Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Suara Gen-Z: dari Aspirasi Digital Menuju Kebangkitan Umat

854
×

Suara Gen-Z: dari Aspirasi Digital Menuju Kebangkitan Umat

Sebarkan artikel ini
Azzahrah Yunita Ratri
Azzahrah Yunita Ratri (Penulis)

OPINI—Gelombang demonstrasi dan berbagai macam bentuk penyampaian aspirasi belakangan ini menegaskan urgensi Gen-Z sebagai motor perubahan bangsa ini. Dinamika sosial politik Indonesia hari ini yang semakin kompleks, mendorong generasi Z untuk ikut ambil bagian dengan memanfaatkan potensinya masing-masing.

Generasi muda ini memiliki gaya yang khas dalam menyuarakan opini, berbeda dengan beberapa oknum lain yang menggunakan cara destruktif, sebagian lainnya memilih menggunakan platform sosial media untuk mengekspresikan keresahannya. Mereka kerap kali aktif memposting tulisan-tulisan pendek berupa caraosel, meme, live streaming hingga desain visual yang eye catching guna memengaruhi orang lain untuk ikut bergerak.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Meski potensial, kondisi ini juga menimbulkan dilema. Sebagian psikolog menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut demonstrasi. Mereka menilai bahwa meskipun keterlibatan Gen-Z dalam aksi massa bisa menjadi ajang belajar menyampaikan pendapat, namun mereka rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang.

Apabila ditelaah lebih jauh, klasifikasi karakteristik generasi semacam ini dalam ilmu psikologi modern pada dasarnya diarahkan untuk sesuai dengan kerangka berpikir kapitalisme. Narasi tersebut kerap menekankan Gen Z bahwa mereka lebih reaktif, emosional, namun ekspresif dan inovatif di media sosial.

Pendekatan ini tanpa disadari dapat mengerdilkan peran politik mereka, dengan menjadikan identitas generasi sebagai sekadar “segmen pasar” yang perlu diatur dan diarahkan. Akibatnya, kesadaran politik yang seharusnya menjadi bagian dalam kesadaran akan realitas kezaliman hari ini akhirnya bisa teralihkan menjadi sekadar tren gaya hidup atau ekspresi sesaat.

Padahal, manusia sejak awal penciptaannya membawa naluri yang dinamakan naluri baqa, yaitu naluri untuk menolak kezaliman dan mempertahankan kehidupan yang layak. Naluri ini sejatinya menuntut solusi yang menghilangkan akar kezaliman, bukan sekadar manajemen emosi atau adaptasi terhadap sistem yang cacat.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki fitrah yaitu khasiatul insan (karakter khas sebagai manusia) yang hanya dapat terpenuhi melalui tuntunan syara’, bukan tuntunan psikologi semata. Islam tidak menolak pendekatan sains modern, tetapi menempatkannya pada posisi pelengkap, bukan penentu arah kehidupan.

Ketika generasi muda menyuarakan perubahan, Islam memberikan kerangka yang jelas tentang bagaimana perubahan itu harus dilakukan. Bukan dengan kekerasan, bukan pula dengan sekadar tren digital, tetapi dengan muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) secara terbuka, sistematis, dan berlandaskan dalil syara’.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Rasulullah Saw. juga menegaskan peran pemuda dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:

“Pemimpin para syuhadā’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. al-Hakim).

Hadis ini menggambarkan bahwa peran pemuda yang berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim justru ditempatkan pada kedudukan mulia di sisi Allah. Artinya, perjuangan yang dilakukan oleh Gen-Z hari ini dapat menemukan arah yang hakiki ketika diarahkan sesuai tuntunan syari’at Islam.

Potensi besar mereka dalam kreativitas digital, keberanian vokal, hingga semangat solidaritas, sejatinya bisa menjadi modal kebangkitan umat, bukan sekadar riak sesaat yang mudah padam.

Sejarah juga membuktikan bahwa pemuda selalu berada di garda terdepan perubahan. Sejak masa Rasulullah Saw, mayoritas sahabat yang pertama kali menerima dakwah Islam adalah mereka yang berusia muda: Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Zubair bin Awwam, dan banyak lainnya.

Mereka bukan sekadar pengikut, tetapi penggerak yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jiwa untuk tegaknya risalah Islam. Dengan demikian, peran Gen-Z hari ini tidak jauh berbeda. Mereka dipanggil untuk mengambil bagian dalam perjuangan taghyir (perubahan hakiki), bukan sekadar dalam wacana digital atau demonstrasi sesaat, melainkan sebagai generasi yang menyongsong kebangkitan Islam.

Pada akhirnya, Gen-Z harus menyadari bahwa energi dan idealisme mereka bukan untuk dimanipulasi oleh kepentingan kapitalisme global. Aspirasi digital dan aktivisme sosial yang mereka bangun perlu diarahkan pada solusi hakiki: sistem Islam yang mampu menghapus kezaliman, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban. Dari ruang digital menuju lapangan kehidupan nyata, dari aspirasi menuju aksi nyata, Gen-Z memiliki potensi untuk menjadi lokomotif kebangkitan umat. (*)

 

Penulis: Azzahrah Yunita Ratri

 

 

***

 

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!