MAKASSAR—Dampak pemanasan global terhadap perubahan suhu air menjadi perhatian Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas). Fenomena tersebut dikaji melalui penelitian jangka panjang selama sekitar 50 tahun di kawasan perairan Kyushu, Jepang bagian barat.
Untuk membedah persoalan itu, Sekolah Pascasarjana Unhas menghadirkan Prof. Dr. Eng. Hideo Oshikawa dari Saga University, Jepang, dalam kuliah tamu internasional yang digelar di Prof. Dr. Ir. Fachruddin Hall, Kamis (10/9/2026).
Kuliah tamu bertajuk “Temporal and Spatial Changes of Water Temperature during the Past 50 Years due to Global Warming in the Enclosed Inner Bay and Its Inflowing River in Kyushu, Western Part of Japan” tersebut digelar secara hibrida dan diikuti mahasiswa, dosen, peneliti, serta pemerhati perubahan iklim dan lingkungan perairan.
Dalam pemaparannya, Prof. Oshikawa mengungkap bagaimana perubahan suhu air berlangsung secara temporal dan spasial pada kawasan teluk dalam yang relatif tertutup serta sungai yang bermuara ke wilayah tersebut.
Kajian selama lima dekade itu menunjukkan bahwa perubahan suhu air tidak berlangsung seragam. Kondisi geografis, aliran sungai, pertukaran air laut, musim, hingga perubahan suhu lingkungan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi karakteristik termal perairan.
“Data jangka panjang sangat penting untuk memahami arah perubahan lingkungan. Tanpa pengamatan yang konsisten, kita akan sulit membedakan variasi alami dengan perubahan yang benar-benar berkaitan dengan pemanasan global,” ujar Prof. Oshikawa.
Perubahan suhu air, lanjutnya, tidak sekadar menjadi persoalan angka. Fenomena tersebut dapat berdampak pada kualitas air, keseimbangan ekosistem, distribusi organisme akuatik hingga produktivitas sumber daya pesisir.
Kawasan teluk yang relatif tertutup juga memiliki kerentanan tersendiri karena sirkulasi air yang lebih terbatas. Tekanan lingkungan di wilayah tersebut perlu dilihat secara menyeluruh dengan menghubungkan kondisi sungai, muara, teluk dan laut.
Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas Prof. Sukri Palutturi mengatakan perubahan iklim kini tidak bisa hanya dilihat dari kenaikan suhu udara. Dampaknya telah menyentuh ekosistem perairan, lingkungan pesisir, kehidupan masyarakat hingga keberlanjutan pembangunan.
“Universitas perlu mendorong penelitian yang mampu menghasilkan bukti ilmiah sebagai dasar penyusunan kebijakan,” kata Prof. Sukri.
Menurutnya, pengalaman penelitian di Jepang dapat menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah pesisir sangat luas dan menghadapi tekanan perubahan iklim. Karena itu, ia berharap kuliah tamu tersebut tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kolaborasi riset antara Unhas dan perguruan tinggi di Jepang.
“Persoalan lingkungan melampaui batas wilayah dan negara. Kita membutuhkan kolaborasi internasional untuk berbagi data, metode, pengalaman, dan inovasi dalam merumuskan solusi yang lebih kuat,” tegasnya. (Ag4ys)













