GOWA—Nilai siswa tidak seharusnya berhenti sebagai angka di rapor. Data hasil penilaian semestinya menjadi bahan bagi guru untuk mengetahui perkembangan siswa sekaligus menentukan langkah pembelajaran berikutnya.
Gagasan itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam workshop pendidikan yang digelar Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Gowa, Kamis (8/10/2026) malam. Mengangkat tema “Kelas Lebih Terarah, Nilai Lebih Bermakna: Strategi Mengelola Pembelajaran Berbasis Data Penilaian”, kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti ratusan guru dari berbagai kecamatan di Gowa.
Workshop yang dimulai pukul 20.00 WITA tersebut digelar gratis. Para peserta juga mendapatkan fasilitas sertifikat hingga 32 jam pelajaran (JP), sekaligus dibekali ilmu dan strategi praktis yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
Korwas Kabupaten Gowa, H. Syahruddin, M.Si., S.Pd., M.Si., yang menjadi narasumber utama, mengatakan pembelajaran selama ini masih sering dilakukan berdasarkan perkiraan. Padahal, guru memiliki data hasil penilaian yang dapat digunakan untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi yang diberikan.
Menurut Syahruddin, penilaian jangan hanya dipandang sebagai cara untuk menentukan nilai akhir siswa. Data tersebut harus dibaca dan dianalisis sehingga guru dapat mengetahui bagian pembelajaran yang sudah berhasil, materi yang masih sulit dipahami, serta menentukan tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Melalui pendekatan tersebut, guru didorong membangun pembelajaran yang lebih terarah dengan mengandalkan data yang akurat, penilaian yang adil dan tindak lanjut yang tepat sasaran. Dengan begitu, hasil penilaian tidak hanya menjadi dokumen administrasi, tetapi benar-benar digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
Peserta juga diperkenalkan dengan strategi pembelajaran kelompok yang dapat dikembangkan dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI. Salah satunya melalui akronim “SALWA”, yaitu Siswa diarahkan berkelompok sesuai kesepakatan, Arahan guru mengenai kegiatan belajar, Langkah pengamatan materi, Waktu berdiskusi dan menuliskan hasil pada LKPD, serta Apresiasi dan evaluasi.
Syahruddin menjelaskan, pola SALWA membantu guru mengingat dan menjalankan tahapan pembelajaran secara lebih terstruktur. Prosesnya dimulai dari salam, doa, pengecekan kehadiran dan penyampaian tujuan, kemudian mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa, dilanjutkan kegiatan inti, diskusi, hingga refleksi dan penguatan karakter.
Kabid SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, H. Zainal, S.Pd., M.Pd., yang hadir sebagai pembicara kunci, mengapresiasi langkah KGBN Gowa yang terus menghadirkan ruang belajar bagi guru. Ia menilai pengembangan kompetensi guru penting dilakukan agar pembelajaran dapat mengikuti kebutuhan siswa dan perkembangan zaman.
Ketua KGBN Gowa, Ramlah Daeng Tonji, berharap workshop tersebut menjadi ruang kolaborasi yang berkelanjutan. Guru, kata dia, tidak cukup hanya mahir mengajar, tetapi juga perlu mampu membaca data hasil belajar agar setiap proses pembelajaran memiliki dasar yang jelas dan dapat terus diperbaiki. (Cr/Ag4ys)








