Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Opini

Toleransi Sekuler vs Toleransi Islam, Harmonis Mana?

535
×

Toleransi Sekuler vs Toleransi Islam, Harmonis Mana?

Sebarkan artikel ini
Toleransi
ILUSTRASI

OPINI—Menjelang perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), seruan toleransi kembali menggema. Berbagai pihak, mulai dari Menteri Agama hingga kepala daerah, mengajak masyarakat untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama dan saling menghormati perayaan keagamaan masing-masing.

Namun, kampanye toleransi yang begitu masif ini, khususnya menjelang Nataru, memunculkan pertanyaan: apakah pemahaman toleransi yang dipromosikan saat ini sejalan dengan ajaran Islam?

Terkesan bahwa standar toleransi diukur dari seberapa jauh umat Muslim berpartisipasi dalam perayaan agama lain, khususnya Nataru. Umat Muslim yang mengucapkan “selamat Natal,” menggunakan atribut Natal, atau ikut serta dalam perayaan dianggap “toleran.”

Sebaliknya, mereka yang tetap pada keyakinannya dan tidak melakukan hal serupa dicap “intoleran.” Paradigma ini merupakan buah dari penerapan sistem sekuler liberalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga makna toleransi bergeser jauh dari konsep yang diajarkan Islam.

Toleransi versi sekuler membolehkan umat Muslim mengucapkan selamat hari raya agama lain, sebuah praktik yang jelas ditolak oleh Allah dan Rasul-Nya. Kisah penolakan Rasulullah terhadap tawaran kompromi kaum Quraisy dalam menyembah Tuhan secara bergantian, yang diabadikan dalam Surah Al-Kafirun, menjadi bukti tegas.

Para ulama, termasuk Ibnu Qayyim, juga berpendapat bahwa ucapan selamat pada perayaan agama lain merupakan bentuk persetujuan terhadap syiar kekufuran, yang bertentangan dengan akidah Islam.

Namun, kampanye moderasi yang gencar ditanamkan melalui berbagai aspek kehidupan telah mengaburkan pemahaman umat Islam tentang toleransi yang sesuai syariat. Banyak yang terpapar pluralisme, menganggap semua agama benar, dan kebablasan dalam bertoleransi.

Negara pun terkesan abai dalam menjaga akidah umat, bahkan mencampuradukkan ajaran Islam dengan keyakinan lain atas nama toleransi.

Padahal, toleransi dalam Islam bukanlah mengikuti keyakinan orang lain. Toleransi adalah meyakini keyakinan sendiri dan membiarkan umat lain melaksanakan ibadahnya sesuai keyakinan mereka, tanpa paksaan.

Islam tidak memaksa non-Muslim untuk memeluk Islam, tetapi mengajak dengan dakwah. Jika mereka menolak, mereka dibiarkan dengan keyakinannya. Toleransi juga tidak boleh mengurangi keyakinan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin yang harus diterapkan secara kaffah.

Meski demikian, Islam membolehkan muamalah, seperti jual beli dan pinjam meminjam, dengan non-Muslim. Islam juga memerintahkan untuk berbuat baik dan adil terhadap mereka. Inilah toleransi yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang mampu menjaga kemurnian akidah Islam dari pengaruh ide-ide asing.

Sejarah mencatat bahwa toleransi dan kerukunan umat beragama bukanlah utopia. Selama kurang lebih 13 abad, umat Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan dengan damai di bawah naungan toleransi yang sesuai syariat Islam. Ini membuktikan bahwa toleransi yang benar justru menciptakan harmoni yang langgeng, berbeda dengan toleransi sekuler yang berpotensi menggerus akidah. (*)

 

Penulis: Riska Iskandar

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!