MAKASSAR – Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3ADalduk KB) Provinsi Sulsel, Sarlin Nur memimpin Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi Anak untuk menjadikan Desa Bira di Bulukumba sebagai Percontohan Desa Wisata Ramah Anak Bebas Eksploitasi dan Bebas Pekerja Anak, Dikantor DP3A Dalduk KB Sulsel senin (2-3-20).

Pada kesempatan itu Plt Kadis DP3A Dalduk KB Sulsel Sarlin Nur mengucapkan banyak terima kasih kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (KPPPA RI yang telah memfasilitasi Sulawesi Selatan dalam mengembangkan Desa Bira ini menjadi Desa Wisata Ramah Anak yang bebas dari eksploitasi.

“Kami tentu mengucapkan banyak terimakasih kepada KPPPA yang telah memfasilitasi dalam pengembangan Desa Bira kabupaten Bulukumba menjadi Desa Wisata Ramah Anak yang bebas dari eksploitasi.serta dukungan Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam mewujudkan ini,” Ungkap Sarlin Nur.

Ia menyebutkan Forum Anak adalah salah satu wadah yang disiapkan untuk anak agar dapat menyampaikan ide,gagasan,dan mengemukakan pendapat untuk kepentingan dan perkembangan diri dan lingkungannya.

“Forum anak yang selama ini telah berjalan merupakan wadah bagi anak menyampaikan gagasan yang merupakan bagian dari hak asasi,dan orang dewasa wajib mendengarnya, sehingga anak dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan,” Sebutnya.

Lebih jauh Sarlin Nur mengaku perwujudan implementasi pemenuhan hak partisipasi anak, yang telah dimandatkan dalam Konvensi Hak Anak, serta Undang-Undang Perlindungan Anak,telah ditindak lanjuti oleh Kabupaten dan Kota bahkan sampai pada tingkat Desa,Kelurahan.

“Pada tanggal 7 Februari lalu telah dilakukan diskusi antara Deputy Perlindungan Anak Kementerian PPPA dengan Bupati Bulukumba beserta FOKOPIMDA untuk menjajaki peluang Desa Bira yang sudah menjadi destinasi wisata nasional dan internasional agar dapat dijadikan percontohan Desa Wisata Ramah Anak. Hal ini ditujukan untuk menimalisasi dampak negative dari perkembangan sektor wisata, khususnya kepada anak. Kasus yang paling banyak terjadi pada sektor-sektor pariwisata adalah pekerja anak,” Jelasnya.

Sarlin Nur menambahkan Istilah Pekerja Anak dapat memiliki konotasi pengekploitasian baik berbentuk eksploitasi ekonomi sampai kepada eksploitasi seksual ataupun perdagangan orang.

“Melalui dukungan dari Kementerian PPPA, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dan Komitmen Pimpinan Daerah dan seluruh OPD terkait di Kabupaten Bulukumba untuk bersama-sama memimpikan adanya percontohan Desa Wisata yang ramah anak di wilayah Sulawesi Selatan.maka itu akan terwujud,” Tutupnya. [*]