JAKARTA — Kopi dari kebun keluarga di Mandalagiri, Garut, Jawa Barat, kini menembus pasar kopi premium. Roemah Koffie, Member of RAI (Royal Agro Industri), resmi meluncurkan Cing Cangkeling, kopi single origin dengan karakter fruity, juicy, serta sweetness yang kaya dan berlapis.
Peluncuran dilakukan di Roemah Koffie Gunawarman dengan menghadirkan CEO Roemah Koffie Felix TJ bersama Roby Siswanda, pemilik perkebunan kopi di Mandalagiri. Keduanya berbagi cerita mengenai perjalanan Cing Cangkeling, dari kebun keluarga hingga hadir di tengah penikmat kopi.
“Bagi kami, setiap kopi memiliki cerita. Melalui Cing Cangkeling, kami ingin membawa cerita dari Mandalagiri ke dalam setiap cangkir,” ujar Felix TJ., dalam siaran pers yang diterima mediasulsel.com, Sabtu (19/9/2026).
Cing Cangkeling lahir dari ketekunan Roby dan keluarganya merawat tanaman kopi di dataran tinggi Mandalagiri. Melihat potensi kebun keluarga, Roby secara mandiri mempelajari teknik coffee processing dan mengembangkan sejumlah metode pengolahan, di antaranya Red Anaerob dan Classic Natural.
Potensi tersebut kemudian mempertemukan Roby dengan Roemah Koffie. Kolaborasi dibangun untuk membawa kopi Mandalagiri keluar dari lingkup kebun keluarga dan memperkenalkannya kepada konsumen yang lebih luas.
“Bagi keluarga kami, kebun ini telah menjadi bagian dari perjalanan yang panjang. Senang rasanya bisa bertemu dengan Roemah Koffie karena perjalanan panjang kopi ini sekarang dapat dikenal lebih luas,” kata Roby.
Cing Cangkeling menggunakan varietas Yellow Bourbon yang memiliki karakter berbeda dari banyak varietas kopi lainnya. Buah kopi varietas ini berubah menjadi kuning ketika matang. Tanaman tumbuh pada ketinggian sekitar 1.500–1.600 meter di atas permukaan laut dan diproses menggunakan metode Classic Natural.
Hasilnya, Cing Cangkeling menawarkan notes stone fruit, anggur, beri, dan gula merah. Dengan profil Espresso Roast, kopi ini dapat disajikan sebagai Black Coffee untuk menonjolkan karakter rasanya maupun White Coffee dengan sensasi yang lebih creamy dan rounded.
Nama Cing Cangkeling sendiri diambil dari lagu tradisional Jawa Barat dan dikaitkan dengan ungkapan Sunda “cing cicing, kade eling”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menenangkan diri.
Semangat itu kemudian diterjemahkan Roemah Koffie melalui konsep Bean to Heart. Bukan sekadar menawarkan rasa, Cing Cangkeling menjadi medium untuk mengenalkan daerah asal, budaya, proses pengolahan, hingga orang-orang yang berada di balik secangkir kopi.
Cing Cangkeling tersedia dalam kemasan 200 gram di seluruh outlet dan kanal e-commerce resmi Roemah Koffie. Produk seasonal dalam jumlah terbatas ini juga menjadi Beans of the Month mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026. Kehadirannya melanjutkan eksplorasi Roemah Koffie terhadap kopi Indonesia melalui varian sebelumnya seperti Rambadia, Anak Daro, dan Cublak Suweng. (51l)







