OPINI—Agresi militer yang dilakukan Israel terhadap Palestina, nampak belum ada akhirnya, walau telah berulang kali melakukan gencatan senjata. Sebagaimana belum lama ini, militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu (4/2). Imbas serangan Israel, 23 orang termasuk anak-anak tewas (CNN Indonesia, 05-02-2026).
Bukan hal aneh, kenyataan bahwa pelanggaran gencatan senjata telah berulang kali dilakukan oleh Zionis Israel. Kalau sudah begitu, masihkah menaruh kepercayaan atas tawaran gencatan senjata yang ditawarkan sebagai solusi perdamaian Gaza?
Dunia terlalu naif, percaya dengan janji-janji gencatan senjata yang ada. Padahal nyatanya yang terjadi justru Zionis Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian gencatan senjata, tanpa peduli lagi dengan perjanjian tersebut.
Belum lagi terkait Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang merupakan inisiasi Presiden AS, Donald Trump, yang mana sebagai tandingan Dewan Keamanan PBB yang ia nilai gagal. Dewan ini dibentuk untuk gencatan senjata di Gaza, namun faktanya agresi terhadap warga Gaza Palestina belum berakhir juga.
Karena itu, sejatinya gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel melanggengkan penjajahan di Palestina. Apalagi telah menjadi rahasia umum hak veto Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah kekuasaan lima anggota tetap Dewan PBB, yaitu China, Prancis, Rusia, Inggris Raya, dan Amerika untuk memveto keputusan apa pun.
Pada hakikatnya pun BoP dan PBB ibarat kata saudara yang tidak akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara Israel dan Palestina. Apalagi menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), negara utama pemasok senjata yang membantu Israel dalam melakukan agresi ke Palestina adalah Amerika Serikat (AS).
Selain itu, penguasa negeri-negeri muslim nampak tak mempunyai nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel, dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas. Bahkan, mereka rela bergabung dalam BoP.
Sikap umat mestinya tegas, zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Bukankah Allah Taāala berfirman dalam Surah Ali-Imran ayat 118 yang artinya,
āHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya membuat kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.ā
Jadi masihkah kita percaya terhadap janji-janji perdamaian yang disampaikan oleh penjajah daripada apa yang difirmankan Allah?
Karena itu, kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir yang selama ini telah membuat kerusakan dan banyaknya jiwa yang melayang, karena tak mampu melawan disebabkan tak adanya kekuatan yang sepadan.
Dari itu, sebagai kaum muslim yang mendambakan kemerdekaan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat Palestina khususnya dan kaum muslim di seluruh penjuru dunia umumnya, jelas tidak bisa berharap pada dewan perdamaian bentukan pro penjajah atau penjajah itu sendiri, karena hal itu bersifat semu.
Dengan demikian, sungguh sesuatu yang tidak mungkin mengharap pada dewan perdamaian yang ada saat ini, karena sejatinya mereka adalah pendukung penjajah bahkan penjajah itu sendiri, baik secara langsung atau tidak.
Karena itu, sudah saatnya umat ini berjuang mengembalikan aturan-Nya yang mengatur segala aspek kehidupan, yang mana hal itu hanya bisa terealisasi jika umat ini berada dalam bingkai sistem Islam.
Dengan begitu tidak akan ada lagi kezaliman, apalagi genosida yang dirasakan kaum muslim dari para kafir penjajah, sehingga Islam sebagai rahmatan lil āalamin akan dirasakan oleh semua umat manusia. Wallahu aālam. (*)
Penulis:
Fitri Suryani, S. Pd.
(Freelance Writer)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.
















