SIDRAP — Persoalan mahalnya pakan ternak dan menumpuknya limbah rumah tangga di Desa Wanio Timoreng, Kabupaten Sidrap, mulai mendapat solusi melalui inovasi budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Inovasi tersebut digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin yang mengabdi di Desa Wanio Timoreng. Program ini dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni menekan biaya pakan bagi peternak serta mengurangi limbah organik rumah tangga.
Bagi peternak unggas dan ikan skala kecil, tingginya harga pakan pabrikan menjadi salah satu beban terbesar dalam biaya produksi. Kondisi itu membuat sebagian peternak harus mengurangi penggunaan pakan atau menjual ternak lebih cepat untuk menekan kerugian.
Di sisi lain, limbah organik berupa sisa makanan, sayuran dan kulit buah masih banyak yang belum dikelola. Sampah tersebut akhirnya menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi mengganggu kesehatan lingkungan.
Melihat dua persoalan tersebut, mahasiswa KKNT Unhas memperkenalkan budidaya maggot BSF sebagai pendekatan ekonomi sirkular. Sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai media pakan larva, sementara maggot yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber protein tambahan untuk ikan dan unggas.
Program diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat serta pembuatan biopond sederhana di Kantor Desa Wanio Timoreng. Fasilitas pembesaran maggot tersebut dibuat menggunakan material yang mudah diperoleh, seperti kayu, bambu dan terpal.
Mahasiswa juga mengedukasi warga mengenai karakteristik BSF untuk menghilangkan anggapan bahwa maggot identik dengan lalat pembawa penyakit. Warga kemudian diajak memilah sampah organik dari rumah untuk dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai pakan larva BSF.
Maggot yang telah memasuki masa panen selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan maupun campuran pakan ikan dan unggas. Pemanfaatan tersebut diharapkan membantu peternak mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan sekaligus menekan biaya produksi.
Tak berhenti pada maggot, program tersebut juga memanfaatkan residu hasil budidaya berupa kasgot. Bahan organik sisa proses budidaya ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman sehingga mendukung konsep pengelolaan limbah yang lebih minim residu.

Kepala Desa Wanio Timoreng, Syamsuddin, S.Sos., mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKNT Unhas. Ia mengakui masyarakat sempat meragukan budidaya maggot, namun keraguan tersebut perlahan berubah setelah mahasiswa memberikan contoh penerapan secara langsung.
“Awalnya kami memang ragu, masa memelihara belatung bisa jadi solusi? Namun, adik-adik mahasiswa ini gigih memberi bukti nyata lewat percontohan langsung di kolam ikan saya, bukan sekadar teori,” ujar Syamsuddin, 13 Agustus 2026.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti selama masa KKN, tetapi dapat dilanjutkan masyarakat sebagai alternatif usaha sekaligus bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan Desa Wanio Timoreng. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muh. Fakhrizal (Mahasiswa Petrernakan Unhas)













