PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Appi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganManna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga KedaiAndi Sudirman Masih Rahasiakan Calon Pj Sekda Sulsel, Tunggu Jufri Rahman Purnabakti312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 TahunMulai Januari 2027, PPPK Penuh Waktu Didorong Jadi ASN Lewat Tes KompetensiOlympic of Statistics 2026 UNM Resmi Ditutup, Mahasiswa Sejumlah Kampus Bersaing di Ajang Statistik NasionalPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Appi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganManna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga KedaiAndi Sudirman Masih Rahasiakan Calon Pj Sekda Sulsel, Tunggu Jufri Rahman Purnabakti312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 TahunMulai Januari 2027, PPPK Penuh Waktu Didorong Jadi ASN Lewat Tes KompetensiOlympic of Statistics 2026 UNM Resmi Ditutup, Mahasiswa Sejumlah Kampus Bersaing di Ajang Statistik Nasional
Toraja Utara

Manna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga Kedai

1
×

Manna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga Kedai

Sebarkan artikel ini
Ryan
Riyan Kristianto Bobong, pemilik Manna Coffee House, saat diwawancarai mengenai perjalanan mengembangkan bisnis kopi di Toraja, Minggu (20/9/2026). (Foto : Anny Marimbunna)

TORAJA UTARA Perjalanan Riyan di dunia kopi tidak dimulai dari sebuah kedai. Ia justru mengenal kopi dari hulunya, mulai dari kebun, pengolahan green bean, proses roasting hingga pengiriman kopi untuk pasar ekspor.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi modal Riyan Kristianto Bobong, membangun Manna Coffee House, kedai kopi yang kini hadir di kawasan wisata Ke’te Kesu’, Toraja Utara.

Perjalanan tersebut dimulai pada 2019 ketika Riyan bekerja di PT Lebang Indokopi Toraja atau Aluk Coffee. Di perusahaan itu, ia mendapat kesempatan mempelajari rantai produksi kopi secara lebih lengkap.

Mulai dari kebun, pengolahan biji kopi, roasting hingga proses pengiriman untuk pasar ekspor menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian membentuk pemahamannya mengenai industri kopi.

Berbekal pengalaman tersebut, Riyan kemudian mencoba membangun usaha sendiri. Ia membuka Hi Brew Coffee dan memperkenalkan konsep “Rumah Kopi” sebagai ruang untuk mengenalkan kopi sekaligus proses menyangrai kopi kepada masyarakat.

“Rumah Kopi itu tempat menyangrai kopi. Saya ingin orang Toraja bisa datang dan belajar tentang kopi,” kata Riyan, saat ditemui mediasulsel.com, Minggu (20/9/2026).

Konsep tersebut kemudian diperkenalkan dalam kegiatan Toraja Highland Fest dan mulai mendapat perhatian lebih luas.

Bagi Riyan, kopi tidak berhenti pada minuman yang tersaji di dalam cangkir. Ada perjalanan panjang di baliknya, mulai dari kualitas bahan baku, proses pengolahan hingga teknik penyajian.

Seiring waktu, Hi Brew Coffee berpindah lokasi dan berkembang menjadi Manna Coffee House.

Nama Manna dipilih dengan makna “berkat dari Tuhan”. Usaha itu kemudian berkembang tidak hanya sebagai kedai, tetapi juga menjalankan aktivitas roasting dan produksi kopi.

Manna menggunakan kopi Arabika, salah satunya yang bersumber dari kawasan Palesan, Tana Toraja. Produk roasting dan kopi bubuknya kini dipesan sejumlah hotel dan kafe di Toraja maupun daerah lain di Indonesia, termasuk Bali, Jakarta dan Kalimantan.

Dalam proses roasting, berat kopi dapat menyusut sekitar 15 hingga 20 persen dari berat awal. Namun, penyusutan berat tersebut diikuti dengan perubahan bentuk dan peningkatan volume biji setelah disangrai.

Tumbuh Bertahap, Tetap Memegang Identitas

Riyan tidak membangun Manna Coffee House dalam waktu singkat. Usaha tersebut tumbuh secara bertahap, dari skala kecil hingga berkembang seperti sekarang.

“Mulai dari kecil, kemudian pelan-pelan menjadi besar. Yang penting kita berproses,” ujarnya.

Prinsip tersebut juga menjadi pegangan Riyan dalam menjalankan bisnis. Menurut dia, pelaku usaha kopi perlu memiliki identitas, tetapi tetap harus mampu membaca kebutuhan pasar.

“Kita tetap idealis dengan kopi kita, di satu sisi kita realistis dengan bisnisnya,” katanya.

Prinsip itu terlihat dari pilihan menu Manna yang terus menyesuaikan perkembangan selera konsumen. Sejumlah varian seperti pistachio coffee latte, butter scotch serta kopi dengan gula aren menjadi pilihan yang banyak diminati, terutama konsumen muda.

Sementara wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan Ke’te Kesu’ lebih banyak memilih espresso. Adapun wisatawan domestik cenderung memilih kopi dengan tambahan rasa seperti gula aren, pistachio dan varian lainnya.

Posisi Manna Coffee House di kawasan wisata membuat kedai tersebut menjadi salah satu titik pertemuan antara kopi Toraja dengan pengunjung dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.

Barista
Barista menyiapkan sajian kopi di Manna Coffee House, kawasan wisata Ke’te Kesu’, TorajaUtara. Minggu (20/9/2026). (Foto : Anny Marimbunna)

Tidak Hanya Bicara Kedai, Riyan Melihat Hulu Kopi Toraja

Pengalaman bekerja di industri kopi membuat perhatian Riyan tidak berhenti pada aktivitas kedai. Ia juga melihat persoalan kopi dari sisi hulu, khususnya keberlanjutan produksi dan kondisi petani.

Menurut Riyan, pengembangan kopi Toraja membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani dan peneliti. Salah satunya melalui peremajaan tanaman serta penelitian terhadap varietas kopi yang produktif dan sesuai dengan kondisi lingkungan saat ini.

Pengembangan kebun-kebun baru juga dapat menjadi momentum untuk mempertimbangkan varietas yang tepat sehingga produktivitas meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Menurutnya, peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas. Jika pasar berkembang tanpa diikuti ketersediaan bahan baku yang memadai, industri kopi justru dapat menghadapi persoalan pasokan.

Pistachio Coffee Latte
Pistachio Coffee Latte dan kudapan pisang goreng yang disajikan di Manna Coffee House, kawasan wisata Ke’te Kesu’, Toraja Utara, Minggu (20/9/2026). (Foto : Anny Marimbunna)

Kedai Kopi Bertambah, Ekosistem Kopi Toraja Tumbuh

Bertambahnya kedai kopi di Toraja juga dipandang Riyan sebagai bagian dari terbentuknya ekosistem kopi.

“Saya support. Semakin banyak semakin bagus,” katanya.

Menurut dia, setiap kedai dapat membawa cerita berbeda mengenai kopi Toraja. Mulai dari asal kopi, karakter rasa hingga proses pengolahan yang dilakukan masing-masing pelaku usaha.

Karena itu, Riyan berharap terbentuk komunitas yang mempertemukan pemilik kedai, barista, roaster, petani dan pelaku usaha kopi lainnya.

Penguatan keterampilan, menurutnya, juga tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar maupun kompetisi. Pelatihan secara berkelanjutan dengan menghadirkan praktisi dari luar daerah dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kemampuan.

Salah satu keterampilan yang dinilai memiliki peluang bagi anak muda Toraja adalah kemampuan sebagai barista.

Riyan melihat penguatan keterampilan di daerah dapat membuka lebih banyak pilihan bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan tanpa harus selalu meninggalkan Toraja demi mencari pekerjaan maupun pengalaman.

Pemerintah, kata dia, dapat mengambil peran melalui pelatihan berkelanjutan, membangun komunikasi dengan pelaku usaha kopi serta mempertemukan pelaku kopi lokal dengan praktisi dari luar daerah.

Bagi Riyan, masa depan kopi Toraja tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak kopi yang terjual di kedai. Di dalamnya terdapat petani, roaster, barista, pelaku usaha, peneliti hingga generasi muda yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Ia berharap kopi Toraja semakin dikenal karena kualitasnya dan semakin banyak masyarakat yang memilih serta bangga mengonsumsi produk daerah sendiri.

“Harapannya semua orang bisa menikmati kopi Toraja dengan kualitas yang lebih baik sesuai standar mereka, dan semakin bangga minum kopi Toraja,” ujar Riyan.

Sebelum kopi Toraja semakin dikenal di luar daerah, Riyan ingin kopi tersebut terlebih dahulu mendapat tempat kuat di tengah masyarakat Toraja sendiri.(4nny)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com