MAKASSAR—Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Aspirasi milik Andi Pasamangi Wawo, Senin malam (7/4/2025), saat para pengurus Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Sektor Manggala bersilaturahmi ke kediaman tokoh yang mereka hormati itu.
Kunjungan ini bukan hanya tentang formalitas organisasi. Di balik obrolan santai dan senyum yang mengembang, tersimpan rasa hormat mendalam dan harapan besar terhadap masa depan FKPM.
Ketua FKPM Manggala, H. Syarif Nasution, SH, MH datang didampingi sejumlah pengurus, Ketua FKPM tingkat kelurahan se-Kecamatan Manggala, serta dua personel Bhabinkamtibmas: Aiptu Faizal, S.Sos dan Aipda Arham, SH. Mereka datang tak sekadar bertamu—mereka membawa semangat Idulfitri dan ingin mendengar langsung nasihat dari sosok yang sudah belasan tahun bergelut dalam kemitraan bersama kepolisian.
“Pak Andi ini bukan orang baru bagi kami. Ia bukan hanya penasehat, tapi juga panutan sejak lama. Sejak 2006 sampai 2023 beliau menjadi koordinator FKPM di Manggala. Pengalamannya luar biasa,” tutur H. Syarif usai pertemuan.
Andi Pasamangi Wawo, yang kini menjabat sebagai Koordinator FKPM Resor Kotabes Makassar berdasarkan SKEP Kapolrestabes Makassar, menyambut hangat kehadiran tamu-tamunya. Baginya, kunjungan seperti ini adalah penguat semangat—bahwa FKPM adalah rumah bersama, bukan sekadar struktur organisasi.
“Kita ini mitra. Kalau tidak ada komunikasi yang tulus dan hangat, FKPM bisa kehilangan ruhnya,” ujar jurnalis senior Sulsel itu.
Dalam perbincangan yang berlangsung akrab, Andi menyampaikan bahwa akan segera digelar pertemuan besar yang mempertemukan seluruh Ketua FKPM tingkat kecamatan se-Kota Makassar. Agenda utamanya adalah menyusun program kerja jangka pendek hingga jangka panjang, serta merumuskan PD/PRT sebagai dasar pijakan yang lebih kokoh.
“FKPM ini dibentuk atas dasar keputusan Kapolri, tapi PD/PRT-nya bisa kita sesuaikan dengan kearifan lokal,” tambahnya.
Silaturahmi malam itu bukan hanya mempererat hubungan antaranggota, tapi juga menjadi momentum kebangkitan semangat kolektif. Ketika para pemimpin lokal mau duduk satu meja, saling mendengar dan merangkul, itulah awal dari perubahan yang nyata. (4pw/Ag4ys)


















