OPINI—Jumlah korban tewas di Gaza Palestina makin hari kian bertambah. Seolah belum tampak kapan akan berakhir agresi yang mereka alami. Sebagaimana dilaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi Zionis Israel di jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 71.269 orang, sementara 171.232 lainnya mengalami luka (Antaranews, 31-12-2025).
Benar, sejak terjadi agresi telah terjadi berulang kali gencatan senjata, namun berulang kali pula oleh kaum Zionis Israel dilanggar. Maka tak berlebihan jika gencatan senjata tersebut hanyalah ilusi, karena Israel terus membunuhi warga Gaza Palestina.
Belum lagi Zionis Israel membatasi hingga mencegah masuknya truk bantuan medis dan bahan-bahan tempat berlindung. Pun bantuan makanan, sehingga hal ini menyusul dikeluarkannya laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu oleh Badan PBB, yang memperingatkan bahwa setidaknya 1,6 juta orang di Gaza menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi hingga pertengahan April 2026 (Republika, 23-12-2025).
Ya, penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus belangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui ataupun tidak oleh dunia. Apalagi Israel merupakan negara dengan banyak pendukung dan pendukung utamanya adalah Amerika serikat. Dukungan tersebut baik dari segi militer, ekonomi, diplomatik, intelijen dan strategi.
Begitu juga tindakan mengutuk dan memohon kebaikan Israel membuka bantuan kemanusiaan tak cukup untuk membebaskan penderitaan rakyat Palestina.
Pun dunia tak bisa berharap lagi pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walau tujuan PBB di antaranya, menjaga perdamaian dan keamanan dunia dan menyediakan bantuan kemanusiaan apabila terjadi kelaparan, bencana alam, dan konflik bersenjata. Sayang itu hanya sebatas teori di atas kertas, sebab PBB dikuasai oleh para pemegang hak veto di antaranya Amerika Serikat.
Sungguh kaum muslim Gaza tak tahu lagi akan meminta bantuan ke mana untuk mengakhiri derita mereka. Sebab kaum muslim lainnya tak berdaya untuk membantu menyudahi persoalan genosida dari Zionis Israel laknatullah dan sekutunya.
Beginilah nasib umat akan terus terpuruk selama tidak ada pelindung bagi kaum muslim di manapun, sehingga kaum muslim akan selalu terzalimi di mana saja. Ya, kaum muslim jumlahnya banyak, tapi mereka tak memiliki kekuatan. Mereka ibarat buih di lautan. Begitulah yang pernah disampaikan Rasulullah.
Padahal umat islam digambarkan bagaikan satu tubuh. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis tersebut mengajarkan bahwa kaum mukmin semestinya mampu merasakan penderitaan dan kesulitan yang dialami saudaranya yang lain. Sembari berusaha supaya penderitaan dan kesulitan saudaranya itu berkurang hingga hilang semuanya.
Lalu bagaimana dengan keadaan kaum muslim hari ini, apakah telah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.? Apabila melihat penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina tampaknya usaha yang dilakukan umat muslim di negeri lain tak nampak berarti. Karena bantuan yang diberikan tidak untuk menghilangkan penderitaan yang mereka alami, tetapi lebih pada bantuan pengobatan, makanan dan yang menujang kehidupan mereka.
Dari itu, sudah semestinya kaum muslim bersatu untuk berupaya membantu saudara mereka. Terutama mengirimkan tentara kaum muslim dalam membantu melawan Zionis Israel. Umat juga harus meningkatkan tuntutannya dengan menuntut bantuan militer untuk menghentikan genosida di Gaza. Hal itu pun didukung oleh pemimpin yang merupakan perisai. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,
“Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR. Muslim). Hal itu tentu hanya mampu direalisasikan, jika aturan Allah Swt. dapat diterapkan dalam seluruh kehidupan.
Dengan demikian, sulit menyelesaikan kezaliman dan genosida rakyat Palestina, jika sistem yang ada jauh dari harapan umat. Dari itu sudah saatnya militer negeri-negeri muslim bersatu untuk mengenyahkan penjajah dari tanah Palestina dan hal itu hanya mungkin terjadi jika umat ini berada dalam naungan sistem islam, sehingga dengan begitu tidak ada lagi umat yang tertindas. Wallahu a’lam. (*)
Penulis:
Fitri Suryani, S.Pd.
(Freelance Writer)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

















