Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Kriminal

Anak Dibawah Umur Jadi Korban Pencabulan, Kapolres Jeneponto: Pelaku Sering Nonton Film Porno

5123
×

Anak Dibawah Umur Jadi Korban Pencabulan, Kapolres Jeneponto: Pelaku Sering Nonton Film Porno

Sebarkan artikel ini
Anak Dibawah Umur Jadi Korban Pencabulan, Kapolres Jeneponto: Pelaku Sering Nonton Film Porno
Saat konferensi pers, Selasa (9/8/2022), Kapolres Jeneponto AKBP Andi Erma Suryono menceritakan, awalnya korban yang berumur 6 tahun bermain dibawah kolom rumah tetangga, bersebelahan dengan rumah pelaku si A (17 tahun) yang berstatus pelajar. (Mediasulsel.com/Kaharuddin Kasim)

JENEPONTO—Beberapa waktu yang lalu terjadi pencabulan anak dibawah umur, di Desa Barayya, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto.

Terkait hal tersebut, Kapolres Jeneponto AKBP Andi Erma Suryono menceritakan, awalnya korban yang berumur 6 tahun bermain dibawah kolom rumah tetangga, bersebelahan dengan rumah pelaku si A (17 tahun) yang berstatus pelajar.

“Setelah itu, pelaku A menyuruh korban beli kerupuk baru diajak ke dalam kamar,” jelas Kapolres AKBP Andi Erma Suryono, saat konferensi pers, Selasa (9/8/2022).

Si A membuka celana korban tapi memberontak. “Tapi si A memasukkan tiga jari ke alat kemaluan si korban tetapi saat memasukkan jari ke kemaluan si korban”

“Terjadi pendarahan pada kemaluan si korban. Korban mengalami pendarahan secara terus menerus,” terangnya.

AKBP Andi Erma Suryono didampingi Kasat Reskrim Iptu Nasaruddin dan Kanit Tipikor Ipda Uji Mughni mengungkapkan, pasal yang digunakan pasal ayat 1 dipidana paling singkat 5 tahun pasal 82 ayat 2.

“Tindak pidana memaksa anak melakukan persetubuhan. Motifnya, anak-anak sering melihat film porno,” tuturnya.

Dengan adanya kejadian asusila kepada anak dibawah umur, pihak Polres Jeneponto akan menggelorakan di jalan raya dengan melakukan sosialisasi menggunakan Handphone secara bijak.

“Orang tua juga harus turut bertanggungjawab atas apa yang terjadi kepada anak dibawah umur,” paparnya.

Menurutnya, tidak ada pembongkaran rumah pelaku, yang terjadi pelaku dan keluarga meninggalkan rumah atas kesepakatan aparat desa dengan keluarga pelaku.

“Tidak ada paksaan untuk pindah ke Desa Balumbungang. Pelaku diberikan sanksi adat, pelaku tidak berada atau tidak tinggal lagi di desa Barayya,” tegasnya. (*)

Konten dilindungi © Mediasulsel.com