SIDRAP — Musim kemarau mulai memberi tekanan berat kepada masyarakat Desa Wanio Timoreng. Hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan warga mulai mengering, sementara para petani menghadapi persoalan lain yang tak kalah pelik, yakni kelangkaan LPG 3 kilogram.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Hasanuddin (KKNT Unhas) Gelombang 116 melalui program kerja “Lensa Desa: Dokumentasi Realitas Desa”.
Sesuai keterangan tertulis yang diterima mediasulsel.com, Jumat (21/8/2026), program ini tidak sekadar mendokumentasikan aktivitas masyarakat melalui foto dan video. Mahasiswa turun langsung menggali persoalan warga dengan mewawancarai petani, ibu rumah tangga, hingga perangkat desa.
Hasil penelusuran mahasiswa menunjukkan adanya keterkaitan antara kekeringan lahan pertanian dan sulitnya memperoleh LPG 3 kilogram.
Petani Kesulitan Mendapatkan Gas untuk Pompa Air
Bagi petani Wanio Timoreng, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mempertahankan tanaman padi selama musim kemarau.
Ketika saluran irigasi mulai mengering, sebagian petani mengandalkan sumur bor maupun sumber air lainnya dengan menggunakan mesin pompa.
Untuk menekan biaya operasional, sejumlah petani memodifikasi mesin pompa agar dapat menggunakan LPG 3 kilogram sebagai sumber energi.
Namun, kondisi tersebut kini justru menjadi persoalan baru karena LPG bersubsidi sulit ditemukan.
“Bibit sudah ditanam, pupuk sudah disebar, tapi kalau air tidak ada, kami mau panen apa? Mesin pompa ada, tapi gasnya yang hilang dari pasaran,” ungkap seorang petani kepada tim Lensa Desa.
Kelangkaan LPG membuat petani harus mencari tabung gas hingga ke desa tetangga dan pusat kecamatan.
Kondisi ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran petani terhadap keberlangsungan tanaman mereka. Jika kebutuhan air tidak segera terpenuhi, ancaman gagal panen atau puso semakin besar.
Kelangkaan LPG Juga Bebani Rumah Tangga
Persoalan LPG tidak hanya dirasakan petani. Tim Lensa Desa juga menemukan keluhan serupa di tingkat rumah tangga.
Bagi ibu rumah tangga, LPG 3 kilogram merupakan kebutuhan penting untuk memasak sehari-hari. Ketika stok terbatas, warga terpaksa membeli di tingkat pengecer dengan harga lebih tinggi.
“Bapaknya pusing urus sawah yang kekeringan, di rumah saya juga pusing mau masak pakai apa. Mau beli gas harganya melambung tinggi di eceran, itu pun barangnya tidak ada,” keluh seorang ibu rumah tangga.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kelangkaan LPG telah memberikan dampak berlapis terhadap masyarakat, mulai dari sektor pertanian hingga kebutuhan domestik.
Pemerintah Desa Terbentur Distribusi dan Kuota
Mahasiswa KKNT 116 kemudian menggali persoalan tersebut dari sisi pemerintah desa.
Menurut keterangan perangkat desa, pemerintah setempat telah melakukan koordinasi dengan agen distributor dan pihak kecamatan untuk mengupayakan penanganan kelangkaan LPG, termasuk kemungkinan operasi pasar maupun penambahan pasokan.
Namun, pemerintah desa menghadapi keterbatasan kewenangan dalam mengatur distribusi LPG bersubsidi.
“Kuota distribusi gas LPG 3 kilogram sering kali tidak sebanding dengan lonjakan permintaan, terutama saat musim kemarau. Kami terus berkoordinasi dengan agen distributor dan pihak kecamatan agar ada operasi pasar atau penambahan kuota darurat untuk Wanio Timoreng,” jelas perwakilan perangkat desa.
Menurutnya, tingginya permintaan dari rumah tangga dan sektor pertanian turut mempercepat habisnya stok di pangkalan resmi.
Lensa Desa Angkat Realitas Warga

Pemutaran video hasil program Lensa Desa yang diproduksi Mahasiswa KKN Tematik Unhas Desa Wanio Timoreng Sidrap. (Foto: Muh. Fakhrizal)
Melalui program Lensa Desa, mahasiswa KKNT Unhas berupaya menyajikan persoalan Wanio Timoreng dari berbagai sudut pandang.
Petani menghadapi ancaman kekeringan dan gagal panen. Ibu rumah tangga kesulitan memenuhi kebutuhan energi untuk memasak. Sementara pemerintah desa berupaya mencari solusi di tengah keterbatasan kewenangan dan persoalan distribusi.
Mahasiswa menilai persoalan tersebut tidak dapat dilihat secara terpisah. Kemarau yang menyebabkan kebutuhan pompa air meningkat bertemu dengan persoalan ketersediaan LPG, sehingga menciptakan tekanan tambahan bagi masyarakat.
Program Lensa Desa diharapkan menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pemangku kepentingan.
Bagi mahasiswa KKNT Unhas Gelombang 116, pengabdian di desa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik. Dokumentasi dan penyampaian suara masyarakat juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan perubahan.
Melalui pendekatan jurnalistik yang faktual, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik, Lensa Desa mencoba memastikan persoalan warga Wanio Timoreng tidak berhenti sebagai catatan selama masa pengabdian mahasiswa, tetapi dapat menjadi perhatian bersama untuk mencari solusi atas krisis air dan kelangkaan LPG yang mereka hadapi. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter : Muh. Fakhrizal (Mahasiswa Peternakan Unhas)













