PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Bone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke PemprovTiga Pegawai Gugur di Papua, Mentan Amran Jamin Sekolah Anak hingga Dapat PekerjaanDilema Hilirisasi tanpa IndustrialisasiBupati Paris Yasir Resmi Luncurkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal di JenepontoKrisis Mental dan Kesepian Generasi Muda: Saatnya Kembali pada IslamPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Bone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke PemprovTiga Pegawai Gugur di Papua, Mentan Amran Jamin Sekolah Anak hingga Dapat PekerjaanDilema Hilirisasi tanpa IndustrialisasiBupati Paris Yasir Resmi Luncurkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal di JenepontoKrisis Mental dan Kesepian Generasi Muda: Saatnya Kembali pada Islam
InternasionalPolitik

Komentar Trump Picu Diskusi Soal Bahaya Retorika yang Membakar

1058
×

Komentar Trump Picu Diskusi Soal Bahaya Retorika yang Membakar

Sebarkan artikel ini

Calon presiden Partai Republik Donald Trump memicu badai politik dengan komentar meresahkan yang dilontarkannya, Selasa (9/8).

Trump mengatakan bahwa pendukung hak kepemilikan senjata dapat melakukan sesuatu untuk mencegah saingannya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton memilih hakim-hakim Mahkamah Agung, jika Clinton menang pemilu.

Sebagian pejabat dan mantan pejabat keamanan nasional mengatakan komentar-komentar itu bisa diartikan sebagai ancaman terselubung atau anjuran untuk melakukan kekerasan.

Yang dikatakan Trump adalah “Hillary ingin menghapus, sebenarnya menghapus Amandemen Kedua. Jika ia memilih hakim-hakim tidak ada yang bisa dilakukan. Meskipun, mungkin ada yang bisa dilakukan pendukung Amandemen kedua, saya tidak tahu. Tapi saya katakan itu akan menjadi hari yang mengerikan.”

Rabu malam, aktris dan penulis Patti Davis, putri dari mantan presiden Ronald Reagan, menulis pesan untuk Trump di Facebook, mengingatkannya bahwa ayahnya ditembak dalam upaya pembunuhan pada tahun 1981, meskipun ia selamat.

Ia mengatakan komentar Trump yang “gegabah dan mengerikan” terdengar di seluruh dunia, dan dapat didengar oleh seseorang dengan fantasi-fantasi gelap “yang mencari ide buruk.”

Davis mengakhiri tulisannya dengan: “Ya, Tuan Trump, kata-kata itu berarti. Tapi Anda tahu itu, yang membuat semuanya menjadi lebih menakutkan.”

Amandemen Kedua ditafsirkan sebagai hak untuk memiliki senjata api.

Mantan Direktur CIA dan Direktur Badan Keamanan Nasional Michael Hayden mengatakan kepada CNN jika seseorang di luar kampanye mengatakan hal seperti itu, ia bisa langsung diangkut mobil polisi dan diinterogasi oleh Secret Service.

Hayden menambahkan: “Ini bukan sekedar salah ucap. Ini sebetulnya komentar yang harus dianggap serius. Ini menyiratkan selera yang sangat buruk dengan merujuk pada pembunuhan politik dan upaya untuk bercanda atau sangat tidak sensitif — mungkin yang kedua — sesuatu yang sangat tidak sensitif terhadap prevalensi pembunuhan politik dalam sejarah Amerika.”

Hayden termasuk dari 50 ahli keamanan dan kebijakan luar negeri dari Partai Republik, yang menandatangani surat terbuka hari Senin yang menyebut Trump tidak pantas jadi presiden karena ia akan “membahayakan keamanan nasional dan kesejahteraan bangsa. [my/al/voa]

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com