Advertisement - Scroll ke atas
Budaya

Sarita Toraja, Kain Sakral yang Mengalir dari Ritual Leluhur ke Dunia Modern

108
×

Sarita Toraja, Kain Sakral yang Mengalir dari Ritual Leluhur ke Dunia Modern

Sebarkan artikel ini
Sarita Toraja, Kain Sakral yang Mengalir dari Ritual Leluhur ke Dunia Modern
Dalam tradisi Kaili-Pamona, catatan etnografi, koleksi museum, dan foto-foto lama menunjukkan keberadaan Sarita bahkan sebelum abad ke-15. Nama “Sarita” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sungai, simbol aliran kehidupan dan pemurnian—makna yang sejalan dengan perannya dalam budaya.

RANTEPAO—Di Toraja, kain bukan sekadar penutup tubuh. Ia hidup dalam setiap ritus, menyatu dengan doa, bahkan dipercaya menjadi penghubung manusia dengan leluhur. Salah satu yang paling sarat makna adalah Sarita, kain tradisional yang menyimpan jejak sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya.

Sejak ratusan tahun silam, tekstil telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Nusantara. Dalam tradisi Kaili-Pamona, catatan etnografi, koleksi museum, dan foto-foto lama menunjukkan keberadaan Sarita bahkan sebelum abad ke-15. Nama “Sarita” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sungai, simbol aliran kehidupan dan pemurnian—makna yang sejalan dengan perannya dalam budaya.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Sarita berbentuk kain panjang sempit dengan motif gulungan, sulur, lingkaran, hingga kerbau. Polanya dibuat dengan teknik resist atau tahan warna menyerupai batik. Penggunaan teknik tahan lilin pada Sarita menjadi bukti bahwa teknik membatik telah lama dikenal di Nusantara.

Sejarah mencatat dua jenis Sarita: buatan lokal Sulawesi dan produksi Belanda yang diimpor sekitar 1880–1930. Sejarawan Jacob Cornelis van Leur menyebut Sarita impor dibuat pabrik kapas Fentener van Vlissingen & Co. Ltd. Kain ini dicetak balok kayu, dicelup nila, berlatar biru tua dengan motif putih. Sementara Sarita lokal menggunakan lilin lebah sebagai resist, motif krem natural dengan latar biru tua, serta ciri garis berbintik hasil alat tumpul tradisional.

Peneliti tekstil Gittinger (1982) menemukan Sarita juga diperdagangkan hingga wilayah Kulawi dan dimiliki keluarga bangsawan. Di sana dikenal istilah lotong boko atau “punggung hitam”, merujuk pada warna dasar gelap kain.

Bagi masyarakat Toraja, Sarita bernilai sakral. Kain ini dipercaya menolak roh jahat dan menjadi jembatan dengan leluhur. Dalam ritual sukacita seperti syukuran rumah adat Tongkonan (Mangrara Banua), Sarita disematkan di tiang rumah. Dalam ritual duka Rambu Solo’, fungsinya lebih luas: menjadi tanda pada bendera duka (Tombi), penghias kerbau, penutup peti jenazah, hingga atribut ritual lain.

Kini, Sarita tak hanya hadir dalam lingkaran adat. Ia berkembang menjadi produk budaya dan fesyen, tanpa meninggalkan akar filosofinya. Motif-motifnya diangkat ke busana adat, aksesori, hingga karya seni melalui teknik tradisional dan modern.

Salah satu perajin Toraja, Yarden Tappe, ikut merawat warisan ini. Ia meneruskan keterampilan turun-temurun sembari mengembangkan motif Sarita. Karyanya banyak terinspirasi dari Passura’, bahasa simbol Toraja yang terwujud dalam ukiran.

“Yang saya lukis di setiap kain adalah simbol kehidupan dan budaya Toraja, bisa motif asli Sarita atau pengembangan sesuai imajinasi,” ujarnya.

Salah satu motif yang ia adaptasi adalah Pa’barre Allo, berbentuk matahari yang melambangkan sinar kehidupan—harapan akan kesejahteraan, kedamaian, dan harmoni dengan alam.

Melalui Sarita, masyarakat Toraja “menulis” sejarah, doa, dan filosofi hidup di atas kain. Seperti arti namanya, Sarita terus mengalir—dari ritual leluhur menuju ruang kreatif masa kini, membawa pesan tentang identitas, kehidupan, dan hubungan manusia dengan alam serta Sang Pencipta. (***/Ag4ys)


Citizen Reporter: Anny Maribunna

Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.

error: Content is protected !!