BONE — Persoalan limbah organik dan menurunnya kesuburan tanah menjadi tantangan yang kian penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Di tengah kebutuhan lahan terhadap bahan organik, limbah pertanian dan peternakan justru masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Sesuai keterangan tertulis yang diterima mediasulsel.com, Senin (24/8/2026), kondisi tersebut mendorong Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin menghadirkan Pabbura Mannennungeng melalui Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone.
Inovasi ini memanfaatkan Tumbling Composter untuk mengolah limbah jerami dan kotoran ternak menjadi pupuk organik yang dapat dikembalikan ke lahan pertanian. Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan Integrated Crop–Livestock Systems (ICLS) yang mengintegrasikan sektor tanaman pangan dan peternakan dalam satu siklus pengelolaan sumber daya.
Berdasarkan hasil observasi, survei lapangan, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD), tim menemukan persoalan rendahnya kandungan bahan organik tanah akibat penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus. Di sisi lain, Desa Kajaolaliddong memiliki potensi jerami dan kotoran ternak yang cukup melimpah.
Melalui Pabbura Mannennungeng, limbah tersebut tidak lagi dipandang sebagai bahan buangan. Jerami dan kotoran ternak diolah melalui proses pengomposan hingga menghasilkan pupuk organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman.
Penggunaan kompos secara rutin diketahui dapat membantu meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur dan aerasi tanah, meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air, serta mendukung aktivitas mikroorganisme. Kondisi tanah yang lebih sehat juga berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik.
Selain berdampak pada sektor pertanian, pengolahan limbah organik melalui komposting turut memberikan manfaat bagi lingkungan. Limbah yang sebelumnya berpotensi dibakar atau dibuang dapat diolah menjadi produk bernilai guna sehingga membantu mengurangi timbulan sampah dan potensi pencemaran.
Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas tidak hanya memperkenalkan Tumbling Composter, tetapi juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani. Materi yang diberikan mencakup pemilihan bahan baku, teknik pembuatan kompos, penggunaan bioaktivator, pengoperasian alat hingga penerapan pupuk organik pada lahan pertanian.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengelola limbah secara mandiri sekaligus membuka peluang pemanfaatan pupuk organik sebagai sumber daya ekonomi baru.
Program Pabbura Mannennungeng menunjukkan bahwa limbah pertanian dan peternakan dapat menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan. Dengan mengintegrasikan pengelolaan limbah, teknologi sederhana, dan pemanfaatan sumber daya lokal, masyarakat didorong membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan pengolahan limbah organik sebagai bagian dari budaya pertanian di Desa Kajaolaliddong. Dengan begitu, limbah tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi dapat diubah menjadi sumber daya untuk menjaga kesuburan tanah, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kesejahteraan petani.(Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Aydil Fitra Mulya (Ketua UKM KPI Unhas)













