Beranda » Makassar » Pramuka LDII: Sako Sekawan Persada Nusantara Bentuk Karakter Profesional Religius
Pramuka LDII: Sako Sekawan Persada Nusantara Bentuk Karakter Profesional Religius
Sekretaris Pimpinan Sako Sekawan Persada Nusantara, Kak Adityo Handoko menyampaikan materi pentingnya kepramukaan dalam konsolidasi organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) se-Sulawesi Selatan di Masjid Nurul Huda, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/12/2018). LDII membentuk pramuka berbasis satuan komunitas untuk mendorong generasi penerus miliki karakter profesional religius.
Makassar

Pramuka LDII: Sako Sekawan Persada Nusantara Bentuk Karakter Profesional Religius

MAKASSAR – Pendidikan kepramukaan diarahkan untuk melatih karakter spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik (sesosif).

Selaras dengan itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sebagai ormas mendorong klaster pengembangan SDM yang profesional religius.

Sekretaris Pimpinan Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Pin Sako SPN) Kak Adityo Handoko mengatakan, karakter sesosif masuk dalam ranah pembinaan karakter, kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kepramukaan, kepanduan, atau scout yang dicetuskan Baden Powell bisa merubah karakter generasi penerus.

“Dalam pembinaan, kepramukaan membentuk karakter disiplin, takzim, dan tepat waktu,” katanya disela-sela konsolidasi organisasi LDII se-Sulawesi Selatan di Masjid Nurul Huda, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (23/12/2018).

Konsolidasi organisasi yang digelar setiap tahun ini bertajuk “Menguatkan SDM Profesional Religius Guna Meningkatkan Kontribusi LDII”.

Hadir dalam konsolidasi, Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam MSc dan Ketua DPP LDII Ir Chriswanto Santoso MSc. Hadir pula Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Drs Hidayat Nahwi Rasul MSi dan sekretaris Ishak Andi Ballado SE.

Turut hadir wakil Ketua Dr Abri MP, Dr Sanusi Fattah SE MSi, Muchtar Mannan SH, dan Ketua dan Sekretaris DPD LDII se-Sulawesi Selatan.

Menurut UU No 12 tahun 2010, kata Adityo, satuan komunitas bisa membentuk kepramukaan. LDII, membentuk satuan komunitas yang berbasis agama.
Pelatihan kepramukaan di lingkup LDII bertujuan mengembangkan 6 tabiat luhur dan 3 K.

Enam tabiat luhur yaitu rukun, kompak, kerjasama yang baik, jujur, amanah, dan kerja keras lagi hemat (mujhid muzhid). “Adapun 3 K, yaitu karya, kontribusi, dan komunikasi,” jelasnya.

Menurut Adityo, keterampilan yang dibutuhkan di era industri 4.0 antara lain, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, inisiatif dan mandiri, kemampuan sosial dan lintas budaya, produktivitas dan dapat diandalkan, dan kepemimpinan dan bertanggungjawab.

Dalam Munas LDII 2011 mengenalkan tagline profesional religius. SDM profesional religius yaitu SDM yang memiliki ilmu dan kepahaman yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam yang berdasarkan Alquran dan Alhadis dan menjadikannya sebagai tuntutan dalam berpikir, bertutur kata, berinteraksi, mengambil keputusan, dan bertindak.

Selain itu, memiliki akhlakul karimah dan kemampuan profesional dan mandiri. “LDII memilih pramuka sebagai wadah pembinaan karakter sebab selaras dengan komitmen LDII yang tertuang dalam Munas LDII 2011,” katanya.

Adityo mencontohkan, kegiatan mendirikan tenda melatih kerukunan dan kekompakan.

“Aplikasi kepramukaan berupa kegiatan mendirikan tenda tidak bisa dilaksanakan sendiri. Harus ada kerjasama tim. Apalagi untuk dirikan tenda dengan cepat, harus rukun dan kompak,” ujarnya.

Sako SPN mendorong anak mengambil hikmah dari kegiatan kepramukaan (experimental learning).

“Ternyata mendirikan tenda tidak mudah. Selama ini mereka tinggal di rumah. Siapa yang dirikan rumah. Mereka hanya menempati saja. Bagaimana mereka merespon ini. Setelah mendirikan tenda, pembina menyampaikan, bahwa tenda harus dirapikan dan dijaga,” katanya.

Pihaknya juga menjelaskan syarat pembentukan Satuan Komunitas Daerah (Sakoda) SPN di tingkat provinsi. Pertama, membentuk gudep.

Lalu, 5 gudep tingkat kabupaten bergabung membentuk sakoda.

“Para pengurus bermusyawarah membentuk sakocab. Syaratnya berkoordinasi dengan kwartir ranting (kwarran). Ada mabi, mabigus, ketua, dan sekretaris. Apakah pembinaan siaga, penggalang, dan penegak,” ujarnya.

Setelah terbentuk, gudep bergabung menjadi sakocab. “Ajukan permohonan ke kwarcab,” katanya. [*/shar]