OPINI—Taman Nasional Komodo selama ini ditempatkan sebagai kebanggaan nasional sekaligus etalase pariwisata Indonesia di mata dunia. Statusnya sebagai situs warisan dunia UNESCO dan destinasi unggulan internasional menjadikan kawasan ini bukan hanya ruang konservasi, tetapi juga komoditas ekonomi bernilai tinggi.
Namun di balik narasi keberhasilan tersebut, tersimpan pertanyaan mendasar: sampai sejauh mana pariwisata boleh tumbuh tanpa mengorbankan ekosistem yang justru menjadi alasan utama kawasan ini dilindungi?
Sejak ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, arah pengelolaan Taman Nasional Komodo mengalami pergeseran signifikan. Pembangunan infrastruktur, peningkatan akses, serta promosi wisata berskala besar dilakukan dengan dalih pariwisata berkelanjutan. Sayangnya, pendekatan ini masih terlalu sering memaknai keberhasilan melalui angka kunjungan, bukan melalui kesehatan ekosistem.
Lonjakan wisatawan yang tidak terkendali telah menempatkan Komodo pada situasi overtourism. Tekanan terhadap lingkungan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan: peningkatan sampah, kerusakan terumbu karang, degradasi jalur trekking, hingga gangguan terhadap perilaku alami satwa endemik.
Komodo bukan hanya objek tontonan, melainkan spesies dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap stres akibat interaksi manusia yang masif. Ketika ruang hidupnya terus dipadati, risiko penurunan reproduksi hingga kepunahan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman nyata.
Kebijakan kenaikan tarif dan pembatasan kunjungan kerap dipersepsikan sebagai bentuk eksklusivitas pariwisata yang menyingkirkan wisatawan lokal. Namun dalam konteks konservasi, kebijakan tersebut justru mencerminkan upaya keluar dari jebakan pariwisata massal.
Logika high value, low impact menjadi relevan ketika kawasan yang dilindungi memiliki daya dukung terbatas. Masalahnya, kebijakan harga tidak akan bermakna jika tidak diiringi dengan transparansi pengelolaan dan jaminan bahwa dana yang dihimpun benar-benar kembali ke konservasi.
Di sisi lain, dampak sosial dari pengelolaan pariwisata Komodo masih menyisakan ironi. Masyarakat lokal yang telah hidup berdampingan dengan komodo selama berabad-abad justru kerap berada di pinggir sistem.
Akses terhadap ruang hidup tradisional dibatasi, sementara manfaat ekonomi terbesar dinikmati oleh investor dan tenaga kerja dari luar daerah. Ketika masyarakat lokal diposisikan sebagai ancaman, bukan mitra, maka pariwisata kehilangan legitimasi sosialnya.
Pariwisata berkelanjutan tidak dapat dibangun di atas ketimpangan. Konservasi yang mengabaikan keadilan sosial hanya akan melahirkan konflik laten dan resistensi jangka panjang. Masyarakat lokal seharusnya menjadi penjaga utama ekosistem, bukan korban dari kebijakan yang dibuat atas nama perlindungan alam.
Rencana pembatasan kuota kunjungan dan penggunaan sistem digital seperti SiOra merupakan langkah maju dalam pengendalian wisata. Namun kebijakan tersebut harus berpijak pada kajian ilmiah yang terbuka dan dapat diuji publik. Tanpa dasar sains yang kuat, pembatasan berisiko dipersepsikan sekadar sebagai instrumen ekonomi, bukan langkah konservasi.
Pada akhirnya, pertaruhan terbesar dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo bukanlah soal jumlah wisatawan atau besaran devisa, melainkan pilihan arah pembangunan itu sendiri. Apakah Komodo akan diperlakukan sebagai warisan ekologis yang harus dijaga lintas generasi, atau sekadar eksotisme yang dijual hingga batas terakhir daya tahannya.
Jika pariwisata terus dibiarkan berjalan mengikuti logika pasar semata, maka yang tersisa kelak mungkin hanya cerita tentang komodo (tanpa komodonya). (*)
Penulis:
Nur Qalbi Sarni Saputri
(Mahasiswi)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










