TORAJA UTARA — Pendidikan antikorupsi perlu ditanamkan sejak usia dini dan dibangun menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan KPK Goes to School bertema “Cegah Korupsi Sejak Dini” yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Toraja Utara di Art Centre, Alun-alun Kota Rantepao, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung dalam tiga sesi dengan melibatkan lebih dari 1.000 peserta. Mereka terdiri atas anak usia dini, siswa SD dan SMP, guru serta kepala sekolah, hingga pimpinan dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Toraja Utara.
Rangkaian kegiatan tidak sekadar memperkenalkan bahaya korupsi kepada peserta didik. Lebih dari itu, KPK dan TP PKK Toraja Utara mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa integritas harus dibangun sejak dini, baik di lingkungan pendidikan maupun pemerintahan.
Pada sesi pertama, anak-anak TK diperkenalkan dengan nilai-nilai antikorupsi melalui metode mendongeng yang disesuaikan dengan usia mereka. Nilai kejujuran dan perilaku baik disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
Sementara pada sesi kedua, siswa SD dan SMP mengikuti sosialisasi, diskusi dan tanya jawab bersama pimpinan serta jajaran KPK. Suasana berlangsung antusias. Sejumlah peserta didik bahkan berani melontarkan pertanyaan kritis terkait persoalan korupsi.
Wakil Ketua KPK RI Johanis Tanak, SH., MH., mengapresiasi keberanian anak-anak tersebut. Ia menegaskan, integritas harus ditanamkan sejak dini karena karakter yang terbentuk sejak kecil menjadi fondasi ketika seseorang tumbuh dewasa dan memasuki dunia kerja.
Johanis juga berpesan agar anak-anak tidak merasa rendah diri karena tinggal di daerah atau kampung. Menurutnya, anak-anak di daerah harus tetap memiliki cita-cita tinggi, berpikir maju, berwawasan luas dan membangun integritas sejak sekarang.
Pesan tersebut mendapat perhatian Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong. Ia menyoroti sejumlah pertanyaan yang disampaikan peserta didik dalam sesi diskusi, salah satunya mengenai alasan orang-orang pintar di Indonesia masih melakukan korupsi.
Pertanyaan lain yang menarik perhatian adalah alasan tikus digunakan sebagai maskot dalam kampanye pemberantasan korupsi. Bagi Frederik, pertanyaan tersebut menunjukkan peserta didik tidak sekadar menerima materi, tetapi mampu berpikir kritis terhadap persoalan korupsi.
“Anak-anak sangat beruntung di usia muda sudah dapat berkesempatan hadir, berhadapan, berdialog dan mengikuti diskusi bersama pimpinan KPK RI,” ujar Frederik.
Ia berharap para guru dan kepala sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menyerap materi dengan baik serta memberikan ruang kepada peserta didik untuk bertanya dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Ketua TP PKK Kabupaten Toraja Utara Ny. Damayanti B. Palimbong mengatakan, keterlibatan TP PKK dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun karakter dan budaya integritas sejak usia dini.
Menurut Damayanti, anak-anak yang sejak kecil memahami bahaya korupsi dan terbiasa menerapkan nilai kejujuran diharapkan tumbuh menjadi generasi berkarakter, berintegritas serta memiliki budaya malu melakukan perbuatan yang tidak benar.
“Kami yakin bahwa korupsi dapat dicegah dari usia dini. Apabila masih kecil sudah paham tentang bahaya korupsi, diharapkan di usia dewasa, saat memasuki dunia kerja, tidak akan melakukan kejahatan korupsi,” ujar Damayanti.
Ia juga berpesan kepada peserta didik untuk membiasakan diri berlaku jujur, berani mengatakan kebenaran, mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.

“Jadilah anak yang jujur, jangan mengambil apa yang bukan milikmu. Jangan takut mengatakan kebenaran, berani mengakui kesalahan dan selalu bertanggung jawab atas setiap tindakanmu,” pesannya.
Setelah menyasar anak usia dini serta siswa SD dan SMP, kegiatan berlanjut pada sesi ketiga yang melibatkan guru TK, SD dan SMP, serta pimpinan dan jajaran OPD Pemerintah Kabupaten Toraja Utara.
Pada sesi tersebut, Bupati Frederik Victor Palimbong dan Johanis Tanak kembali memberikan penguatan mengenai pentingnya integritas. Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi oleh Direktur Jejaring Pendidikan KPK Dian Novianti serta sesi tanya jawab.
Johanis menegaskan, kehadiran KPK di Toraja Utara merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Ia berharap seluruh jajaran pemerintahan menjalankan tugas dengan baik, menjaga integritas dan tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan negara.
Menurut Johanis, pemberantasan tindak pidana korupsi dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pencegahan dan penindakan. Dalam konteks pencegahan, pendidikan menjadi salah satu jalur penting untuk membangun kesadaran sekaligus karakter antikorupsi.
Ia berharap upaya tersebut dapat mendorong terciptanya pemerintahan yang berintegritas, pembangunan yang semakin baik serta masyarakat Toraja Utara yang semakin sejahtera.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Forum tidak berlangsung satu arah, tetapi diwarnai dialog dan tanya jawab antara peserta dengan para narasumber.

Keterlibatan lebih dari 1.000 peserta dalam tiga sesi menunjukkan pendidikan antikorupsi dapat dibangun melalui ekosistem yang saling terhubung. Dimulai dari anak usia dini, diperkuat di lingkungan sekolah dan keluarga, hingga diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Sinergi KPK RI dan TP PKK Toraja Utara menjadi bagian dari upaya menanamkan integritas sebelum seseorang berhadapan dengan godaan penyalahgunaan kepercayaan dan kekuasaan. Budaya antikorupsi bukan sekadar mengetahui apa yang salah, tetapi membiasakan diri untuk jujur, bertanggung jawab dan berani memilih yang benar sejak dini.(4nny)













