TORAJA UTARA—Kawasan Cagar Budaya Buntu Pune di Kecamatan Kesu’, Toraja Utara, akan terus diposisikan sebagai pusat pelestarian Tongkonan sekaligus ruang sejarah perlawanan leluhur Toraja terhadap kolonialisme.
Kompleks bersejarah yang terletak sekitar tiga kilometer di selatan Rantepao ini akan dikembangkan sebagai kawasan terpadu yang memadukan permukiman adat, situs pertahanan, hingga area pemakaman leluhur dalam satu kesatuan ruang budaya.
Arkeolog sekaligus penjaga kawasan Buntu Pune, Marla Tandirerung, akan tetap menjadi salah satu figur kunci dalam upaya pelestarian situs ini. Ia merupakan bagian dari keluarga Tongkonan setempat yang selama puluhan tahun menjaga keberlanjutan warisan leluhur di kawasan tersebut.
Menurut Marla, Buntu Pune akan terus dikenalkan sebagai kompleks permukiman tradisional yang dibangun pada rentang 1880–1916 oleh Siambe’ Pong Maramba’, bangsawan Toraja yang pernah memimpin wilayah Kesu’ dan Tikala serta dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap kolonial Belanda.
“Buntu Pune akan dipahami bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai benteng pertahanan dan kawasan pemakaman keluarga bangsawan,” jelasnya.
Nama Buntu Pune, yang berarti Pakis Tiang, merujuk pada vegetasi pakis yang dahulu mendominasi wilayah tersebut. Di dalam kawasan ini, pengunjung akan menemukan arsitektur Tongkonan asli, termasuk keberadaan Patane, yang dikenal sebagai kuburan tembok pertama di Toraja.
Tongkonan dan Ruang Adat Akan Tetap Dijaga
Di kompleks ini akan tetap berdiri dua Tongkonan utama yang saling berhadapan dengan tujuh lumbung padi. Tongkonan di sisi timur dikenal sebagai Tongkonan Potoksia, sementara di barat terdapat Tongkonan Kaluku dan Kamiri, satu bangunan dengan dua nama.
Buntu Pune akan terus dipertahankan sebagai satu kesatuan ruang adat yang meliputi Tongkonan, lumbung, makam, sawah, hutan adat, hingga rante tomate atau lokasi upacara adat.
Kawasan ini diyakini telah ada jauh sebelum masa kolonial, dan akan terus dikenang sebagai lokasi pertemuan tokoh masyarakat Toraja dalam menyusun strategi perlawanan pada masa lalu.
Benteng Kaluku Akan Jadi Titik Wisata Sejarah
Bukit Benteng Kaluku di kawasan Buntu Pune akan menjadi salah satu daya tarik utama. Pengunjung akan menapaki sekitar 175 anak tangga untuk mencapai puncak bukit yang dahulu berfungsi sebagai benteng pertahanan Pong Maramba’.
Di atas bukit, sistem pertahanan batu karst yang dikenal sebagai Pa’bala Batu akan terus dilestarikan. Dari titik ini, wisatawan akan dapat menikmati panorama sawah, Kota Rantepao, dan pegunungan yang mengelilingi kawasan.
Fasilitas gazebo dan menara pandang akan tetap dimanfaatkan, sementara lokasi bunker-bunker pertahanan leluhur akan menjadi potensi pengembangan selanjutnya. Hingga kini, akses menuju titik bunker masih terbatas karena minimnya dukungan pendanaan.
Kawasan Pemakaman Leluhur Akan Jadi Edukasi Budaya
Area pemakaman keluarga Pong Maramba akan terus menjadi bagian penting dari narasi sejarah Buntu Pune. Pengunjung akan melihat liang batu, Patane berbentuk rumah, serta erong tua dengan susunan tengkorak, yang tata letaknya serupa dengan kawasan adat Ke’te Kesu’.
Pengelolaan dan Dukungan Akan Diperkuat
Buntu Pune akan tetap dikelola oleh Yayasan Buntu Pune, yang sejak 1970-an juga terlibat dalam pengelolaan sejumlah destinasi budaya lain di Toraja. Kerja sama dengan pemerintah akan berlanjut melalui sistem bagi hasil tiket masuk, dengan komposisi 70 persen untuk yayasan dan 30 persen untuk pemerintah.
Tarif masuk akan diberlakukan sebesar Rp20.000 untuk wisatawan lokal, Rp15.000 untuk pelajar, dan Rp35.000 untuk wisatawan mancanegara, dengan pelaporan rutin setiap tiga bulan.
Dukungan pembangunan fasilitas akan dilanjutkan setelah sebelumnya kawasan ini menerima bantuan sekitar Rp2 miliar pada 2021 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Regional IX Sulsel dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara.
Area halaman Tongkonan akan terus dimanfaatkan sebagai ruang latihan tari rutin, sekaligus ruang interaksi budaya bagi generasi muda.
Ruang Hidup Budaya Akan Terus Bernapas
Ke depan, Buntu Pune tidak hanya akan dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang hidup budaya tempat sejarah, adat, alam, dan masyarakat akan terus saling menjaga.
Di kawasan ini, warisan leluhur Toraja akan tetap berdiri—bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai identitas yang akan terus diwariskan ke masa depan. (4nny/Ag4s)



















