MAKASSAR – Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof Sukri Palutturi menyarankan agar pemkot Makassar melakukan penyemprotan disinfektan seluruh mobil pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari, sesuai standar kementerian kesehatan RI dan WHO.
Selain itu, menurut Prof Sukri, karena mobil sampah yang mengangkut berbagai sampah baik rumah tangga maupun industri berpotensi menjadi media yang bisa membawa Coronavirus disease (Covid-19), sebaiknya tidak diparkir di tempat yang banyak penduduk.
“Saya kira mobil pengangkut sampah itu bisa menjadi media penyebar virus, karena dari sampah yang dibuang seperti masker bekas digunakan oleh penderita covid-19.
“Petugas pengangkut sampah sangat berpotensi untuk menularkan, apalagi jika mereka tidak menggunakan kaos tangan dan sebagainya,” terang Prof. Sukri kepada Mediasulsel.com, Jumat (17/4/2020).
Selain itu, lanjut Prof Sukri, petugas sampah juga memiliki potensi yang besar menjadi media penyebar, karena mereka setiap hari keliling dari rumah ke rumah dan tetap melakukan kontak dengan orang lain.
“Sekarang banyak yang terinfeksi tanpa gejala. Jadi sebaiknya petugas sampah harus dilengkapi dengan masker standar dan menggunakan sarung tangan, dan sampah jangan dibuka dari kantongnya,” kata ketua Persatuan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Sulsel,
“Petugas sampah harus disiplin mengenakannya serta lebih sering cuci tangan dengan sabun di air mengalir serta tetap jaga jarak,” lanjut Prof. Sukri yang juga merupakan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM Unhas itu.

Dihubungi secara terpisah, anggota Fraksi PAN DPRD Makassar, Hamzah Hamid mengatakan, dalam situasi saat ini menjadi sangat penting petugas kebersihan dilengkapi dengan sejumlah alat pelindung diri mulai dari sepatu, masker dan sarung tangan.
Lebih lanjut Hamzah yang mengaku setiap saat bergaul dengan petugas sampah, telah menerima keluhan dari para petugas sampah yang mengatakan, bahwa mereka merasa diperlakukan seperti “ayam yang dilepas”, tidak diperdulikan yang penting mereka tetap bekerja.
“Penyampaian sejumlah petugas kebersihan ke saya, mereka ini seperti ayam yang dilepas saja. Terserah mau mati atau mau apa yang penting kamu bekerja dan tidak dipeduli. Menjadi miris juga sebenarnya, jika melihat perhatian pemkot Makassar yang tidak memperdulikan mereka itu,” tegas Hamzah.
Bahkan, masih menurut Hamzah, sejumlah petugas sampah mengaku pasrah dengan situasi yang mereka hadapi, karena tidak pergi kerja mereka tidak diliburkan juga. Tapi secara prinsipil mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Semestinya mereka dilengkapi alat pelindung diri yang standar.
“Di suasana seperti ini, mereka ini tidak lagi memikirkan dirinya dengan bahaya yang ada, mereka tetap masuk bekerja. Olehnya itu saya berharap pemkot Makassar, mungkin melalui Dinas Sosial memperhatikan dengan memberikan kompensasi kepada mereka,” lanjut Hamzah.
Diketahui di kota Makassar terdapat tiga kelurahan yang menjadi titik kumpul baik petugas maupun mobil sampah yaitu meliputi, kelurahan Batua, Biring Romang dan Tamangapa di kecamatan Manggala.
“Mereka (petugas sampah) harusnya diberikan bantuan lebih, demi memutuskan mata rantai penyebaran covid-19,” pungkas Hamzah. (464Ys)
Kota Makassar PSBB, Ini Larangan dan yang dibolehkan dari Kemenkes

















