PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanNew and Now Gaza, Saatnya Perisai Umat DibutuhkanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan NegeriPascasarjana Unhas Bangun Riset Berbasis Suara Komunitas Bersama National Geographic ExplorerPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanNew and Now Gaza, Saatnya Perisai Umat DibutuhkanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan NegeriPascasarjana Unhas Bangun Riset Berbasis Suara Komunitas Bersama National Geographic Explorer
Media Kampus

Kuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi Kesehatan

12
×

Kuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi Kesehatan

Sebarkan artikel ini
1002136658

MAKASSAR—Akurasi tinggi belum cukup untuk membuat kecerdasan buatan (AI) aman digunakan di sektor kesehatan. AI juga harus andal, transparan, mampu melindungi privasi, tahan terhadap gangguan dan memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Hal itu mengemuka dalam kuliah tamu internasional bertajuk “Trustworthy AI for Critical Systems and Health Innovation” yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Jumat, 11 September 2026.

Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom dengan menghadirkan Professor Alan Wee-Chung Liew, Head of the School of Information and Communication Technology, Griffith University, Australia.

1002136656

Kuliah tamu ini diikuti mahasiswa, dosen, peneliti, tenaga kesehatan, serta peserta dari berbagai institusi. Kehadiran pakar dari Griffith University menjadi bagian dari langkah Sekolah Pascasarjana Unhas memperkuat internasionalisasi pendidikan dan penelitian sekaligus membuka ruang kolaborasi di bidang AI dan kesehatan.

Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., mengatakan AI merupakan salah satu perkembangan teknologi paling aktual yang telah merambah berbagai sektor, termasuk kesehatan.

Karena itu, sivitas akademika tidak cukup hanya memahami manfaat AI, tetapi juga harus mampu membaca risiko dan tantangan penerapannya.

“Universitas Hasanuddin terus berupaya meningkatkan program internasionalisasi dalam berbagai aspek, termasuk melalui profesor tamu, konferensi internasional, penelitian bersama, dan publikasi kolaboratif,” ujar Prof. Sukri.

Dalam paparannya, Professor Alan menjelaskan perkembangan deep learning, large language models, generative AI hingga agentic AI telah membuat kemampuan AI berkembang sangat pesat.

Namun, tingginya akurasi sebuah model belum otomatis menjadikannya aman untuk digunakan dalam situasi nyata.

“Akurasi yang tinggi memang diperlukan, tetapi belum cukup untuk menjamin penerapan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam kondisi dunia nyata,” jelasnya.

Menurutnya, ketika AI digunakan pada sistem kritis seperti layanan kesehatan, pemerintahan, perbankan dan infrastruktur publik, kegagalan teknologi dapat menimbulkan konsekuensi serius.

Karena itu, AI tepercaya harus memiliki sejumlah karakteristik, antara lain andal, dapat dijelaskan, tangguh terhadap gangguan, aman dari serangan, mampu melindungi privasi, serta memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Khusus sektor kesehatan, AI memiliki potensi besar untuk mendukung diagnosis dini, analisis citra medis, pemilihan terapi yang lebih personal hingga prediksi risiko pasien.

Namun, penerapannya juga menghadirkan ancaman berupa bias data, kesalahan interpretasi, pelanggaran privasi dan rekomendasi yang tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien.

“AI dalam bidang kesehatan menghadirkan peluang sekaligus risiko. Apabila tidak dikembangkan secara hati-hati, bias dan kesalahan interpretasi dapat menyebabkan atau bahkan memperbesar bahaya bagi pasien,” tegas Professor Alan.

Professor Alan juga memperkenalkan berbagai riset yang dikembangkan melalui TrustAGI Lab dan AI for Health Lab di Griffith University.

Riset tersebut mencakup analisis citra medis, patologi, dermatologi, neurosains, informatika kesehatan, rekam medis elektronik hingga AI untuk mendukung keputusan klinis.

Salah satu proyeknya menggunakan AI untuk membantu memprediksi hasil intervensi pada anak dengan cerebral palsy melalui data kesehatan dan pendekatan penalaran kausal.

Pada sesi diskusi yang dipandu Dr. Wahyuni, M.Kes., Professor Alan menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan dan ilmuwan AI.

Menurutnya, pengembangan teknologi kesehatan tidak dapat hanya bertumpu pada kemampuan teknis, tetapi harus berangkat dari persoalan klinis yang nyata.

“Langkah terbaik adalah mempertemukan tenaga medis yang memahami permasalahan klinis dengan ilmuwan AI yang memiliki keahlian teknis. Kedua bidang tersebut harus bekerja bersama untuk menghasilkan sistem yang benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak,” jelasnya.

Prof. Sukri menyambut peluang kolaborasi Unhas dan Griffith University dalam pendidikan, penelitian dan publikasi ilmiah.

Dengan 17 program studi yang mencakup bidang lingkungan, biomedik, teknik biomedis, manajemen transportasi, kebidanan hingga kajian pembangunan, Sekolah Pascasarjana Unhas dinilai memiliki ruang besar untuk mengembangkan riset AI secara multidisiplin.

Melalui kuliah tamu tersebut, Sekolah Pascasarjana Unhas menegaskan bahwa percepatan teknologi AI harus diikuti kesiapan akademik dan tata kelola yang kuat.

Inovasi kesehatan berbasis AI tidak hanya dituntut canggih dan akurat, tetapi juga aman, transparan, menjaga privasi, dapat dipertanggungjawabkan, serta memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat. (Ag4ys)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com