MAKASSAR—Di tengah gempuran motor-motor modern berteknologi tinggi, motor CB tetap punya tempat spesial di hati penggemarnya. Bukan sekadar alat transportasi, Honda CB adalah ikon jalanan yang melintasi zaman dan generasi.
Motor CB pertama kali lahir di Jepang pada akhir 1950-an. Model awal seperti Honda CB92 menjadi pelopor motor sport ringan. Namun, puncak kejayaan CB terjadi saat Honda merilis CB750 pada 1969, yang dikenal luas sebagai “superbike pertama di dunia”.
Di Indonesia, Honda CB mulai masuk sekitar awal 1970-an. Varian pertama yang banyak beredar adalah Honda CB100, bermesin 99cc. Motor ini langsung digemari karena desainnya yang sporty, irit bahan bakar, dan mudah perawatan. Pada masa itu, memiliki CB100 adalah kebanggaan tersendiri.
Tak lama kemudian, hadir CB125 yang menawarkan performa lebih bertenaga. CB125 banyak digunakan oleh instansi pemerintah dan aparat keamanan karena keandalan dan kenyamanannya.
Menjelang akhir 1970-an, Honda memperkenalkan CB175 dan CB200 ke pasar Indonesia. Kedua motor ini menggunakan mesin dua silinder paralel, menghasilkan suara yang khas dan performa lebih halus. Meski lebih mahal dan boros dibanding CB100, CB175 dan CB200 tetap digemari oleh kalangan tertentu, terutama pecinta kecepatan dan touring.
Seiring waktu, produksi dan distribusi CB klasik di Indonesia mulai berkurang. Namun, bukannya punah, justru komunitas pengguna dan penggemar CB klasik semakin tumbuh. Motor-motor tua ini dirawat, dimodifikasi, bahkan direstorasi menjadi gaya café racer, chopper, atau scrambler.
Fenomena ini menjadikan CB sebagai simbol gaya hidup. Tak hanya soal mesin, tapi juga soal selera, kreativitas, dan solidaritas. Komunitas CB bisa ditemukan di hampir semua kota besar di Indonesia, dari Makassar hingga Medan.
Memasuki era modern, Honda tetap mempertahankan nama CB dalam lini produk mereka. Pada 2012, Honda merilis CB150R StreetFire, motor sport berteknologi injeksi dengan tampilan agresif. Disusul pada 2013 oleh Verza, yang kemudian berganti nama menjadi CB150 Verza pada 2018, menyasar segmen retro-modern.
Meski tampil berbeda, keduanya tetap mengusung semangat CB: tangguh, praktis, dan siap melibas jalanan.
Kini, CB bukan hanya motor tua yang disukai kalangan tertentu. Ia telah menjelma menjadi warisan budaya otomotif Indonesia. Dari karburator ke injeksi, dari knalpot berasap ke mesin ramah lingkungan—nama CB tetap bertahan, bahkan terus tumbuh.
“Motor CB itu bukan soal kecepatan, tapi soal cerita,” ujar Deni, anggota komunitas CB Makassar. “Setiap suara mesinnya, setiap lecet di tangkinya, semua punya kenangan.”
CB bukan hanya motor. Ia adalah saksi perjalanan zaman. (Ag4ys)
Sumber: Dokumentasi Komunitas CB Indonesia, Arsip Honda Global













