MAKASSAR—Sebelum era mobil keluarga modern seperti Toyota Avanza atau Mitsubishi Xpander menguasai jalanan, ada satu nama yang lebih dulu mengisi segmen tersebut: Daihatsu Taruna. Mobil ini menjadi pionir dalam membentuk persepsi masyarakat Indonesia tentang kendaraan keluarga yang tangguh, terjangkau, dan multifungsi.
Dirilis pertama kali pada tahun 1999, Taruna hadir sebagai jawaban Daihatsu atas kebutuhan keluarga Indonesia akan kendaraan serbaguna. Dengan desain yang kokoh dan ground clearance tinggi, Taruna menawarkan kombinasi antara ketangguhan SUV dan kenyamanan MPV, menjadikannya salah satu pelopor dalam kategori yang kemudian dikenal sebagai Low SUV atau MPV rasa SUV.
Taruna lahir dari platform yang sama dengan Daihatsu Feroza, namun dengan pendekatan yang berbeda. Jika Feroza lebih mengedepankan ketangguhan off-road, Taruna justru dirancang sebagai kendaraan 7-penumpang yang cocok untuk keluarga. Pilihan ini terbukti tepat, mengingat kebutuhan akan kendaraan keluarga yang bisa melibas berbagai kondisi jalan Indonesia semakin tinggi saat itu.
Daihatsu menggandeng Astra Daihatsu Motor dalam produksi lokal Taruna, menjadikannya mobil nasional yang punya nilai jual kuat di pasar domestik. Tak heran jika Taruna kerap disebut sebagai mobil “serba bisa”, karena cocok digunakan di kota maupun daerah terpencil.
Seiring waktu, Taruna hadir dalam beberapa varian seperti C-Series (short wheelbase) dan F-Series (long wheelbase). Mobil ini juga menggunakan mesin 1.5 liter karburator dan injeksi, serta transmisi manual yang terkenal tangguh. Versi facelift sempat dirilis pada awal 2000-an dengan desain lampu depan dan belakang yang lebih modern.
Meski dimensinya tak sebesar MPV modern saat ini, kelebihan Taruna terletak pada ketangguhan suspensi, kabin lega, dan biaya perawatan yang relatif murah. Tak sedikit keluarga yang mempercayakan kendaraan sehari-hari mereka pada Taruna, terutama di wilayah perbukitan dan pedesaan.
Tak bisa dipungkiri, kesuksesan Taruna menjadi landasan penting bagi Daihatsu dalam melahirkan generasi penerusnya: Daihatsu Xenia. Saat Xenia dirilis pada tahun 2004, banyak pengamat menilai mobil tersebut sebagai penyempurnaan konsep Taruna, dengan pendekatan yang lebih modern, efisien, dan urban-friendly.
Jika Taruna tampil sebagai semi-SUV keluarga, maka Xenia lebih menekankan pada efisiensi bahan bakar, kenyamanan berkendara, dan kemudahan pemeliharaan, sesuatu yang sangat dibutuhkan pasar di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Namun dari sisi DNA kendaraan keluarga yang fungsional dan terjangkau, jelas Xenia mewarisi semangat Taruna.
Kedua mobil ini pun sempat berbagi waktu di pasar otomotif hingga akhirnya produksi Taruna dihentikan pada 2006, memberi ruang penuh bagi Xenia untuk mendominasi pasar MPV murah bersama kembarannya, Toyota Avanza.
Kehadiran Daihatsu Taruna memberi sinyal kuat kepada industri otomotif bahwa Indonesia siap menerima konsep kendaraan keluarga dengan desain semi-offroad. Tak lama setelahnya, muncullah Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia di awal 2000-an yang kemudian mendominasi pasar.
Meski produksinya dihentikan pada 2006, nama Taruna tetap hidup di benak banyak pengguna jalan. Mobil ini juga banyak dijadikan kendaraan modifikasi dan masih sering dijumpai di pasar mobil bekas, menjadi alternatif terjangkau bagi keluarga muda yang mencari kendaraan tangguh.
Meski sudah 19 tahun sejak produksi terakhirnya, Daihatsu Taruna masih eksis di pasar mobil bekas. Harga jualnya yang stabil, perawatan mudah, serta kemampuan jelajah di segala medan membuat Taruna tetap digemari, terutama di daerah dengan kontur jalan berat atau terpencil.
Hingga kini, banyak komunitas Taruna yang aktif merawat dan memodifikasi mobil ini. Beberapa bahkan menyulap Taruna menjadi campervan ringan atau mobil ekspedisi, membuktikan daya tahan dan fleksibilitas desain yang masih relevan hingga sekarang.
Di pasar mobil bekas, Daihatsu Taruna masih diminati, terutama untuk varian F-Series yang menawarkan ruang kabin lega dan kapasitas penumpang hingga 7 orang. Harga pasarannya berkisar antara Rp40 juta hingga Rp75 juta, tergantung kondisi dan tahun produksi.
Taruna kini menjadi alternatif bagi keluarga muda, pekerja lapangan, hingga kolektor mobil lawas yang mencari kendaraan dengan tampilan klasik namun mesin yang tangguh. Banyak bengkel umum juga masih menyediakan suku cadang, karena mobil ini berbasis pada platform lama Daihatsu yang cukup umum digunakan di Indonesia.
Daihatsu Taruna bukan sekadar mobil tua—ia adalah simbol transisi dunia otomotif Indonesia menuju era MPV modern. Mobil ini meletakkan fondasi penting dalam strategi Daihatsu menciptakan kendaraan keluarga yang sesuai dengan karakteristik konsumen Indonesia.
Tanpa Taruna, mungkin tidak akan ada Xenia seperti yang kita kenal sekarang. Dan meski zaman telah berubah, Taruna tetap melaju di jalanan—membawa kenangan dan bukti bahwa ia adalah cikal bakal sejati dari mobil keluarga Indonesia. (Ag4ys)


















