Advertisement - Scroll ke atas
News

Wakil Bupati Barru Buka Sosialisasi Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung

476
×

Wakil Bupati Barru Buka Sosialisasi Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR—Wakil Bupati Barru, Abustan, didaulat membuka kegiatan sosialisasi Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung Ma’rupanne di Hotel Harper Makassar, Rabu (26/2/2025).

“Alhamdulillah, hari ini saya hadir untuk mengikuti sosialisasi pertama sejak dilantik sebagai wakil bupati. Saya mewakili Bupati Barru yang saat ini tengah mengikuti retret di Magelang bersama kepala daerah lainnya. Suatu kebanggaan bagi saya dapat mewakili kita semua untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan ini,” ujar Abustan dalam sambutannya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel dan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah mengusulkan sekitar 723 ribu hektare area untuk dijadikan Cagar Biosfer.

Upaya ini bertujuan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati serta mengharmonisasikan konservasi dengan pembangunan sosial, ekonomi, dan ilmu pengetahuan.

“Keberadaan Cagar Biosfer sangat strategis, tidak hanya dalam perlindungan dan pelestarian alam, tetapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Abustan menyoroti pentingnya implementasi tiga zona utama Cagar Biosfer, yang jika dijalankan optimal, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di pesisir hutan.

“Saya pernah membaca sebuah buku dari Korea yang menekankan pentingnya pertanian dan kehutanan berbasis organik. Di hutan, tanah subur dengan sumber hara alami dapat meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan,” paparnya.

Ia juga menyoroti kondisi hutan di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Barru yang memiliki luas 1.174,720 km² atau 117 ribu hektare, di mana 68% termasuk kawasan hutan lindung. Namun, kurang dari 50% wilayah tersebut masih memiliki pohon.

“Jika kita tidak menjaga hutan sekarang, dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, Indonesia bisa kehilangan hingga 75% hutannya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan permukaan air laut saat ini mencapai 1,4 cm per tahun. Dengan fakta bahwa satu pohon berusia di atas 25 tahun mampu menyerap 25 liter air hujan, penebangan satu juta pohon akan mengakibatkan hilangnya 25 juta liter air yang seharusnya terserap di hutan.

Abustan menegaskan bahwa status Cagar Biosfer membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional.

“Kolaborasi lebih dari sekadar kerja sama. Kita perlu duduk bersama, berdiskusi, dan membangun konsensus. Peran NGO, pemerintah, masyarakat sekitar hutan, serta perguruan tinggi harus jelas agar upaya konservasi ini bisa berjalan efektif,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Abustan juga menyinggung komitmen Pemprov Sulsel dalam pengelolaan Cagar Biosfer, serta pembagian peran empat kabupaten terkait, yaitu Barru, Maros, Pangkep, dan Bone.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan seluruh pihak dapat bekerja sama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan. (Ag4ys/4dv)

error: Content is protected !!