Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Aktivisme Digital: Antara Kesadaran dan Algoritma

534
×

Aktivisme Digital: Antara Kesadaran dan Algoritma

Sebarkan artikel ini
Basundari
Basundari (Pemerhati Sosial)

OPINI—Kita hidup di zaman ketika dunia digenggam oleh layar, dan manusia tumbuh di tengah arus informasi yang nyaris tak pernah berhenti. Era digital datang tanpa aba-aba, menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya.

Namun, di balik segala kemudahan itu, terdapat harga yang harus dibayar: perubahan cara berpikir, pergeseran nilai, serta lahirnya generasi yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk algoritma. Di titik inilah Generasi Z berdiri—sebagai anak kandung zaman digital sekaligus cermin paling jujur dari pengaruhnya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Generasi Z kerap dilabeli sebagai generasi lemah: mudah cemas, rentan terhadap tekanan mental, dan terlalu sensitif. Media sosial menjadi panggung tempat mereka terus dibandingkan, diukur, dan dinilai. Standar hidup yang dipoles sedemikian rupa membuat banyak dari mereka terjebak dalam rasa kurang dan ketakutan akan tertinggal.

Namun, menyederhanakan Gen Z sebagai generasi rapuh merupakan kekeliruan besar. Di balik kegamangan itu, terdapat potensi kritis yang menyala. Mereka mampu memanfaatkan media sosial bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang perlawanan dan aktivisme—menyuarakan kritik, membangun solidaritas, serta menginisiasi perubahan, meski melalui layar.

Ruang digital, bagaimanapun, bukanlah ruang yang netral. Ia dibangun dan digerakkan oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik yang menjadikan perhatian sebagai komoditas dan validasi sebagai mata uang. Algoritma tidak bekerja untuk membentuk manusia beradab, melainkan untuk mempertahankan keterikatan.

Akibatnya, ruang digital membentuk cara berpikir yang instan, pragmatis, dan kerap tercerabut dari akar nilai yang kokoh. Gen Z yang tumbuh di dalamnya belajar cepat dan berpikir kritis, tetapi sekaligus terpapar krisis identitas.

Di sisi terang, era digital membuka peluang bagi *global activism*; isu lokal dapat bergema hingga tingkat global. Gen Z dapat belajar apa saja dan dari mana saja. Mereka terbiasa berdiskusi lintas batas, mempertanyakan otoritas lama, serta menyusun nilai-nilai mereka sendiri yang kerap berbeda dari generasi sebelumnya.

Namun, sisi gelapnya tidak bisa diabaikan. Masalah kesehatan mental meningkat, nilai-nilai inklusif-progresif sering diterima tanpa penyaringan kritis, dan agama sebagai fondasi makna kerap dipertanyakan—bukan untuk dipahami lebih dalam, melainkan dinegosiasikan agar selaras dengan selera zaman.

Aktivisme digital Gen Z pun sering kali bersifat pragmatis: cepat menyala, tetapi juga cepat padam. Pergerakan bergantung pada viralitas, validasi, dan momentum.

Hashtag menggantikan pijakan ideologis, sementara empati kerap berhenti pada tombol “bagikan”. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Gen Z, melainkan konsekuensi dari ekosistem digital yang membesarkan mereka sebagai *digital natives*—cepat, reaktif, dan terbiasa hidup dalam arus.

Karena itu, menyelamatkan generasi bukan berarti menjauhkan mereka dari teknologi, melainkan menyelamatkan cara berpikir mereka dari hegemoni ruang digital sekuler-kapitalistik.

Diperlukan perubahan paradigma: dari cara pandang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, menuju paradigma Islam yang menempatkan hidup sebagai amanah dan perjuangan sebagai ibadah. Islam tidak memusuhi akal dan kritik; justru mengarahkannya. Islam tidak mematikan aktivisme, tetapi memberinya arah yang jelas dan tujuan yang luhur.

Pergerakan Gen Z harus diarahkan agar tidak berhenti pada simbol dan sensasi, melainkan bergerak menuju solusi yang sistemis dan ideologis. Kritik harus dibarengi gagasan alternatif, dan empati harus berujung pada perubahan nyata. Paradigma Islam menawarkan kerangka tersebut—menghubungkan iman dengan aksi, nilai dengan sistem, serta perjuangan dengan tanggung jawab peradaban.

Namun, upaya ini tidak dapat dibebankan kepada Gen Z semata. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menjadi ruang pertama pembentukan nilai, masyarakat menyediakan ekosistem yang sehat, dan negara wajib hadir sebagai penjaga arah—bukan sekadar pengatur lalu lintas digital.

Jika ketiganya berjalan seiring, Gen Z tidak hanya akan menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga generasi yang matang secara ideologis dan siap memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti arus zaman. (*)


Penulis:
Basundari
(Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!