diminimalisir. (*)

error: Content is protected !!