Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Mengenalkan Coding Sejak Dini: Dilema Kebutuhan Teknologi dan Kegagalan Pendidikan Sekuler

422
×

Mengenalkan Coding Sejak Dini: Dilema Kebutuhan Teknologi dan Kegagalan Pendidikan Sekuler

Sebarkan artikel ini
Eka Purnama, M.Si (Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo)
Eka Purnama, M.Si (Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo)

OPINI—Pemerintah kembali menggulirkan gagasan besar dalam dunia Pendidikan, yaitu mengenalkan coding sejak kelas 4 SD, mulai 2025. Langkah ini dianggap sebagai bentuk adaptasi terhadap era digital serta upaya mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, terutama dalam bidang teknologi dan digitalisasi.

Rencananya, pelajaran ini tidak berdiri sendiri, tapi akan dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada seperti TIK dan keterampilan.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Namun, layak untuk dipertanyakan adalah: benarkah ini solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan generasi bangsa ke depan?

Apakah sekadar menambahkan kemampuan teknis seperti coding cukup untuk membentuk generasi unggul yang siap menghadapi tantangan zaman?

Atau justru ini hanya akan menambah daftar panjang kebijakan pendidikan yang keliru arah akibat tidak berpijak pada pondasi sistemik yang benar?

Sekedar Kemampuan Tanpa Karakter, Bagai Pisau Bermata Dua

Tidak dapat dipungkiri, kemampuan coding memang dibutuhkan di zaman sekarang. Lewat coding, kita bisa buat aplikasi, game, robot, bahkan kecerdasan buatan (AI). Anak-anak yang belajar coding sejak dini bisa lebih kreatif, terlatih berpikir logis, dan menjadi problem solver.

Namun, belajar coding saja jelas tidak cukup. Kita harus mengingat baik-baik bahwa coding hanyalah alat. Kemampuan teknis seperti ini bisa menjadi berbahaya jika tidak dibarengi dengan karakter dan akhlak yang kuat.

Kemampuan ini ibarat pisau bermata dua, di satu sisi bisa digunakan untuk membangun, tetapi di sisi lain juga bisa merusak jika berada di tangan yang salah. Karena itu, sebelum mengajarkan coding, hal yang lebih penting adalah memastikan anak-anak kita punya cara pandang hidup yang benar dan akhlak yang kokoh.

Sayangnya, sistem pendidikan sekarang yang dibangun di atas pondasi sekuler dan kapitalisme, tidak cukup kuat dalam membentuk karakter dan akhlak karimah.

Sistem pendidikan hari ini lebih menekankan penguasaan keterampilan teknis dan capaian materi untuk memenuhi tuntutan pasar kerja global. Akhlak peserta didik seringkali terabaikan.

Akibatnya, meskipun siswa dibekali dengan berbagai keterampilan, akan tetapi mereka rentan terhadap penyimpangan moral dan krisis identitas. Hasilnya? Kita lihat sendiri, banyak siswa yang pintar tapi tidak punya arah hidup yang jelas, bahkan tidak sedikit yang terlibat masalah sosial yang serius.

Kurikulum Berganti, Masalah Tak Teratasi

Kita menyaksikan dengan mata terbuka, bagaimana perilaku menyimpang di kalangan pelajar semakin merebak. Mulai dari bullying, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga kekerasan seksual.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang digembar-gemborkan melalui program P5 atau pelajaran agama ternyata belum mampu mencetak anak didik yang bermoral.

Padahal, kita sudah berkali-kali mengganti kurikulum, tapi hasilnya ternyata masih jauh dari harapan. Mulai dari Kurikulum 1994, 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga saat ini Kurikulum Merdeka, semuanya datang dengan janji perubahan dan penyempurnaan.

Tapi realitanya, selalu saja ada “bolong” di sana-sini. Apakah tidak terfikir bahwa hal ini disebabkan karena asas yang membangun kurikulum tersebutlah yang keliru?

Bukan hanya kurikulumnya yang bermasalah, tapi juga sistemnya. Pendidikan dalam sistem kapitalisme diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan manusia seutuhnya. Anak-anak dididik agar siap menghadapi dunia kerja, tapi tidak dibekali nilai hidup yang benar.

Akhirnya, pendidikan hanya menjadi alat produksi budak dan budik (buruh terdidik) yang terampil untuk kepentingan pasar, bukan untuk membangun masyarakat yang kuat dan beradab.

Sistem Pendidikan yang berasas sekuler juga cenderung memisahkan IPTEK dengan ilmu agama yang mengajarkan nilai dan adab.

Bakhan terlihat jelas dikotomi ilmu ini dengan adanya pesantren yang lebih fokus mengajarkan agama dan sekolah umum yang lebih sedikit pelajaran agamanya.

Perlu Sistem Pendidikan yang Sinergi antara IPTEK dan Ilmu Agama

Menghadapi dunia digital tidak cukup dengan menguasai teknologi saja. Benar, kita butuh generasi yang cerdas secara ilmu, tapi juga harus kuat secara karakter dan akhlak.

Keberhasilan Indonesia dalam teknologi ditentukan oleh kebijakan saat ini. It will make it or break it. Hanya saja, keberhasilan bisa tercapai jika sistem pendidikan dibangun di atas nilai yang benar dan menyeluruh.

Sistem pendidikan Islam menawarkan hal itu. Pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu dunia, tapi juga menanamkan akidah yang kuat, membentuk kepribadian islami, dan mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan umat. Dalam sistem ini, coding bukan sekadar keterampilan, tapi bagian dari amanah keilmuan yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.

Anak-anak sejak dini seharusnya terlebih dulu dibekali ilmu keislaman, pembiasaan akhlak karimah, dan ilmu dasar. Nanti ketika sudah cukup usia dan kemampuannya berkembang, barulah mereka diajarkan berbagai keterampilan termasuk coding. Semuanya terarah, terukur, dan memiliki visi jelas, yaitu membentuk manusia yang menjadi hamba Allah dan pemimpin (khalifah) di muka bumi.

Mengenalkan coding sejak SD memang bisa jadi langkah positif. Tapi kalau dilakukan dalam sistem pendidikan sekuler kapitalisme seperti sekarang, dampaknya bisa berbahaya, karena tidak ada nilai yang mengarahkan teknologi ke jalan yang benar.

Pendidikan harus kembali pada fitrahnya, yakni membentuk manusia paripurna yang beriman, berilmu, dan bermanfaat. Untuk itu, pendidikan kita perlu dibangun di atas sistem yang menyatukan IPTEK dan agama, kompetensi dan karakter, serta ilmu dan iman. Inilah yang ditawarkan oleh sistem pendidikan Islam. (*)

 

Penulis: Eka Purnama, M.Si (Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo)

 

 

***

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!