TANA TORAJA — Tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat Lemo, Tana Toraja, disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Daun kelor, kumis kucing, jambu biji, sukun hingga pegagan diolah menjadi teh herbal yang kini bisa dinikmati sekaligus dibeli wisatawan di kawasan objek wisata Lemo.
Usaha tersebut dikembangkan Yuliana Bubun melalui Hosana Sanature Toraja. Berawal dari pembelajaran tentang pembuatan teh herbal dan pemanfaatan tanaman lokal, Yuliana melihat potensi tanaman di sekitar masyarakat untuk diolah menjadi produk yang lebih praktis.
“Awalnya saya belajar membuat produk teh herbal. Dari situ saya melihat tanaman-tanaman lokal di sekitar sini ternyata bisa dikembangkan. Saya kemudian mencoba membuatnya berdasarkan teori yang dipelajari dari mentor, termasuk cara pengolahan dan penggunaan alatnya,” ujar Yuliana saat ditemui di kiosnya di Lemo.
Sejumlah tanaman herbal yang selama ini dikenal masyarakat, seperti kelor, kumis kucing, daun jambu biji, daun sukun dan pegagan, kemudian diolah menjadi teh. Yuliana memilih bentuk teh karena lebih praktis dikonsumsi dengan takaran yang mudah diukur. Setiap sachet berisi sekitar dua gram bahan teh herbal.

Proses produksi diawali dengan pemilihan daun yang masih segar dan berkualitas. Daun dicuci, ditiriskan, lalu dikeringkan menggunakan food dehydrator dengan pengaturan suhu dan waktu yang disesuaikan dengan jenis tanaman. Menurut Yuliana, metode tersebut membuat proses pengeringan lebih terkontrol dibandingkan penjemuran langsung di bawah sinar matahari.
Setelah kering, bahan dikemas dalam kantong teh yang aman untuk makanan dan minuman. Selain teh herbal, jahe diolah menjadi ginger candy, sementara sejumlah bahan lain dikembangkan menjadi keripik dan kudapan.
Yuliana menegaskan, produk yang dibuatnya bukan obat. Pemanfaatannya lebih diarahkan pada pengolahan tanaman herbal yang telah dikenal masyarakat dan tidak memberikan efek secara instan.
“Bukan obat, sifatnya lebih kepada pemanfaatan tanaman herbal dan pencegahan. Penggunaannya juga tidak instan,” katanya.
Bagi Yuliana, usaha tersebut bukan sekadar menjual produk. Ia ingin memanfaatkan sumber daya alam Toraja sekaligus mendorong masyarakat menanam dan membudidayakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi. Saat ini, produknya dipasarkan di kawasan objek wisata Lemo. Wisatawan bisa membeli teh herbal dalam kemasan maupun menikmati langsung teh seduh di kiosnya.
Satu cangkir teh herbal dijual Rp10 ribu, sedangkan teh kemasan dibanderol Rp2.500 per sachet atau Rp50 ribu untuk kemasan berisi 20 sachet. Konsep tersebut memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan karena mereka dapat mencicipi teh berbahan tanaman lokal Toraja sebelum membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
Respons wisatawan disebut cukup baik. Teh berbahan daun kelor menjadi salah satu produk yang menarik perhatian, termasuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kios Yuliana.
Konsep tersebut juga membuka peluang pengembangan wellness tourism di Tana Toraja. Pengalaman wisata tidak hanya berpusat pada objek yang dilihat, tetapi juga pada produk lokal yang dapat dikenali, dicicipi dan dibawa pulang.
Meski mulai mendapat respons positif, Hosana Sanature Toraja masih menghadapi tantangan pemasaran. Yuliana mengaku omzet usaha belum stabil dan keuntungan yang diperoleh masih terbatas karena sebagian pendapatan digunakan untuk membeli peralatan pengolahan serta kebutuhan pengemasan.
Dari sisi legalitas, usaha tersebut telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal untuk sejumlah produk olahan yang dikembangkan.
Ke depan, Yuliana berharap dapat menggandeng distributor dan mitra usaha untuk memperluas pemasaran. Ia juga ingin mendorong masyarakat memanfaatkan tanaman lokal yang selama ini tumbuh di sekitar mereka.
Dari Lemo, tanaman sederhana yang tumbuh di sekitar masyarakat perlahan menemukan nilai baru. Potensi itu menjadi bagian dari cerita lain tentang Tana Toraja—bukan hanya budaya, alam dan tradisi, tetapi juga produk lokal yang bisa dinikmati dan dibawa pulang wisatawan. (4nny)














