OPINI—Selama berabad-abad, Sulawesi berkembang sebagai kawasan maritim. Laut menjadi jalan raya utama yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan, pusat perdagangan, dan komunitas antarpulau.
Namun, memasuki abad ke-21, daya saing suatu wilayah tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan pelabuhan, melainkan juga oleh kemampuan membangun konektivitas darat yang efisien.
Dalam konteks itulah, kehadiran Kereta Api Makassar–Parepare bukan sekadar proyek transportasi, tetapi tonggak baru yang berpotensi mengubah struktur ekonomi Sulawesi Selatan.
Jalur rel ini dapat menjadi fondasi revolusi logistik yang memperkuat integrasi pasar, menurunkan biaya distribusi, dan membuka pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Kota Makassar.
Di Indonesia, pembangunan kereta api di luar Pulau Jawa memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menyediakan moda transportasi baru. Ia merupakan simbol pemerataan infrastruktur nasional sekaligus upaya mengurangi ketimpangan biaya logistik antardaerah.
Jika dikelola secara konsisten dan diintegrasikan dengan pelabuhan, kawasan industri, serta sentra pertanian, Kereta Api Makassar–Parepare dapat menjadi lokomotif transformasi ekonomi Sulawesi.
Ekosistem Perdagangan
Sejarah memperlihatkan bahwa perkembangan suatu wilayah selalu berkaitan erat dengan sistem transportasi yang dimilikinya. Fernand Braudel (1982) menjelaskan bahwa perdagangan hanya dapat berkembang apabila tersedia jaringan distribusi yang efisien.
Dalam sejarah Nusantara, Sulawesi Selatan telah lama dikenal sebagai kawasan maritim yang aktif. Anthony Reid (1988) menunjukkan bahwa pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat Sulawesi memainkan peranan penting dalam perdagangan rempah, beras, hasil hutan, dan komoditas laut yang menghubungkan kawasan timur Indonesia dengan Jawa, Maluku, hingga Asia Tenggara.
Makassar, khususnya sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo, tumbuh sebagai salah satu pelabuhan internasional terbesar di Nusantara. Sejarawan Leonard Y. Andaya (1981) menunjukkan bahwa keterbukaan Makassar terhadap berbagai pedagang dari Asia menjadikannya pusat distribusi barang dan budaya.
Tradisi perdagangan tersebut kemudian diwarisi hingga masa modern ketika Makassar berkembang menjadi pusat ekonomi kawasan Indonesia Timur.
Meski demikian, kekuatan maritim Sulawesi selama ini belum sepenuhnya didukung oleh jaringan transportasi darat yang efisien. Distribusi barang dari daerah produksi menuju pelabuhan masih sangat bergantung pada angkutan jalan raya.
Akibatnya, biaya logistik menjadi tinggi, waktu tempuh lebih lama, dan risiko kerusakan barang meningkat, terutama untuk komoditas pertanian yang mudah rusak.
Di sinilah arti penting Kereta Api Makassar–Parepare. Jalur ini merupakan proyek perkeretaapian pertama di Pulau Sulawesi dan bagian dari rencana besar pengembangan jaringan rel lintas Sulawesi.
Secara ekonomi, kehadiran kereta api akan memperluas konektivitas antara kawasan produksi di utara Sulawesi Selatan dengan Pelabuhan Makassar dan pusat konsumsi regional. Dengan kapasitas angkut yang besar, moda kereta api mampu menurunkan biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi barang.
Infrastruktur Ekonomi
Douglass North (1990) menegaskan bahwa infrastruktur merupakan bagian dari institusi ekonomi yang menentukan produktivitas jangka panjang. Infrastruktur transportasi bukan sekadar aset fisik, melainkan mekanisme yang mengurangi biaya transaksi, memperluas akses pasar, dan mendorong investasi.
Dalam konteks Sulawesi Selatan, jalur kereta api dapat memperkuat hubungan antara sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, dan pelabuhan. Paul Krugman (1991), melalui teori New Economic Geography, menjelaskan bahwa konektivitas akan menciptakan efek aglomerasi.
Ketika biaya transportasi menurun, perusahaan cenderung berkumpul di wilayah yang memiliki akses pasar lebih luas. Efek tersebut meningkatkan produktivitas karena pelaku usaha memperoleh kemudahan mendapatkan bahan baku, tenaga kerja, serta jaringan distribusi.
Jalur Makassar–Parepare memiliki potensi menciptakan koridor ekonomi baru yang menghubungkan kawasan industri, pergudangan, sentra pangan, dan pelabuhan.
Potensi tersebut sangat relevan bagi struktur ekonomi Sulawesi Selatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa provinsi ini merupakan salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi padi, jagung, serta komoditas hortikultura yang besar.
Selain itu, Sulawesi Selatan juga memiliki sektor perikanan, peternakan, dan industri pengolahan yang terus berkembang. Persoalannya bukan terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada efisiensi distribusi.
Ketika biaya logistik tinggi, daya saing komoditas lokal menjadi lebih rendah dibandingkan produk dari daerah lain.
Dari perspektif ekonomi pembangunan, Michael Porter (1990) menyatakan bahwa daya saing suatu wilayah tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada kualitas infrastruktur yang mendukung aktivitas produksi.
Kereta api memungkinkan terbentuknya klaster ekonomi baru di sepanjang koridor rel. Kawasan pergudangan, industri pengolahan hasil pertanian, pusat distribusi logistik, hingga kawasan industri dapat berkembang karena memperoleh akses transportasi yang lebih murah dan stabil.
Namun, pembangunan infrastruktur tidak hanya mengubah ekonomi. Dari perspektif antropologi, transportasi juga mengubah hubungan masyarakat dengan ruang.
Clifford Geertz (1963) menunjukkan bahwa perubahan aksesibilitas sering kali diikuti oleh perubahan pola mata pencaharian, migrasi, dan struktur sosial. Desa-desa yang sebelumnya relatif terisolasi akan lebih mudah terhubung dengan kota.
Petani memperoleh akses pasar yang lebih luas, sementara masyarakat memiliki peluang kerja baru di sektor jasa, perdagangan, maupun industri.
Anthony Giddens (1990) menyebut modernitas sebagai proses yang mempercepat mobilitas manusia, modal, dan informasi. Kehadiran kereta api mempercepat proses tersebut.
Masyarakat tidak lagi melihat Makassar sebagai pusat yang jauh, tetapi sebagai bagian dari ruang ekonomi yang dapat diakses setiap hari. Hubungan desa dan kota menjadi semakin intensif, memperkuat integrasi ekonomi regional sekaligus memperluas kesempatan sosial.
Meski demikian, revolusi logistik tidak akan terjadi secara otomatis hanya karena rel kereta telah dibangun. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan kereta api sangat bergantung pada integrasi dengan moda transportasi lain.
Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok berhasil menjadikan kereta api sebagai tulang punggung logistik karena jalur rel terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, dan terminal barang.
Sulawesi Selatan perlu mengembangkan pendekatan serupa agar jalur Makassar–Parepare tidak hanya berfungsi sebagai angkutan penumpang, tetapi juga menjadi koridor logistik multimoda.
Studi empiris menunjukkan biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara. Karena itu, setiap peningkatan efisiensi transportasi akan berdampak langsung terhadap daya saing ekonomi daerah.
Koridor Makassar–Parepare dapat menjadi model bagi pengembangan jaringan logistik Sulawesi apabila didukung oleh terminal peti kemas, dry port, kawasan industri, dan sistem distribusi digital yang terintegrasi.
Ke depan, pengembangan jalur ini juga perlu diarahkan menuju pelabuhan strategis, kawasan industri, serta sentra produksi pangan. Perpanjangan jaringan ke wilayah lain di Sulawesi akan memperkuat integrasi ekonomi antardaerah dan mengurangi ketimpangan pembangunan.
Dani Rodrik (2016) mengingatkan bahwa transformasi ekonomi memerlukan peningkatan produktivitas sektor riil. Infrastruktur transportasi menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut karena menghubungkan produksi dengan pasar secara lebih efisien.
Pada akhirnya, Kereta Api Makassar–Parepare bukan sekadar simbol kemajuan teknologi transportasi. Ia merupakan investasi jangka panjang yang berpotensi mengubah struktur ekonomi Sulawesi Selatan.
Sejarah mengajarkan bahwa kota-kota besar selalu tumbuh di sekitar jaringan perdagangan dan transportasi. Kini, Sulawesi memiliki kesempatan untuk membangun babak baru melalui jaringan rel yang menghubungkan pelabuhan, kawasan industri, sentra pertanian, dan masyarakat.
Jika pengembangannya dilakukan secara konsisten, disertai integrasi logistik dan kebijakan industri yang tepat, jalur Makassar–Parepare akan menjadi awal revolusi logistik Sulawesi.
Jalur ini menjadi fondasi yang tidak hanya mempercepat arus barang dan manusia, tetapi juga memperkuat daya saing kawasan timur Indonesia dalam peta ekonomi nasional maupun Asia-Pasifik. (*)

Penulis:
Haris Zaky Mubarak, MA
(Analis, Konsultan, Peneliti, Sejarawan, dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











