MAKASSAR — Bambu tak sekadar menjadi penghias. Di tangan perajin Toraja Utara, material alam ini disulap menjadi anyaman artistik hingga ukiran Pa’ Barre Allo yang biasanya dibuat dari kayu. Sentuhan bambu itu menjadi daya tarik tenant Toraja Utara di Sulsel Expo & Culinary 2026, sekaligus membawa pesan tentang kearifan lokal, kreativitas perajin, dan kepedulian terhadap alam.
Mengusung konsep beauty and nature, tenant tersebut memadukan anyaman bambu dan ornamen khas Toraja dengan beragam produk unggulan daerah. Mulai dari kopi, pangan lokal, kue tradisional, hingga kerajinan tangan, semuanya ditampilkan dalam satu ruang promosi yang merepresentasikan kekayaan budaya sekaligus potensi usaha masyarakat.
Tenant Toraja Utara hadir di Lapangan Hasanuddin, Makassar, pada 16–18 Oktober 2026, sebagai bagian dari Sulsel Expo & Culinary 2026 dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-357 Provinsi Sulawesi Selatan.
Di balik konsep tersebut, ada keterlibatan Endi Tangdilintin, pelaku UKM kerajinan bambu yang dipercaya merancang dan mengerjakan tenant Toraja Utara. Salah satu bagian yang mencuri perhatian ialah ukiran Pa’ Barre Allo di bagian depan tenant.
Ukiran yang lazim dibuat menggunakan kayu itu kali ini diolah dari bambu. Pilihan material tersebut bukan tanpa alasan. Endi ingin memperkenalkan alternatif bahan kerajinan yang dapat mendukung upaya mengurangi penggunaan kayu.
“Semua ornamen menggunakan bambu, termasuk ukiran Pa’ Barre Allo yang biasanya dibuat dari kayu. Ini salah satu cara untuk mengurangi penebangan hutan,” kata Endi.
Bambu juga dimanfaatkan pada sejumlah bagian dekorasi dan penataan ruang. Anyaman yang menghiasi tenant bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari konsep yang mengedepankan material alam dan keterampilan masyarakat setempat.
Endi mengatakan, proses pengerjaan tenant melibatkan potensi lokal Toraja, mulai dari bahan, tenaga kerja, hingga desain anyaman yang digunakan.
“Keterampilannya, anyaman yang dipasang dalam tenant, dari bahan, tenaga, hingga desain, semuanya berasal dari Toraja,” ujarnya.
Bagi Endi, konsep yang diusung tidak berhenti pada keindahan visual. Ia ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat diterapkan dalam desain yang fungsional sekaligus selaras dengan lingkungan.
“Kami ingin kearifan lokal yang diusung dalam tenant ini sustainable, tanpa plastik, cantik, indah, dan semuanya berfungsi. Kami ingin memperlihatkan kehidupan masyarakat dan alam Toraja,” tuturnya.
Melalui konsep tersebut, bambu menjadi penghubung antara identitas budaya dan produk yang dipamerkan. Material alam memperkuat karakter tenant, sementara produk lokal memperlihatkan hasil pertanian, keterampilan, serta kreativitas pelaku usaha Toraja Utara.

Kopi Toraja hingga Kerajinan Khas Daerah
Di area pameran, pengunjung dapat menemukan beragam produk unggulan Toraja Utara. Produk kopi, misalnya, hadir dalam pilihan Robusta dan Arabika yang dipasarkan oleh pelaku usaha lokal.
Produk pangan juga mendapat tempat tersendiri. Cabai Katokkon, sambal Katokkon, sirup markisa, beras merah, hingga beras ketan organik melengkapi ragam produk yang ditawarkan. Kue tradisional seperti kue Tori dan jipang turut memperkenalkan cita rasa khas daerah kepada pengunjung.
Sementara itu, produk kerajinan bercorak Toraja hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari nampan atau baki hingga cangkir dan gelas. Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai Rp10.000 hingga Rp120.000.
Selama pameran berlangsung, pengunjung terlihat mendatangi tenant untuk melihat-lihat produk, berfoto, hingga melakukan pembelian. Desain berbahan bambu menjadi salah satu daya tarik yang membuat pengunjung berhenti dan mengabadikan momen kunjungan mereka.
Kehadiran tenant ini sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada masyarakat. Potensi Toraja Utara yang ditampilkan pun tidak hanya berkaitan dengan pariwisata dan kerajinan, tetapi juga mencakup hasil pertanian, olahan pangan, dan produk usaha lokal.

Kolaborasi Promosikan Potensi Toraja Utara
Keikutsertaan Toraja Utara dalam Sulsel Expo & Culinary 2026 melibatkan pemerintah daerah, TP PKK, Dekranasda, dan pelaku UMKM. Kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai produk unggulan dalam satu ruang pamer, sekaligus mempertemukan kekayaan budaya dengan potensi ekonomi masyarakat.
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Toraja Utara, Damayanti B. Palimbong, S.IP., M.A., turut hadir mengawal tenant bersama produk-produk UMKM setempat.
Perpaduan desain bambu dan produk lokal menjadi cara Toraja Utara memperkenalkan identitas daerah di tingkat provinsi. Kearifan budaya ditampilkan melalui material dan keterampilan perajin, sementara produk yang dipamerkan memperlihatkan peluang usaha yang tumbuh dari potensi daerah.
Dari anyaman hingga ukiran Pa’ Barre Allo, bambu menjadi elemen yang menyatukan keseluruhan konsep tenant. Material tersebut tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga membawa cerita tentang hubungan masyarakat Toraja dengan alam, keterampilan yang diwariskan, serta upaya memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. (4nny)














