JAKARTA — Ragam budaya Sulawesi Selatan mencuri perhatian dalam perhelatan Tasyakur Milad ke-45 Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Perwakilan BKMT Sulawesi Selatan tampil dalam defile dengan mengenakan busana adat Toraja, Bugis dan Makassar. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari parade budaya yang diikuti perwakilan BKMT dari berbagai daerah di Indonesia.
Sekitar 20 ribu peserta BKMT dari Jabodetabek bersama perwakilan 35 provinsi memadati Indonesia Arena. Peserta dari berbagai daerah membawa identitas budaya masing-masing, mulai dari Aceh hingga Papua.
Sulawesi Selatan menjadi salah satu daerah yang menampilkan keberagaman budayanya dalam panggung nasional tersebut. Busana adat Toraja, Bugis dan Makassar menjadi representasi kekayaan budaya Sulsel di tengah pertemuan akbar keluarga besar BKMT.
Tasyakur Milad ke-45 BKMT turut dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Anies Baswedan, Ketua Dewan Pembina PP BKMT sekaligus Senator Jakarta Dailami Firdaus, anggota DPR RI dan DPD RI, para kepala daerah, perwakilan negara sahabat serta sejumlah pejabat pemerintah.

(Foto: Anny Marimbunna)
Sejumlah kepala daerah yang hadir juga tercatat sebagai pimpinan BKMT di daerah masing-masing.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono dalam sambutannya menyebut perjalanan 45 tahun BKMT bukan waktu yang singkat. Ia menilai semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang tumbuh dalam BKMT memiliki irisan kuat dengan nilai dasar gerakan koperasi.
Ferry mendorong sinergi BKMT dengan gerakan koperasi untuk memperkuat ekonomi umat. Salah satunya melalui pengembangan koperasi masjid dan koperasi di lingkungan pesantren yang diharapkan dapat terhubung dengan jaringan BKMT di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum PP BKMT Dr. Hj. Syifa Fauzia mengatakan usia 45 tahun menjadi bukti panjangnya perjalanan organisasi independen berbasis majelis taklim tersebut.
Ia menegaskan BKMT tidak hanya menjalankan fungsi dakwah, tetapi juga bergerak dalam pemberdayaan ekonomi, ketahanan keluarga, kesehatan, lingkungan hidup dan kepedulian sosial.
Dalam lima tahun terakhir, kata Syifa, BKMT telah menghimpun sekitar Rp5 miliar untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di berbagai wilayah Indonesia. BKMT juga menunjukkan solidaritas terhadap Palestina serta membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
Syifa mengingatkan keluarga besar BKMT agar tidak berhenti pada capaian yang telah diraih. Menurutnya, tantangan dakwah dan pekerjaan rumah organisasi masih panjang sehingga setiap anggota perlu terus memberikan kontribusi sesuai kompetensinya di daerah masing-masing.
Ia juga mengajak kader BKMT meneruskan semangat para pendiri, termasuk almarhumah Tutty Alawiyah. Dakwah, kata dia, tidak cukup berhenti pada penyampaian ilmu, tetapi harus diwujudkan melalui kebaikan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Bangkit dengan ilmu, bangkit dengan iman, bangkit dengan persaudaraan, bangkit dengan satu persepsi untuk masa depan anak cucu kita,” pesan Syifa.
Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta turut mengenang Tutty Alawiyah yang disebutnya telah dikenal sejak 1986. Ia berharap nilai dan keteladanan yang diwariskan pendiri BKMT tersebut terus diteruskan generasi berikutnya.
Rangkaian Tasyakur Milad ke-45 BKMT juga diisi pelantikan Pengurus Pusat BKMT periode 2026–2031 oleh Ketua Dewan Pembina PP BKMT Dailami Firdaus. Kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran buku yang merekam perjalanan Ketua Umum BKMT dalam kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia.

(Foto: Anny Marimbunna)
Perhelatan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan BKMT dari berbagai daerah dan panggung keberagaman budaya Indonesia.
Bagi Sulawesi Selatan, defile itu menjadi momentum membawa identitas Toraja, Bugis dan Makassar tampil di tengah panggung nasional, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sulsel kepada keluarga besar BKMT dari seluruh Indonesia. (4nny)













