PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Pemerintah Perpanjang Kewajiban Sertifikasi Halal hingga Oktober 2028 • Gubernur Sulsel Raih Penghargaan Tokoh Pembangunan dan Konektivitas Daerah • Polisi Gerebek Vila Judi Online di Puncak, 9 Orang Ditangkap dan Rp294 Juta Terendus • SLF Perumahan Bone Disorot, Pengamat Hukum Ingatkan Potensi Sanksi Pidana • Sambut HUT ke-357 Sulsel, RSUD Lanto Daeng Pasewang Jeneponto Gelar Donor Darah • Gerindra Bone Dihujani Kritik, Mahasiswa Unhas Ingatkan Capaian Politik Ahmad Zaenuddin • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Pemerintah Perpanjang Kewajiban Sertifikasi Halal hingga Oktober 2028 • Gubernur Sulsel Raih Penghargaan Tokoh Pembangunan dan Konektivitas Daerah • Polisi Gerebek Vila Judi Online di Puncak, 9 Orang Ditangkap dan Rp294 Juta Terendus • SLF Perumahan Bone Disorot, Pengamat Hukum Ingatkan Potensi Sanksi Pidana • Sambut HUT ke-357 Sulsel, RSUD Lanto Daeng Pasewang Jeneponto Gelar Donor Darah • Gerindra Bone Dihujani Kritik, Mahasiswa Unhas Ingatkan Capaian Politik Ahmad Zaenuddin •
Opini

Membaca Filosofi Tanah BangkalaE ri Bone: Jejak Tiga Kerajaan dalam Bingkai Persaudaraan dan Persatuan

39
×

Membaca Filosofi Tanah BangkalaE ri Bone: Jejak Tiga Kerajaan dalam Bingkai Persaudaraan dan Persatuan

Sebarkan artikel ini
Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM., M.Si.
Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM., M.Si (Penulis adalah putera Andi Mappasessu Sullewatang Amali serta pemerhati sosiologi hukum, pemerintahan, dan sosial budaya)

OPINI—Tanah BangkalaE ri Bone merupakan salah satu warisan sejarah yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan kebudayaan dan pemerintahan tradisional di Sulawesi Selatan. Keberadaannya tidak cukup dipahami hanya sebagai situs bersejarah di pusat Kota Watampone, tetapi juga perlu dimaknai sebagai simbol persaudaraan dan persatuan.

Warisan ini dikaitkan dengan masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka, Mangkau Bone XVI, yang memerintah pada 1696–1714. Dalam tradisi sejarah Bone, Tanah BangkalaE menjadi penanda penting hubungan antara Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa.

Tiga kerajaan besar ini memiliki identitas, tradisi, dan kepentingan politik masing-masing. Namun, melalui simbol penyatuan tanah, tersimpan pesan tentang pentingnya membangun hubungan antarkerajaan atas dasar persaudaraan, perdamaian, dan kesepakatan.

Karena itu, membaca Tanah BangkalaE berarti menelusuri bukan hanya jejak masa lalu, melainkan juga nilai-nilai luhur yang dapat diwariskan untuk kehidupan masyarakat masa kini.

Kehadiran Tanah BangkalaE dalam sejarah Bone tidak dapat dipisahkan dari sosok La Patau Matanna Tikka. Sebagai Mangkau Bone XVI, La Patau berada dalam suatu zaman ketika hubungan antarkerajaan di Sulawesi Selatan menuntut kecakapan politik, kemampuan membangun kekerabatan, dan kebijaksanaan dalam mengelola perbedaan kepentingan.

Riwayat sejarah mengaitkan awal pemerintahannya pada 1696 dengan penyatuan tanah yang berasal dari Bone, Luwu, dan Gowa. Ketiga tanah tersebut dipertemukan dan dicampurkan sebagai lambang persaudaraan.

Menurut riwayat yang berkembang, pencampuran itu menghasilkan warna kemerah-merahan yang dalam bahasa Bugis disebut bangkala. Dari situlah kemudian dikenal nama Tanah BangkalaE.

Tanah yang dipersatukan tersebut juga dikaitkan dengan sebutan Tanah ri Tappa Dewata, yang mengandung makna spiritual tentang tanah yang berada dalam kehendak dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu menggunakan simbol nyata untuk mengabadikan pesan yang lebih besar daripada benda itu sendiri.

Dalam perspektif filosofis, tindakan menyatukan tanah dari tiga kerajaan dapat dibaca sebagai pernyataan bahwa perbedaan asal-usul tidak harus menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan.

Tanah Bone tetap membawa identitas Bone, tanah Luwu tetap merepresentasikan Luwu, dan tanah Gowa tetap mengandung ingatan tentang Gowa. Ketika ketiganya dipersatukan, yang ditonjolkan bukanlah hilangnya identitas masing-masing, melainkan lahirnya simbol kebersamaan yang melampaui batas-batas kerajaan.

Di sinilah letak pesan filosofis Tanah BangkalaE: persatuan tidak mengharuskan semua pihak menjadi sama. Persatuan justru menuntut kesediaan untuk mengakui keberadaan pihak lain, menghormati martabatnya, dan membangun kesepakatan demi kepentingan bersama.

Dengan demikian, Tanah BangkalaE dapat dipahami sebagai lambang persatuan dalam keberagaman. Nilai ini tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Bugis dan masyarakat Indonesia secara luas.

Kita juga perlu melihat bahwa persaudaraan antarkerajaan pada masa lalu tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik, persaingan, dan perubahan kepentingan. Karena itu, makna Tanah BangkalaE tidak seharusnya dibangun melalui anggapan bahwa sejarah ketiga kerajaan selalu berjalan damai tanpa pertentangan.

Justru di tengah dinamika itulah simbol persaudaraan memperoleh arti penting. Kesepakatan untuk membangun hubungan yang lebih baik mengingatkan kita bahwa kekuatan politik tidak selamanya harus diwujudkan melalui persaingan dan pertentangan, tetapi dapat diarahkan pada kerja sama serta penghormatan terhadap kepentingan bersama.

Dalam konteks ini, La Patau Matanna Tikka menempati posisi penting dalam ingatan sejarah Bone karena pemerintahannya dikaitkan dengan lahirnya simbol yang mengandung pesan perdamaian di antara Bone, Luwu, dan Gowa.

Makna tersebut perlu terus dikaji melalui sumber sejarah, tradisi lisan, dan penelitian kebudayaan agar nilai yang diwariskan tetap sejalan dengan ketelitian historis.

Dalam kebudayaan Bugis, persaudaraan dan persatuan memiliki hubungan erat dengan nilai lempu’, getteng, dan sipakatau. Lempu’ mengajarkan kejujuran, getteng menegaskan keteguhan dalam memegang prinsip, sedangkan sipakatau mengingatkan manusia untuk saling memanusiakan dan menghormati martabat sesamanya.

Nilai-nilai tersebut memberikan landasan etis untuk membaca kembali Tanah BangkalaE. Persatuan tidak cukup dinyatakan melalui simbol, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku yang jujur, sikap teguh dalam menjaga kesepakatan, dan kesediaan memperlakukan pihak lain secara bermartabat.

Demikian pula, persaudaraan tidak cukup dibicarakan dalam upacara adat atau peringatan sejarah. Nilai tersebut perlu hadir dalam kehidupan sosial, hubungan antarkelompok, dan penyelenggaraan pemerintahan.

Apabila nilai-nilai itu dapat dihidupkan kembali, Tanah BangkalaE akan tetap memiliki relevansi sebagai sumber pembelajaran moral bagi generasi sekarang.

Pemajuan kebudayaan perlu dilakukan agar Tanah BangkalaE tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu yang hanya dikenang sesekali. Upaya ini menuntut perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan warisan budaya secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah, lembaga adat, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk mendokumentasikan sejarah Tanah BangkalaE, melakukan penelitian, menyusun bahan pembelajaran, serta memperkenalkannya kepada generasi muda.

Tradisi lisan perlu dihimpun dengan baik, sementara sumber tertulis dan bukti sejarah lainnya harus diteliti secara kritis. Dengan cara itu, Tanah BangkalaE tidak hanya dikenal karena letaknya atau kisah pencampuran tanah dari tiga kerajaan, tetapi juga dipahami melalui pesan filosofis yang terkandung di dalamnya.

Dialog budaya, seminar sejarah, kunjungan edukatif, dan festival kebudayaan dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai persaudaraan tersebut. Pelaksanaannya tetap harus menghormati fakta sejarah dan makna adat.

Pada akhirnya, Tanah BangkalaE ri Bone mengajarkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar sesuatu yang dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipahami dan diteruskan.

La Patau Matanna Tikka, Mangkau Bone XVI yang memerintah pada 1696–1714, dikenang dalam kaitannya dengan lahirnya simbol persaudaraan tiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Dari penyatuan tanah Bone, Luwu, dan Gowa, kita memperoleh ruang untuk merenungkan arti perdamaian, penghormatan, dan persatuan di tengah perbedaan.

Tantangan kita sekarang adalah menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tindakan nyata: menjaga kerukunan, membangun kerja sama, menghormati kebudayaan, serta menghadirkan pemerintahan yang jujur dan bertanggung jawab.

Tanah BangkalaE akan terus bermakna apabila sejarahnya dirawat dengan benar, nilai filosofisnya dipahami secara mendalam, dan pesan persaudaraannya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, kebudayaan yang maju bukanlah kebudayaan yang hanya memuliakan masa silam, melainkan kebudayaan yang mampu menjadikan kebijaksanaan leluhur sebagai bekal untuk membangun masa depan yang lebih bersatu, bermartabat, dan berkeadaban. (*)

Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM., M.Si.


Penulis:
Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM., M.Si.
(Penulis adalah putera Andi Mappasessu Sullewatang Amali serta pemerhati sosiologi hukum, pemerintahan, dan sosial budaya.)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com