Advertisement - Scroll ke atas
WisataWajo

Danau Tempe: Kehidupan Nelayan, Rumah Terapung, dan Harmoni Budaya Bugis di Wajo

547
×

Danau Tempe: Kehidupan Nelayan, Rumah Terapung, dan Harmoni Budaya Bugis di Wajo

Sebarkan artikel ini
Danau Tempe
Danau Tempe

WAJO—Matahari belum sepenuhnya muncul ketika kabut tipis menggantung di atas permukaan Danau Tempe. Dari kejauhan, suara burung-burung air terdengar bersahutan, seolah menyapa siapa saja yang mulai beraktivitas di tepian danau.

Di antara riak halus air, satu per satu perahu kayu milik nelayan Bugis meluncur perlahan, menandai dimulainya rutinitas yang berlangsung turun-temurun.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sebagai destinasi wisata populer, Danau Tempe memang tak pernah kehilangan pesonanya. Danau alami terbesar kedua di Pulau Sulawesi ini mencakup area seluas sekitar 350 ribu meter persegi, dengan kedalaman rata-rata mencapai 5 meter.

Airnya yang tenang menghubungkan kawasan Teluk Parepare dan Teluk Bone hingga bermuara ke Selat Makassar, menjadikannya salah satu ekosistem penting di Sulawesi Selatan. Tak heran bila Kementerian Lingkungan Hidup menetapkannya sebagai danau prioritas nasional.

Bagi warga sekitar, pagi di Danau Tempe bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah momentum lahirnya harapan baru—dan panggilan alam yang tak pernah absen.

Di rumah-rumah terapung yang menjadi ikon kawasan ini, kehidupan bergerak dengan cara yang unik. Rumah-rumah itu bukan hanya tempat tinggal, tetapi simbol kedekatan masyarakat setempat dengan danau yang memberi mereka napas.

“Kalau sudah dengar burung-burung itu berkumpul, tandanya ikan banyak bergerak di bawah permukaan,” ujar La Pagala, seorang nelayan tua yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di danau ini.

Dengan senyum yang tak lekang waktu, ia bercerita bagaimana suara burung dapat menjadi penunjuk arah, pertanda cuaca, hingga isyarat keberkahan.

Pagi hari di Danau Tempe bukan hanya milik para nelayan. Perempuan-perempuan Bugis memulai hari dengan menyiapkan bekal, sementara anak-anak duduk di tepi rumah sambil mengamati kawanan burung bangau, kuntul, dan belibis yang kembali meramaikan permukaan danau.

Kehadiran burung-burung ini menjadi penanda bahwa ekosistem Danau Tempe masih bernapas dan terus dijaga oleh warganya.

Keindahan Danau Tempe juga berpadu erat dengan budaya lokal. Di musim tertentu, masyarakat Bugis menggelar ritual “Maccera Tappareng”, tradisi memandikan danau sebagai ungkapan syukur atas rezeki ikan.

Musik tradisional, doa-doa leluhur, dan prosesi adat memperlihatkan betapa kuatnya hubungan spiritual masyarakat dengan sumber kehidupan mereka.

Kini, geliat ekowisata semakin memperkaya dinamika kawasan ini. Wisatawan bisa merasakan pengalaman unik berkeliling menggunakan perahu katinting, singgah di rumah apung, atau menyaksikan langsung kehidupan nelayan dari jarak dekat.

Yang menarik, untuk masuk ke area wisata Danau Tempe, pengunjung tidak dipungut biaya. Biaya hanya dikenakan jika ingin menikmati perjalanan air:

Tarif Wisata Danau Tempe:

  • Tiket Masuk: Gratis
  • Sewa Katinting menuju danau (kapasitas 4 orang): Rp150.000
  • Sewa Katinting keliling danau/ ke rumah apung: Rp75.000

Bagi masyarakat, ekowisata bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga cara menjaga harmoni antara alam dan budaya. “Kalau danau dijaga, burung-burung kembali. Kalau burung kembali, turis datang. Itu rezeki bersama,” tutur Tenri Ani, warga pemilik rumah terapung.

Menjelang siang, kabut benar-benar menghilang. Danau Tempe berubah menjadi ruang luas berwarna biru dengan pantulan awan yang seolah menari di permukaannya. Namun rasa damai yang mengalir dari kehidupan nelayan dan budaya Bugis tetap menjadi pesona terbesarnya.

Di Danau Tempe, pagi adalah perayaan kecil yang berlangsung setiap hari. Burung-burung yang kembali, rumah-rumah terapung yang hidup mengikuti irama air, dan masyarakat Bugis yang setia menjaga tradisi—semuanya berpadu menjadi cerita alam yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang keselarasan manusia dengan lingkungannya. (Ag4ys)

error: Content is protected !!