TORAJA UTARA—Di lorong-lorong bersejarah Ke’te Kesu’, seni ukir tradisional Toraja tidak sekadar menjadi pajangan budaya. Dari kawasan wisata adat ini, karya ukiran menembus pasar nasional hingga mancanegara, dibawa oleh tangan-tangan terampil perajin lokal.
Salah satunya Dominikus Limbong Allo (51). Sejak kecil, ia mewarisi teknik Passura’ dari orang tuanya. Di kios suvenir yang berdampingan dengan tongkonan yang difungsikan sebagai museum, Limbong menekuni ukiran khas Toraja yang sarat makna simbolik.
“Belajar teknik Passura’ itu butuh proses. Sekitar satu bulan untuk memahami dasarnya. Dimulai dari ma’bannang sebagai dasar ukiran frame, lalu pa’kunu, pa’manik-manik, hingga pa’bombo wai, motif hewan yang hidup di sawah dan berenang melawan arus,” ujar Limbong.
Motif yang ia kerjakan terinspirasi dari alam sekitar—tumbuhan, hewan, hingga simbol kosmologis seperti matahari atau pa’barre allo. Setiap guratan pada rumah adat tongkonan mengandung filosofi kehidupan masyarakat Toraja.
Dalam keseharian, Limbong mampu menyelesaikan satu karya dalam tujuh hingga sepuluh hari, bergantung tingkat kerumitan dan aktivitasnya di luar mengukir, termasuk berkebun serta urusan keluarga.
Pesanan karyanya datang dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga Manado, Sulawesi Utara. Permintaan juga mengalir dari luar negeri, antara lain Thailand, Jerman, Spanyol, Belanda, Turki, Inggris, Siprus, dan Jepang.
“Biasanya mereka mengenal ukiran saya saat berkunjung ke Ke’te Kesu’. Pengiriman dilakukan melalui PT Pos Indonesia, dan biaya ditanggung pemesan,” katanya. Harga ukiran dibanderol mulai Rp50 ribu hingga Rp4 juta, menyesuaikan ukuran dan kompleksitas motif.
Di balik capaian itu, Limbong menyebut tantangan regenerasi masih membayangi. Minat generasi muda mempelajari teknik Passura’ dinilai belum merata.
“Harapannya ada solusi nyata agar regenerasi tetap berjalan. Supaya ukiran Toraja tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga warisan leluhur yang terus dijaga,” ucapnya.
Ia juga mengenang jejak keluarga yang telah lama berkecimpung dalam seni ukir. Ayah dan kakeknya dikenal sebagai pengukir rumah tongkonan, dengan karya yang dapat ditemui di kawasan Taman Mini Indonesia Indah serta sejumlah rumah adat di Simalungun, Sumatera Utara.
“Warisan ini harus terus dipelihara. Dengan begitu, Toraja akan tetap dikenal dunia melalui tangan-tangan terampil, sekaligus ikut memajukan daerah,” tutupnya.
Ke’te Kesu’ bukan hanya destinasi wisata budaya. Di balik rumah adatnya, perajin seperti Dominikus Limbong menjaga denyut warisan Toraja agar tetap hidup dan dikenal hingga panggung internasional. (4nny)


















