Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Opini

Manusia, Mesin, dan Krisis Nilai: Belajar dari Isu “Robot Hamil” di China

932
×

Manusia, Mesin, dan Krisis Nilai: Belajar dari Isu “Robot Hamil” di China

Sebarkan artikel ini
Manusia, Mesin, dan Krisis Nilai: Belajar dari Isu “Robot Hamil” di China
Penulis: Eka Purnama Sary, S.Pd (Penggerak Mammesa Pammase)

OPINI—Pada awal Oktober 2025, wacana mengenai “robot hamil” kembali menjadi sorotan setelah sebuah video dari media China memamerkan simulasi rahim buatan yang diklaim mampu mengandung janin manusia.

Video itu viral di berbagai platform media sosial dan dikutip oleh South China Morning Post (3 Oktober 2025). Dalam tayangan tersebut, para ilmuwan China disebut tengah mengembangkan teknologi yang memungkinkan embrio manusia tumbuh di dalam sistem rahim buatan yang dikendalikan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.

Isu ini muncul di tengah kekhawatiran pemerintah China terhadap penurunan angka kelahiran yang kian drastis. Berdasarkan laporan BBC News (Januari 2025), tingkat kelahiran di China terus menurun selama tujuh tahun berturut-turut, bahkan mencapai titik terendah sejak 1949.

Krisis populasi dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas ekonomi dan kekuatan nasional. Dalam konteks itu, muncul ide ekstrem seperti rahim buatan dan bahkan, secara spekulatif, robot yang mampu “melahirkan” bayi manusia — sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis populasi.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, wacana semacam ini tidak sekadar bicara tentang teknologi atau demografi, tetapi tentang cara pandang manusia terhadap kehidupan dan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Analisa: Krisis Nilai dalam Sistem Kapitalisme

Kemunculan ide “robot hamil” menunjukkan bagaimana manusia dalam sistem kapitalisme modern memandang kehidupan secara mekanistik dan materialistik.

Nilai manusia direduksi menjadi angka ekonomi—berapa banyak tenaga kerja yang bisa dihasilkan, berapa besar produktivitas yang bisa dicapai, atau seberapa jauh populasi menopang pertumbuhan ekonomi. Ketika angka kelahiran menurun, solusinya bukan mengembalikan makna keluarga dan fitrah manusia, melainkan mencari cara agar mesin menggantikan peran manusia.

Inilah paradoks peradaban modern. Sistem kapitalisme telah mengubah sains dan teknologi dari alat pemenuhan kebutuhan manusia menjadi alat eksploitasi demi keuntungan dan kekuasaan.

Alih-alih menjaga martabat manusia, sistem ini justru mengikis batas moral dan fitrah—bahkan sampai menganggap wajar kemungkinan “kelahiran tanpa ibu”.

Krisis ini bukan semata demografis, tapi krisis ideologis. Manusia yang kehilangan arah pandang tentang hakikat hidup akhirnya mencoba menciptakan kehidupan secara artifisial. Semua itu terjadi karena sistem kapitalisme sekuler telah memisahkan ilmu dari nilai, dan kemajuan dari kemanusiaan.

Solusi Islam: Menyusun Ulang Makna Kehidupan

Islam memandang manusia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk yang memiliki tujuan hidup mulia: beribadah kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di bumi. Dalam pandangan Islam, kehidupan, kelahiran, dan kematian adalah wilayah yang sakral—bukan objek eksperimen bebas.

Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizhamul Islam, beliau menulis: “Pandangan hidup dalam Islam bersumber dari akidah, yakni keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, terjadi dengan kehendak-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Dari sinilah lahir aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.” (Nizhamul Islam, hlm. 12)

Artinya, solusi sejati terhadap krisis populasi dan kemanusiaan bukanlah menciptakan rahim buatan, melainkan mengembalikan tatanan hidup manusia kepada sistem yang selaras dengan fitrahnya.

Islam mendorong keluarga, menjaga kehormatan, dan menata hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam bingkai syariah. Ketika sistem ini ditegakkan, lahirlah masyarakat yang menghormati kehidupan, bukan yang memproduksi kehidupan secara artifisial.

Penutup

Isu “robot hamil” hanyalah satu dari sekian banyak gejala dunia yang kehilangan arah nilai.

Di balik kecanggihan sains, tampak jelas kerinduan manusia terhadap makna.
Dan selama sistem kapitalisme tetap menjadi fondasi peradaban, maka sains akan terus kehilangan nurani.

Sudah saatnya manusia kembali menata hidup dengan paradigma yang benar — paradigma Islam — di mana kemajuan tidak lagi bertentangan dengan kemanusiaan, dan kehidupan dikembalikan kepada Yang Maha Pencipta. (*)

Penulis: Eka Purnama Sary, S.Pd (Penggerak Mammesa Pammase)

 

 

***

 

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com