OPINI—Kesehatan mental generasi Indonesia kian bermasalah. Alih-alih kasusnya berkurang semakin kesini kian bertambah. Bagaimana tidak, menurut Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (kemendukbangga/BKKBN) mengemukakan bahwa sebanyak 15,5 juta jiwa atau 34,9% dari total remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental cukup tinggi.
Seperti yang baru terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), ditemukan seorang mahasiswi berinisial BK (21) tewas tergantung di kamar kosnya, dari pemeriksaan jenazah korban pihak kepolisian tak menemukan tanda-tanda kekerasan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) korban diduga meninggal akibat bunuh diri.
Apa yang terjadi di Makassar, hanya satu dari sekian kasus bunuh diri remaja yang nampak ke permukaan. Mengutip dari laman brin.go.id yang diterbitkan pada 21/11/23, setidaknya dari kasus bunuh diri sebanyak 2113 kasus, 985 kasus diantaranya bunuh diri di kalangan pemuda.
Nahasnya, kian hari kita semakin mendapati fenomena yang begitu mengiris hati terkait generasi saat ini. Pemuda yang seharusnya menjadi pionir, leader of change dalam peradaban malah menjadi generasi yang memiliki mental lemah dan pesimisme.
Masalah kesehatan mental tetap menjadi masalah kesehatan yang belum mampu diselesaikan entah itu secara nasional maupun global. Angka bunuh diri di tingkat remaja kian meninggi di setiap tahunnya.
Hal tersebut ditengarai akibat tingginya depresi dikalangan remaja. Dikuti dari data WHO, remaja rentang usia 15-29 tahun banyak melakukan bunuh diri, terlebih menjadi penyebab kematian nomor dua setelah kecelakaan.
Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 80% kasus bunuh diri terjadi akibat putus cinta, masalah keluarga, lingkungan, tekanan media sosial, mendapat kekerasan seksual dan memiliki masalah di sekolah hingga faktor ekonomi.
Tak bisa dipungkiri, akses layanan kesehatan mental juga masih memperihatinkan. Tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki pelayanan kesehatan mental karena minimnya SDM yang memiliki kompeten ditambah biaya konsultasi yang masih berbiaya tinggi.
Negara Gagal Memberikan Perlindungan Mental
Meningginya kasus penyakit mental di Indonesia menjadi tamparan keras bahwa negara tidak serius menjadi support system untuk generasi penerus bangsa. Alih-alih Indonesia mendapatkan predikat emas di tahun 2045, nampaknya akan mustahil sebab kondisi generasi muda yang memiliki mental pesimistis.
Bukan tanpa alasan, tingginya kasus bunuh diri akibat sakit mental merupakan problem yang sistematis. Mental generasi yang terjaga lahir dari sebuah sistem yang diterapkan negara.
Seperti halnya di Indonesia yang menerapkan sistem kapitalis sekuler yang menjauhkan agama dalam kehidupan. Negara membiarkan media massa memberikan konten konten gaya hidup hedonis ala barat, sehingga dapat berimbas pada tidak terpenuhinya tuntutan gaya hidup.
Tak hanya itu, sistem kapitalis mengajarkan generasi untuk bersifat matrealiastik yang mengedepankan popularitas, fesyen, kecantikan, cuan yang memaksa generasi untuk hidup konsumtif. Tak sampai disitu, legalnya perzinahan menjadi salah satu faktor yang membuat para remaja kehilangan tujuan hidup.
Tidak sedikit remaja di Indonesia bunuh diri akibat konflik asmara. Serta diperparah dengan minimnya pendidikan agama yang berbasis penguatan aqidah, sehingga tidak adanya benteng di tengah masyarakat dan disfungsi orang tua yang memberikan kebebasan terhadap anaknya.

Hanya sistem Islam yang Mampu Melindungi Mental Generasi
Islam memiliki paradigma yang preventif dalam memberikan jaminan kesehatan mental terhadap generasi. Sistem Islam adalah solusi kehidupan bukan hanya sebatas agama spiritual.
Dalam sistem Islam, negara yang memberikan benteng untuk menjaga dan melindungi generasi dari kerusakan mental sebab Syubanu Al yaum rijalu Al ghaddi (pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang). Mekanisme perlindungan kesehatan mental dalam Islam dilakukan secara sistemik dengan berbagai pengaturan.
Misalnya, dalam bidang ekonomi negara wajib menciptakan lapangan kerja. Sumber daya alam yang tersedia merupakan milik umat yang harus dikelola negara serta hasilnya distribusikan kepada masyarakat. Hal tersebut bertujuan untuk mensejahterakan keluarga demi tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, papan. Sebab salah satu indikator keluarga yang harmonis salah satunya adalah tercukupinya kebutuhan hidup sehingga pola pengasuhan keluarga bisa terfokus.
Di sektor pendidikan misalnya, negara bertanggung jawab penuh memberikan pendidikan dengan berbasis aqidah Islam di semua elemen pendidikan dari tingkat dasar dengan tujuan membentuk kepribadian Islam supaya memiliki pemikiran dan sikap Islam hal ini bertujuan menyelamatkan generasi dari kontaminasi pengaruh pengaruh barat yang menjadikan generasi tidak mampu membedakan aturan Islam dan aturan yang menyesatkannya.
Pembiayaan pendidikan dalam sistem Islam juga menjadi tanggung jawab penuh hal tersebut bertujuan agar anak-anak, para orang tua tidak dibebankan finansial dalam pendidikan sebab pendidikan dalam sistem Islam menjadi kebutuhan kolektif yang ditanggung penuh oleh negara.
Pengaturan sosial dalam Islam, membatasi interaksi antara laki laki dan perempuan di dalam bermasyarakat seperti campur baur laki-laki dan perempuan tanpa ada keperluan. Bukan tanpa alasan, hal tersebut bertujuan menjaga fitrah manusia juga menutup manusia dari perzinahan yang mengantarkan generasi untuk bermaksiat.
Terbukti hari ini bahwa perzinahan antar remaja, pelecehan seksual menjadi faktor penyebab bunuh diri sebab dalam sistem kapitalis tidak ada pengaturan yang menjaga dan memberikan keamanan secara mental terhadap generasi.
Pengaturan dalam media massa, hanya terkait penyampaian informasi yang sifatnya memberikan pendidikan, informatif dan juga menjaga aqidah. Bagi yang menyebarkan segala hal yang merusak aqidah, maka dalam Islam akan dikenakan sanksi.
Terbukti pengaturan media massa yang tidak terfilter, tekanan gaya hidup akibat mengedepankan konten konten unfaedah menjadi salah satu perusak kesehatan mental bagi generasi sebab tekanan hidupnya kian tinggi karena berkiblat pada standar yang mereka tonton.
Dalam aspek kesehatan, Islam memberikan jaminan rehabilitasi secara medis dan non medis. Terbukti sistem Islam adalah yang pertama memperkenalkan rumah sakit jiwa dan metode pengobatan sakit jiwa 10 abad jauh sebelum Eropa dengan menghadirkan orang -orang yang memiliki kompeten dan pembiayaan penuh ditanggung negara.
Bahkan Ath Thabari dalam kitabnya “firdaus Al Hikmah yang ditulisnya pada abad ke 9 sudah membuat terobosan dan menciptakan pengembangan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.
Terkait sanksi misalnya, Islam memberikan hukuman yang jera bagi pelaku kejahatan seksual dengan memberikan rajam bagi pelaku pemerkosaan agar memberikan efek jera bagi pelaku yang membuat sakit mental orang lain.
Sistem Islam membuktikan mampu mencetak generasi emas bermental intelek dan tangguh. Dari masa Khulafaur Rasyidin, pembebas Al Quds Salahudin Alyyubi hingga pembebas konstantinopel Muhammad Al Fatih menjadi contoh dari sekian banyak tinta emas sejarah bahwa generasi Islam mampu memberikan peradaban yang luar biasa.
Islam mengajarkan pandangan dalam menghadapi kehidupan seperti halnya saat menghadapi kondisi atau takdir yang buruk. Tentu hal tersebut terjadi akibat penerapan sistem Islam secara menyeluruh.
Dan solusi tersebut hanya bisa terwujud jika Islam diterapkan menggantikan sistem kapitalisme yang melahirkan generasi dengan mental yang lemah.
Dan dibutuhkan peran seluruh umat muslim secara sadar untuk mewujudkannya, sebab hanya Islam yang mampu menjaga kita dalam ketaatan dan menjauhkan kita dari kemaksiatan. (*)
Penulis: Darni Salamah, S.Sos (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











