TORAJA—Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja semakin mempertegas langkah menuju kampus berdaya saing internasional melalui program Global Academic Project yang berlangsung dari 25 April hingga 1 Mei 2026 di Singapura dan Malaysia.
Program ini menjadi bagian strategi besar UKI Toraja dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi daerah di tengah persaingan pendidikan tinggi internasional.
Melalui agenda tersebut, UKI Toraja menjalin kolaborasi strategis dengan sejumlah kampus ternama di Asia, di antaranya National University of Singapore (NUS), Republic Polytechnic, University of Malaya (UM), hingga Seminari Theoloji Malaysia (STM).
Sebanyak 31 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari jajaran pimpinan universitas dan perwakilan lintas fakultas, mulai dari teknik, teologi, pertanian, ekonomi dan bisnis, hingga keguruan dan ilmu pendidikan.
Rangkaian program mencakup kunjungan akademik, guest lecture, presentasi institusi, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan implementation agreement (IA), hingga penjajakan kerja sama jangka panjang.
Fokus kerja sama diarahkan pada penguatan riset bersama, publikasi internasional, pengembangan sektor pertanian, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga benchmarking kelembagaan.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Kealumnian dan Pengembangan UKI Toraja, Pdt. Dr. Johana Ruadjana Tangirerung, M.Th., menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari agenda internasionalisasi kampus yang telah disiapkan secara terukur.
Menurutnya, kerja sama dengan perguruan tinggi kelas dunia menjadi upaya meningkatkan kapasitas akademik sekaligus membuka akses global bagi dosen dan mahasiswa.
“Program ini adalah langkah strategis dan visioner UKI Toraja untuk membangun kemitraan dengan perguruan tinggi terbaik dunia sekaligus meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa,” ujar Dr. Johana, Sabtu (1/5/2026)

Ia menjelaskan, pemilihan mitra dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan reputasi internasional serta peluang kolaborasi jangka panjang.
“NUS dan UM merupakan universitas terbaik di Asia bahkan dunia, dan kami bersyukur mendapatkan respons positif untuk kerja sama ini,” katanya.
Program tersebut juga menghasilkan capaian konkret berupa penandatanganan MoU dan IA yang menjadi pintu masuk berbagai kolaborasi akademik.
Kerja sama itu membuka peluang pengembangan riset internasional, publikasi ilmiah bersama, pertukaran sivitas akademika, hingga akses magang industri di luar negeri.
Menurut Johana, internasionalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan daya saing lulusan.
“Perguruan tinggi harus memperlengkapi dosen dan mahasiswa dengan pengalaman internasional agar mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Menariknya, UKI Toraja juga membawa identitas budaya lokal sebagai bagian dari diplomasi akademik di tingkat internasional.
Budaya Toraja dinilai menjadi nilai tambah dalam membangun hubungan kolaboratif dengan mitra luar negeri.
Ke depan, UKI Toraja menargetkan pengakuan internasional melalui implementasi nyata dari kerja sama yang telah dijalin.
“Kami menargetkan rekognisi internasional serta implementasi konkret dari seluruh kerja sama ini, yang juga akan berdampak pada pencapaian akreditasi unggul,” tambahnya.
Ia pun mendorong generasi muda untuk berani mengambil peluang di panggung global.
“Jangan takut bersaing. Teruslah meng-upgrade diri, dan UKI Toraja siap menjadi ruang untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global,” pungkasnya. (4nny/4dv)










