SEMARANG—Sebanyak 32 mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (FIKKES) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) mengikuti pelatihan intensif perawatan luka selama empat hari, mulai Selasa–Jumat, 29 September–2 Oktober 2026.
Pelatihan bertajuk Certified Wound Healing Practitioner Programme itu tidak hanya berisi teori. Peserta mengikuti rangkaian pembelajaran mulai dari penguatan konsep, asesmen luka, pemilihan dressing, pembahasan berbagai jenis luka, studi kasus, workshop, clinical practice, hingga evaluasi melalui post-test dan ujian kasus.
Kaprodi S1 Keperawatan FIKKES UNIMUS, Dr. Ns. Machmudah, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Mat., mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa agar ilmu yang diperoleh selama pendidikan semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lahan praktik.
“Pelatihan ini menjadi jalan bagi mahasiswa untuk membuka cakrawala keilmuan sekaligus memperluas kompetensi dalam perawatan luka. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi perlu mengetahui bagaimana ilmu tersebut diterapkan ketika menghadapi kondisi pasien yang beragam di lahan praktik. Kami ingin mahasiswa memiliki bekal yang lebih kuat, adaptif, dan siap terus mengembangkan kompetensi profesionalnya,” ujar Machmudah.
Menurutnya, perkembangan pelayanan kesehatan menuntut calon perawat tidak berhenti pada kompetensi dasar. Mahasiswa perlu membangun budaya belajar sepanjang hayat, mengikuti perkembangan ilmu, serta mampu mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam pelayanan.
Rangkaian Certified Wound Healing Practitioner Programme disusun secara progresif selama empat hari. Pada hari pertama, peserta mengikuti pre-test sebelum mendapatkan materi Building Learning Commitment, pengantar program, wound healing process, wound assessment, hingga wound bed preparation.
Materi kemudian semakin spesifik pada hari kedua. Peserta mempelajari dressing selection, acute wound care, malignant wound care, diabetic wound care, hingga pressure injury wound care.
Memasuki hari ketiga, pola pembelajaran bergeser dari penguatan konsep menuju penerapan melalui case study and workshop, clinical practice, serta diskusi kelompok.
Tahapan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan konsep yang telah dipelajari dengan persoalan yang dapat ditemui dalam praktik perawatan luka.
Pada hari terakhir, peserta mengikuti post-test dan ujian kasus yang dilanjutkan dengan presentasi. Program kemudian diarahkan pada penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bagian dari keberlanjutan proses pembelajaran setelah pelatihan berakhir.
Ketua Panitia Pelatihan Perawatan Luka sekaligus dosen Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Ns. Prima Trisna Aji, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menilai kompetensi perawatan luka merupakan bekal mahasiswa ketika nantinya berhadapan langsung dengan kondisi pasien di lapangan.
Menurut Prima, tantangan dalam perawatan luka tidak selalu dapat diselesaikan dengan menghafal prosedur. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan melakukan asesmen, membaca karakteristik luka, menghubungkan temuan klinis dengan kebutuhan pasien, serta memahami dasar pertimbangan dalam menentukan intervensi keperawatan.
“Bekal paling penting bagi mahasiswa bukan sekadar mampu melakukan prosedur, tetapi memahami alasan klinis di balik setiap tindakan. Ketika berada di lapangan, mereka akan bertemu pasien dengan karakteristik luka dan kebutuhan yang berbeda-beda.”
“Karena itu, pelatihan ini kami arahkan untuk membangun clinical readiness sekaligus clinical reasoning mahasiswa, sehingga mereka mampu melakukan asesmen, berpikir kritis, dan mengambil keputusan keperawatan secara tepat dengan tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas,” ujar Prima.
Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar seperti ini diharapkan dapat memperpendek jarak antara teori yang dipelajari di kampus dan realitas pelayanan kesehatan.
“Kami ingin mahasiswa datang ke lahan praktik bukan hanya membawa pengetahuan dari buku, tetapi juga membawa kesiapan untuk mengobservasi, menganalisis, berdiskusi, dan terus belajar. Kompetensi itulah yang nantinya akan menjadi modal mereka untuk tumbuh menjadi perawat profesional,” tambahnya.
Pelatihan ini menggandeng tim perawatan luka Universal Care Indonesia. Kolaborasi dengan praktisi diharapkan memberikan perspektif lebih luas kepada mahasiswa mengenai perkembangan praktik perawatan luka sekaligus peluang pengembangan profesi keperawatan.
Perwakilan tim Universal Care Indonesia, Ns. Lelik Ardiyanto, S.Kep., RN, MCHEN, CWCC., mengatakan pengalaman tim perawatan luka selama ini tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau kegiatan di luar negeri.
“Selama ini tim kami telah berbagi pengalaman dan kompetensi perawatan luka tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kami ingin mahasiswa melihat bahwa profesi keperawatan memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang. Terus tingkatkan kompetensi, bangun pengalaman, perluas jejaring, dan jangan takut melebarkan sayap hingga ke tingkat internasional,” ujar Lelik.
Pesan tersebut sekaligus memberikan perspektif kepada mahasiswa bahwa kompetensi klinis tidak semata-mata menjadi bekal untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi modal pengembangan karier profesional di masa depan.
Perawatan luka merupakan bagian pelayanan keperawatan yang membutuhkan kemampuan lebih dari sekadar mengganti balutan. Perawat perlu memahami proses penyembuhan luka, melakukan asesmen, mempersiapkan wound bed, mempertimbangkan pemilihan dressing, serta memahami karakteristik dan kebutuhan perawatan pada berbagai kondisi luka.
Karena itu, cakupan pelatihan tidak hanya membahas luka secara umum. Peserta juga mempelajari penatalaksanaan luka akut, luka keganasan, luka diabetik, hingga pressure injury.
Pendekatan yang memadukan teori, studi kasus, workshop, clinical practice, diskusi, dan evaluasi tersebut diarahkan untuk mempersempit jarak antara pembelajaran akademik dengan kebutuhan kompetensi di dunia pelayanan kesehatan.
Desain pembelajaran pelatihan mengarahkan mahasiswa tidak hanya mengetahui “apa” yang dilakukan dalam perawatan luka, tetapi juga memahami “mengapa” dan “bagaimana” suatu tindakan dipertimbangkan dalam konteks klinis.
Adanya pre-test dan post-test, pembahasan kasus, workshop, clinical practice, ujian kasus, presentasi, hingga RTL membentuk siklus pembelajaran learn–practice–evaluate–follow up. Pola tersebut mendorong peserta bergerak dari penguasaan pengetahuan menuju penerapan dan evaluasi kompetensi.
Pelatihan juga memberikan penguatan terhadap clinical reasoning, yakni kemampuan mahasiswa mengintegrasikan hasil asesmen, kondisi pasien, pengetahuan keperawatan, dan pertimbangan klinis sebelum menentukan tindakan.
Melalui Certified Wound Healing Practitioner Programme, Prodi S1 Keperawatan FIKKES UNIMUS berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan mengenai perawatan luka, tetapi juga semakin memahami pengembangan kompetensi profesional secara berkelanjutan.
Dari ruang kelas menuju clinical practice, dan dari kompetensi lokal menuju wawasan global, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya UNIMUS mempersiapkan generasi perawat yang adaptif, memiliki kemampuan klinis yang kuat, mengedepankan keselamatan pasien, serta berani mengambil peluang dalam perkembangan profesi keperawatan di masa depan. (*)














