Advertisement - Scroll ke atas
News

Bigo Live Pintu Baru Menuju Prostitusi Online?

1331
×

Bigo Live Pintu Baru Menuju Prostitusi Online?

Sebarkan artikel ini
Mediasulsel.com
Media Informasi Sulawesi Selatan menyajikan berita politik, hukum, ekonomi, bola, teknologi, video, asuransi, kesehatan, properti, gadget, dan hiburan.

MEDIASULSEL.COM—Belakangan ini, dunia maya diramaikan hadirnya aplikasi live streaming, Bigo Live, di Indonesia tercatat sebagai aplikasi terpopuler untuk sistem operasi iOS dan Android.

Meski sebenarnya aplikasi ini bukanlah barang baru, bahkan remaja luar negeri telah menggandrunginya sejak Maret 2016 lalu.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Meski baru menghiasi dunia maya, namun iming-iming pengelola Bigo Live untuk bisa memperoleh penghasilan dengan seringnya seseorang melakukan live streaming, membuat aplikasi ini melahirkan banyak masalah baru.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Sulsel, Ambang Ardi, dalam blog pribadinya menyebutkan, banyaknya prilaku sejumlah pengguna aplikasi ini diistilahkan sebagai Broadcaster (penyiar) banyak menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku.

“Banyak diantara mereka, umumnya didominasi kaum hawa. Acap kali mereka mempertontonkan adekan-adekan tidak senonoh secara live streaming. Seperti menggunakan pakaian yang sangat minim sambil memamerkan alat vital, joget erotis atau hanya sekedar lucu-lucuan kepada penontonnya,” sebut Ambang dalam blognya.

Meskipun sebenarnya pengelola aplikasi ini menerapkan aturan cukup ketat, seperti melarang broadcaster menampilkan adekan pornografi, porno aksi dan adegan merokok, bagi broadcaster yang melanggar akan segera di banned (Dilarang).

“Namun penerapan sanksi banned hanya bersifat sementara yaitu sekitar 10 menitan, membuat pelakunya tidak merasa jera jika harus dibanned,” jelasnya.

Lebih jauh Ambang menjelaskan, hingga saat ini Bigo Live masih diidentik dengan aksi-aksi mesum dan porno aksi.

Prilaku tidak senonoh yang dilakukan oleh para broadcaster itu, tentu saja bukan tanpa alasan, semua itu didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan uang tunai dari pengelola aplikasi tersebut.

“Tampilan tidak senonoh yang akhirnya mengundang banyak kaum Adam bersedia berlama-lama memelototi aksinya itu, sejurus kemudian membuat para penikmat itu berlomba-lomba memberikan Gift atau hadiah dalam bentuk icon point kepada broadcaster,” kata Ambang Ardi saat ditemui dikantornya, Sabtu Malam (10/9/2016).

Setelah Gift terkumpul, lanjut Ambang, akan ditukar dengan diamond, semakin banyak gift yang terkumpul, tentu saja akan semakin banyak diamond yang dikumpulkan, selanjutnya setiap 6.700 diamond terkumpul dapat ditukar dengan uang tunai sebesar Rp2 juta.

“Tidak hanya itu, sering kali para broadcaster setelah memperoleh gift dengan nilai terbesar yaitu super car, selanjutnya mereka akan bertukar id medsos lain bahkan nomor telepon genggam, yang selanjutnya menjalin hubungan yang sifatnya lebih pribadi, bahkan tidak sedikit diantaranya yang melanjutkan transaksi sexual layaknya prostitusi online,” tambah Ambang. (*)

error: Content is protected !!