MAKASSAR – Aktivitas gleaning atau pengumpulan moluska di padang lamun ternyata memiliki peran penting dalam menopang ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. Temuan tersebut diungkap Guru Besar Ekologi Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Nadiarti Nurdin Kadir, M.Sc, saat menjadi pembicara undangan pada The 13th National and 9th International Symposium on Marine and Fisheries (SYMARFISH) 2026.
Dalam forum ilmiah bertema Science-driven Innovation in the Blue Economy yang berlangsung di Auditorium Prof. M. Natsir Nessa FIKP Unhas, Sabtu (20/6/2026), Prof. Nadiarti memaparkan hasil riset yang dilakukan di Desa Labuange, Sulawesi Selatan.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa ekosistem lamun tidak hanya berfungsi sebagai habitat berbagai biota laut, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir melalui aktivitas pemanfaatan biota intertidal, khususnya moluska.
Menurut Prof. Nadiarti, hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan moluska sebagai sumber pangan keluarga sekaligus sumber pendapatan tambahan. Daging moluska, terutama jenis gastropoda, dikonsumsi sebagai sumber protein, sementara cangkangnya memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual sebagai bahan baku kerajinan.
“Melalui aktivitas gleaning, masyarakat memperoleh manfaat langsung dari ekosistem lamun, baik untuk kebutuhan pangan maupun ekonomi rumah tangga,” ujarnya.
Riset tersebut juga menemukan bahwa keberhasilan aktivitas gleaning sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan lokal. Pemanen yang lebih dewasa umumnya memiliki kemampuan lebih baik dalam menentukan lokasi yang produktif, memilih jenis biota yang menjadi target, serta memanfaatkan waktu surut secara efektif.
Temuan itu menunjukkan adanya hubungan erat antara keberlanjutan ekosistem lamun dengan ketahanan pangan rumah tangga masyarakat pesisir.
Meski demikian, Prof. Nadiarti mengingatkan bahwa pemanfaatan sumber daya tersebut perlu dikelola secara berkelanjutan. Dominasi beberapa kelompok gastropoda dalam hasil panen mengindikasikan adanya tekanan pemanfaatan terhadap sumber daya bentik di kawasan intertidal yang relatif terbatas.
Karena itu, ia mendorong penerapan pendekatan ko-manajemen berbasis masyarakat sebagai solusi menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Pendekatan yang kami sarankan bukan pelarangan total, tetapi ko-manajemen berbasis masyarakat. Aktivitas gleaning penting bagi ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga pesisir, sehingga pengelolaannya perlu melibatkan masyarakat lokal,” jelasnya.
Paparan Prof. Nadiarti sejalan dengan pesan yang disampaikan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa, yang menekankan pentingnya riset sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengembangkan ekonomi biru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
SYMARFISH 2026 diikuti sekitar 120 peserta dengan 90 abstrak makalah dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini juga menghadirkan perwakilan BRIN serta sejumlah pembicara internasional dari Turki, Malaysia, dan Tiongkok. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter : Aidah A. A. Husain (Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas)










