TORAJA UTARA — Ketahanan pangan keluarga dapat dimulai dari pekarangan rumah. Gagasan itu menjadi fokus Lomba Kebun Gizi Keluarga (KGK) yang digelar Pokja III TP PKK Kabupaten Toraja Utara.
Program tersebut mendorong warga memanfaatkan lahan di sekitar rumah sebagai sumber pangan, pemenuhan gizi, sekaligus peluang ekonomi keluarga.
Selama 2–8 Agustus 2026, tim penilai mendatangi rumah warga di lima wilayah, yakni Kelurahan Mentirotiku, Kecamatan Rantepao; Kelurahan Tongkonan Basse, Kecamatan Buntao; Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, Kecamatan Nanggala; Sa’dan Pebulian, Kecamatan Sa’dan; dan Lembang Sereale, Kecamatan Tikala.
Penilaian tidak hanya berfokus pada kondisi fisik kebun, tetapi juga pemanfaatannya untuk menghasilkan pangan dan memberi manfaat bagi keluarga.
Di lapangan, warga mengembangkan beragam komoditas, mulai dari sayuran, cabai, buah dan tanaman obat hingga ikan dan ayam. Sebagian keluarga juga mengintegrasikan kebun dengan pemeliharaan ternak.
Di Kelurahan Tongkonan Basse, misalnya, warga membudidayakan cabai katokkon, cabai rawit, kangkung, bayam, sawi, kucai, daun bawang, tomat dan berbagai tanaman herbal. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, sebagian hasil kebun dijual sebagai tambahan pendapatan.
Sementara di Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, tim penilai mengunjungi 10 rumah tangga di wilayah pegunungan. Jarak antarrumah yang berjauhan dan musim kemarau tidak menyurutkan warga mengelola pekarangan.
Sejumlah tanaman yang ditemukan antara lain terong, buncis, kangkung, sawi, cabai, tomat, timun, daun bawang, seledri, jeruk lemon, jahe dan kunyit.
Di Sa’dan Pebulian, warga memanfaatkan lingkungan rumah dengan menanam berbagai tanaman hortikultura, seperti markisa, kangkung dan labu. Pemanfaatan pekarangan juga dipadukan dengan pemeliharaan ternak, termasuk kerbau Saleko yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Adapun di Lembang Sereale, Kecamatan Tikala, sebanyak 10 rumah warga menjadi lokasi penilaian. Bayam, kacang panjang, sawi, seledri, daun bawang, jahe dan kunyit menjadi sejumlah tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ketua TP PKK Toraja Utara, Ny. Damayanti Batti Palimbong, turut meninjau pemanfaatan pekarangan warga di Kecamatan Nanggala.

Menurut Damayanti, program tersebut bertujuan mendekatkan sumber pangan dengan keluarga sehingga kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi dari lingkungan rumah.
“Hal ini bertujuan untuk mendekatkan pasar ke rumah. Jadi ibu-ibu rumah tangga tidak perlu lagi ke pasar, tetapi bisa memetik sayur dari kebunnya, mengambil ikan dan ayam untuk dikonsumsi keluarga, sehingga keluarga menjadi sehat dan anak-anak terjamin gizinya,” ujar Damayanti, Senin (10/8/2026)
Ia mengatakan musim kemarau menjadi salah satu tantangan, terutama terkait ketersediaan air. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat warga mengelola pekarangan.
“Bulan-bulan ini memang mengalami musim kemarau sehingga beberapa warga mengeluhkan ketersediaan air. Namun tentunya mereka tidak patah semangat dan tetap berusaha untuk memelihara tanamannya masing-masing,” katanya.
Damayanti berharap pemanfaatan pekarangan terus dilakukan meski rangkaian lomba telah berakhir.
“Saya berharap masyarakat tetap berkelanjutan menanam sayur-sayuran, cabai, memelihara ikan dan ayam di rumah masing-masing. Toraja ini sangat subur dan pekarangan masyarakat juga sangat luas, sehingga bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan mereka sendiri,” ujarnya.
Enam Aspek Penilaian
Staf Ahli Bidang Penguatan Pangan, Sandang, dan Tata Laksana Rumah Tangga Pokja III TP PKK Toraja Utara, Ir. Driyunitha, M.P., mengatakan KGK diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga.
Program ini sekaligus diharapkan mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan dan membangun budaya menanam.
“Pola pikir masyarakat diharapkan berubah, dari hanya menjadi konsumen menjadi produsen, minimal di tingkat rumah masing-masing,” jelas Driyunitha.
Menurutnya, penilaian KGK mencakup enam aspek, yakni keanekaragaman tanaman, pemanfaatan lahan, inovasi, kesehatan tanaman, produktivitas dan estetika.
Keanekaragaman tanaman mencakup sedikitnya tiga kelompok, yakni sayuran, buah dan tanaman obat. Sementara pemanfaatan lahan menilai sejauh mana pekarangan yang tersedia dioptimalkan.
Aspek inovasi meliputi pengolahan limbah dapur dan kotoran hewan menjadi kompos atau pupuk organik cair, penggunaan pestisida organik serta penerapan berbagai sistem tanam.
Kesehatan tanaman dinilai dari tingkat kesuburan dan serangan organisme pengganggu tanaman. Produktivitas mencakup frekuensi panen serta pemanfaatan hasil panen.
Adapun aspek estetika meliputi kebersihan, kerapian, keindahan dan suasana asri lingkungan pekarangan.
Driyunitha mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan program. Musim kemarau membuat ketersediaan air menjadi faktor pembatas. Di sisi lain, motivasi sebagian masyarakat untuk mengoptimalkan pekarangan juga masih perlu diperkuat.
Karena itu, keberlanjutan program menjadi perhatian setelah penilaian selesai. Kebun yang telah berkembang diharapkan tetap dipelihara dan menjadi contoh bagi keluarga lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan organisasi perangkat daerah terkait agar pemanfaatan pekarangan dapat terus dikembangkan.

Pekarangan Jadi Sumber Pangan dan Ekonomi
Penilaian di lima wilayah menunjukkan kondisi dan potensi pekarangan yang beragam. Namun, terdapat pola yang sama: warga berupaya menjadikan lahan di sekitar rumah lebih produktif.
Di tengah musim kemarau dan keterbatasan air, sebagian warga tetap menanam sayuran dan tanaman obat. Di lokasi lain, hasil kebun telah memberikan tambahan pendapatan. Pemeliharaan ikan, ayam dan ternak juga menjadi bagian dari pemanfaatan potensi rumah tangga.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak harus dimulai dari skala besar. Pemanfaatan pekarangan dapat menjadi langkah sederhana bagi keluarga untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri.
Program KGK juga menghubungkan ketahanan pangan dengan pemberdayaan ekonomi. Hasil kebun yang dikonsumsi sendiri dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga, sementara kelebihan produksi dapat dijual untuk menambah pendapatan.
Rangkaian penilaian KGK 2026 pada akhirnya tidak sekadar memperlihatkan kebun-kebun yang dinilai. Program ini juga menunjukkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pekarangan sebagai aset yang dapat menghasilkan pangan sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Dari halaman rumah, ketahanan pangan keluarga mulai dibangun. Warga tidak hanya didorong menjadi konsumen pangan, tetapi juga menjadi produsen untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. (4nny)













